Budaya Membaca Ala Milenial
Tahukah sobat muda milenial, apa pentingnya membaca bagi kita?
Ya, membaca seperti membuka jendela dunia. Dengan membaca kita akan mendapatkan narasi cerita, kisah perjuangan, keberhasilan tokoh, temuan dan masih banyak hal yang menggugah kehidupan semesta.
Namun sayangnya, dari sekian negara, budaya membaca masyarakat Indonesia masuk dalam kategori rendah. Berdasarkan data UNESCO, minat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang giat membaca. Benarkah demikian? Mari Sobat muda kita telusuri.
Sebuah riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, yang dilakukan oleh Central Connecticut State University; Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dengan minat membaca. Data tersebut menjadi sangat kontras apabila kita melihat realitas anak muda yang masih giat dengan literasi. Baik itu berupa pameran, kajian dan upaya digitalisasi yang semakin update seperti sekarang.
Jika memang realitas ini yang ada di masyarakat. Lantas apa yang mampu diupayakan untuk menggugah kembali budaya baca sobat muda milenial?
Mulai dari Keluarga
Budaya membaca dapat dimulai sedari dini dan sederhana yakni dari lingkungan keluarga, masyarakat dan sekitar. Ruang pojok baca sudah tersebar di mana-mana dan menjadi gerakan penguatan literasi.
Contoh konkretnya di masyarakat, perpustakaan keliling dari pemkot Yogya yang mana sebelum pandemi terjadwal rutin; berkeliling ke sejumlah tempat seperti panti asuhan, pondok pesantren dan lainnya.
Kegiatan ini masih terus berjalan di masa pandemi, meskipun memiliki aturan yang lebih ketat terkait dengan pelayanan dan protokol kesehatan.
Menurut seorang psikolog bernama Gilbert Highest, bahwa kebiasaan atau habit sebagian besar dibentuk dari lingkungan keluarga. Sebab lingkungan keluarga merupakan yang penyesuaian atau adaptasi itu berjalan.
Sehingga, benar adanya jika para penulis menganjurkan pembiasaan membaca dikuatkan sedari anak, untuk memulai tahapan mengenal dan belajar. Berapa banyak penulis itu terlahir dari pembiasaannya bercerita dan berapa pula tokoh bangsa terlahir; sebab dari penguatan narasi yang dituliskannya hingga menjadi tinta emas negeri ini.
Tips Kembangkan Budaya Membaca
1. Sebagai generasi penggerak, sobat muda milenial dapat menggugah kesadaran dalam membangun budaya baca dengan memulai dari disiplin diri. Yaitu disiplin untuk memiliki Me Time atau menyempatkan waktu membaca walaupun dengan ragam dan caranya.
Seperti belajar secara virtual, di mana dalam kondisi saat ini bisa belajar tentang pengetahuan apa saja. Pergunakan dan manfaatkan waktu untuk kebaikan.
2. Mengusahakan memiliki referensi atau acuan dalam belajar koleksi buku-majalah-maupun penunjang ketrampilan yang lain, secara fisik maupun non fisik. Yang nantinya, akan hadir di ruang terkecil bernama perpustakaan pribadi di rumah, di kos, di base camp, di manapun sobat muda bergeliat.
Perpustakaan meskipun bersifat pribadi namun nilai kemanfaatannya dapat dirasakan pula oleh kerabat, tetangga dan siapapun yang membutuhkan.
3. Pembiasaan belajar berkelompok atau memiliki komunitas menjadikan pembelajaran awal dalam membangun jaringan. Dengan sesama teman dapat saling membantu dan membangun peradaban bersama menuju pencerahan. Melalui aktivitas storytelling misalnya dapat merekam komunikasi, mencerna ide dan memahamkannya melalui aksi.
…
4. Bertukar cerita atau berbagi informasi dapat diupayakan sebagai satu cara untuk mengasah empati dan simpati dalam membangun kesadaran akan arti pentingnya membuka wawasan dan pengalaman hidup.
Dengan komunikasi antar anggota keluarga, orang tua misalnya berdiskusi tentang rutinitas atau kegiatan keseharian. Dan sekali lagi, kegiatan membaca tidak hanya sekedar memegang buku; namun bagaimana proses transformasi ilmu itu bisa berjalan dalam bentuk pendapat, bertukar ide/ gagasan, sanggahan dan lainnya.
5. Berkegiatan tambahan. Misalnya bagi yang memiliki hobi atau minat bakat yang potensial menjadi aset penting bagi sobat muda milenial untuk senantiasa energik dalam berkegiatan dan bermanfaat bagi lingkungan.
Kegiatan ini dapat berkembang dengan melatih kreativitas sastra seperti mengikuti maupun menyelenggarakan kegiatan perlombaan puisi, sinopsis, mendongeng dan lainya yang melatih kemampuan dalam membuat karya.
6. Pembiasaan produktif dalam rutinitas baca, misalnya berkunjung ke ruang baca/ perpustakaan, toko buku, galeri buku dan berbagai forum ilmiah/kajian yang mampu memantik dalam pembelajaran, meskipun dengan durasi waktu yang terbatas namun diusahakan terus dilakukan dengan tertib diri/disiplin diri.
Demikian sobat muda milenial, betapa penting dan bermanfaatnya budaya membaca. Pembiasaan ini selain menjadikan wawasan kita luas juga dapat melatih pusat kecerdasan kreatifitas bahasa menjadi semakin meningkat. Semoga

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
