Ingat! Tugas Guru Bukan Semata-mata Mengajar

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

“At-ta’alum bi al-ta’lim” kalimat itu seringkali terdengar di lingkungan pondok pesantren (baca ponpes). Khususnya ponpes yang saya tinggali. Kalimat tersebut juga banyak terucap oleh alumninya yang mengabdikan diri, tenaga dan pikirannya untuk kepentingan ponpes. FYI, saya termasuk alumni-alumni yang juga menjadi guru abdi. Motto kita dalam mengabdi adalah ‘bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan’.

Sudah barang tentu seorang guru memikul tanggung jawab dalam proses ta’lim, dan tarbiyyah, termasuk bagi saya. Dalam prosesnya semua itu senantiasa berdampak positif bagi diri saya secara pribadi. Apa yang saya ajarkan secara tidak langsung juga menjadi pelajaran bagi diri saya. Menjadi guru itu sesungguhnya bukan hanya mengajar tapi juga belajar.

Saya pribadi banyak mendapat ilmu dari proses mengajar. Bukan hanya ilmu yang bersifat kognitif-akademik tapi juga pengalaman yang melahirkan banyak kesadaran baru dalam diri. Mulai dari proses mengajar, menemani, mengarahkan dan membimbing murid banyak hal lainnya. Dari situlah saya jadi mengerti tentang kehidupan, mengenal kesabaran, keuletan, perjuangan dan makna dari sebuah proses yang tidak sebentar. Maka sesungguhnya di situlah tantangan seorang guru.

Jiwa Seorang Guru

Hemat saya, yang paling penting dalam proses belajar dan mengajar yaitu jiwa guru atau pendidik. Jiwa seorang guru sangatlah menentukan kegiatan belajar mengajar. Seorang guru akan memiliki semangat, tekad, dan visi misi pembelajaran ketika ia memiliki jiwa. Atau dalam hal ini bisa diartikan motivasi. Sederhananya, seorang guru yang memiliki motivasi belajar dan mengajar maka ia akan berusaha menyiapkan materi-materi yang ingin diajarkan dengan sebaik-baiknya persiapan.

Bagi tipe guru seperti ini yang dipikirkan hanyalah bagimana agar murid-murid yang belajar mengerti dan memahami. Motivasi untuk mencerdasakan kehidupan agama dan bangsa yang menggerakkan mereka. Abdullah Syukri Zarkasyi pernah berkata bahwa menjadi manusia haruslah sibuk berfikir keras, bekerja keras, bersabar keras dan berdo’a keras. Apalagi menjadi seorang tentu membutuhkan itu semua sebagai bekal berjuang di alam pendidikan. Kata Imam Zarkasyi kalau kamu mengajarkan suatu mata pelajaran, berusahalah menjadi profesor dalam mata pelajaran itu.

Kiranya kita juga perlu memahami kembali semboyan Ahmad Dahlan yang menarik, hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Secara implisit mengandung pesan bahwa kita harus berjuang dalam kebaikan di berbagai medan tanpa pamrih. Jiwa yang ikhlas adalah bahan bakar perjuangan dan kemajuan sebuah pendidikan, tanpanya tidak akan menjadi apa-apa bahkan tidak lain hanya kehancuran.

Seorang guru yang tidak memiliki jiwa atau motivasi atas segala tanggung jawabnya. Alih-alih ingin menciptakan sebuah proses pembelajaran yang baik dan tersampaikan ke murid,  yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan hanya proses pembelajaran saja yang mandek dan tidak tersampaikan, namun secara garis besar pendidikan menjadi statis. Tidak ada transfer of knowledge apalagi transfer of value.

Tentu hal ini menjadi PR bersama yang membutuhkan perhatian serta penyelesaian yang dini. Jika tidak, pendidikan sebagai pondasi bangunan peradaban yang maju hanya sekedar utopia belaka. 

Figur Guru Sejati

Terkait motivasi pengajar kita semua harus belajar dari para pendahulu, para pahlawan tanpa tanda jasa. Bersama keutuhan jiwa dan raga mereka berjuang untuk mencerdaskan generasi bangsa. Mengaktualisasikan cita-cita luhur yang tertuang dalam UUD 45. Yaitu salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Misalnya, Ki Hajar Dewantoro merupakan firgur sejati seorang guru yang memiliki dedikasi dan perhatian besar terhadap pendidikan. Pada masanya beliau berujang agar tercapaiannya sebuah pendidikan yang merata. Salah satu buktinya dengan mendirikan sekolah taman siswa untuk rakyat jelata. Melalui lembaga itu beliau mencerdaskan rakyat Indonesia sehingga namanya harum diabadikan sebagai pahlawan.

Semboyan beliau yang populer pada saat itu, “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Secara implisit semboyan tersebut setidaknya mengandung tiga pesan. Pertama, bahwa seorang guru di depan muridnya haruslah memberi contoh, suri tauladan dan qudwah. Kedua, kala di tengah-tengah muridnya seorang guru juga harus senantiasa memberi semangat. Terakhir, ketika guru berada di belakang muridnya, ia haruslah senantiasa memberikan dorongan.

Ketiga pesan tersebut kiranya yang harus dijiwai oleh para pendidik saat ini. Dengan penuh khidmat dan rasa tanggung jawab tanpa mengenal pamrih dalam mengajar dan memberikan pendidikan bagi murid.

Ikhlas = Maju

Terkait jiwa ada hal menarik yang saya dapati di ponpes saya. FYI, ponpes di mana saya belajar dan mengajar termasuk tipe ponpes modern (kholafi). Bisa juga dikatakan sebagai pondok alumni Darussalam Gontor. Yang menjadi menarik menurut saya adalah istilah jiwa pondok (atau biasa disebut panca jiwa). Apa itu panca jiwa? Ia adalah pilar pembelajaran dan pendidikan serta seluruh aspek yang menyangkut murid sekaligus guru (ustad).

Di antara panca jiwa yang menjadi landasan utama adalah keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, kebebasan, ukhuwah Islamiyah dan ketaatan pada kiai (syariat). Nilai-nilai tersebut secara kental dapat saya rasakan sebagai seorang murid ataupun guru. Ditambah figur utama yang menjadi panutan yaitu kiai (Dawam Saleh) yang mana ia sacara lahir dan batin senantiasa berada di depan memberi suri tauladan.

Tentu guru atau secara garis pendidikan yang ideal dan dicita-citakan akan tumbuh dari rahim lembaga-lembaga yang memiliki jiwa. Saya sangat merasakan begitu mendarahnya jiwa tersebut di dalam diri kiai, sehingga tidak jarang terucap kalimat bahwa kemajuan hanyalah milik orang-orang yang ikhlas. Pasalnya yang mereka perjuangkan adalah nilai bukan materi, kualitas bukanlah kuantitas, kemajuan bukan ketamakan untuk segelitir orang.

Salamku untuk Rana, partner terbaik.

Bagikan:
Penulis 7 Tulisan

Shafnee Ulwan

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Dan Sains Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan. Guru Abdi di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

Leave a Comment