Ibu dan Cerita Anak
Perayaan hari Ibu di Indonesia diperingati setiap tanggal 22 Desember, termasuk tahun 2020. Perayaan ini dilaksanakan juga di dunia dengan bulan dan tanggal yang berbeda, seperti di Thailand, Malawi, Qatar, India, Polandia, dan lain-lain. Beragam wujud acara dilakukan saat momen ini. Adapun salah satu tujuan memperingati hari ibu yaitu sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan dewasa yang bernama ibu atas perannya dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat, mapun negara.
Kenyataannya, sosok ibu selama ini memang sangat dekat dengan kehidupan setiap manusia. Ibu yang mengandung, melahirkan, dan merawat dari kecil hingga dewasa. Ibu bersama dengan ayah memiliki fungsi sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya hingga menjadi manusia yang memiliki karakter. Karakter berkaitan dengan cara pikir, kebiasaan, dan tindakan yang baik.
***
Sehubungan dengan hal ini, Lickona (2012) menyatakan bahwa karakter memiliki tiga bagian penting yang berhubungan dengan pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal-hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik-kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. KBBI (2008) menyebutkan karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; tabiat; watak.
Seorang ibu dapat menanamkan berbagai macam karakter kepada anak-anak, baik secara lisan maupun tulis. Salah satunya melalui cerita yang memiliki nilai-nilai kearifan bagi tumbuh kembang anak . Cerita tersebut dapat berupa dongeng pengantar tidur yang biasanya dibawakan oleh seorang ibu kala mengantar buah hatinya ke peraduan. Cerita kanak-kanak mungkin masih kita ingat sampai sekarang, kala dahulu ibu membuai dengan begitu mengasyikan hingga kita terlelap tanpa sadar.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa cerita anak memang dapat digunakan sebagai sarana edukasi bagi anak. Adapun secara teori yang menyatakan bahwa cerita anak ini akan mampu memberi dampak positif. Ampera (2010)yang menyebutkan bahwa cerita anak akan membawa dampak seperti anak akan lebih memahami nilai kehidupan sosial kemasyarakatan, mampu melakukan serangkaian kognisi dan afeksi, mulai interpretasi, komprehensi, hingga inferensi terhadap nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, selain itu anak memperoleh pengetahuan budaya, serta mampu memenuhi kebutuhan batin anak akan keindahan.
Dengan demikian, artinya melalui cerita ini anak dihibur, dididik, dan mengetahui adat kebiasaan masyarakat sekitar. Pendapat ini bukan tanpa dasar. Banyak penelitian yang telah membuktikannya dan menemukan nilai-nilai karakter dalam cerita anak. Nilai tersebut antara lain berhubungan dengan nilai kebaikan, nilai kecerdasan, nilai berbakti, dan lain sebagainya.
***
Salah satu dongeng anak yang dapat dijadikan materi pembelajaran nilai yang membentuk karakter yang dimaksud yaitu cerita Timun Mas. Timun Mas seorang anak yang baik hati. Dia sangat disayangi dan menyayangi ibunya. Suatu ketika, Timun Mas diceritakan sedang dikejar raksasa untuk dimakan. Segala upaya dilakukan Timun Mas hingga mampu membuat raksasa tenggelam dalam lumpur akibat perbuatannya sendiri.
Cerita Timun Mas ini memiliki salah satu satu nilai pesan yang secara tidak langsung memberi ajaran dalam membentuk karakter yang baik yaitu jangan berbuat kejahatan sebab nanti akan mendapatkan balasan yang merugikan sebagaimana yang terjadi pada raksasa. Anak yang menerima ajaran ini akan mengetahui dan memahami sejak dini bahwa akibat dari sebuah perbuatan yang jahat dapat membawa keburukan terhadap hidup mereka.
Adapun contoh cerita lainnya yaitu tentang Kancil dan Buaya. Berulang kali ibu menceritakan kisah ini, namun tiada bosan kita dengarkan dengan penuh imajinasi. Melalui cerita ini kita membayangkan dan mendengarkan dengan seksama, bagaimana kancil yang memiliki tubuh kecil dan lemah bisa mengalahkan buaya yang bertumbuh besar dan kuat melalui kemampuannya dalam berargumen.
Dari cerita ini kita dapat menanamkan nillai karakter antara lain yaitu kesuksesan dapat diraih melalui kecerdikan tanpa memandang besar kecilnya badan. Sehubungan dengan hal ini, ibu telah menanamkan kepada anak-anak bahwa kecerdasan lebih utama dari kekuatan fisik semata. Anak menjadi terpacu untuk meningkatkan kemampuannya agar menjadi lebih pandai dalam berbicara dan berpikir.
***
Contoh berikutnya, Cerita Malin Kundang. Malin Kundang yang awalnya anak penurut menjadi angkuh karena memiliki kekayaan dan kekuasaan. Anak tersebut akhirnya menjadi patung batu akibat tidak mengakui perempuan yang telah melahirkannya tersebut sebagai orang tua. Dia durhaka kepada ibunya yang tidak memiliki harta apa-apa. Cerita ini memberi pengetahun moral bahwa jangan bersikap angkuh atau sombong, apalagi terhadap seorang ibu. Ibu tetap ibu bagaimanapun keadaanya. Sikap buruk yang diberikan seseorang kepada seorang ibu akan membawa petaka terhadap diri dan keluarga.
Berdasarkan paparan sederhana di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak dapat dipungkiri, ibu merupakan salah satu sosok yang mampu menanamkan nilai moral anak sejak dini. Entah itu disadari atau tidak. Penanaman moral yang dilakukan secara nonformal ini melalui cerita pengantar tidur sebagaimana yang dicontohkan, sebenarnya membawa dampak besar terhadap karakter anak-anak dalam menjalani kehidupan.
Cerita yang baik dan menginspirasi, salah satunya akan membawa pengaruh yang baik pula terhadap perkataan dan perbuatan anak hingga ke masa depan, termasuk terbentuknya jalinan emosional yang erat antara ibu dan anak itu sendiri.
ASN yang berdomisi di Jalan Sungai Kacang, kelurahan sekumpul, Martapura,no. 20. Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan
