f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
negeriku

Haru Pilu Negeriku



Dari manusia, untuk manusia.
Laut hanya ingin mengembalikannya.
Sampah yang terbuang disana.
Ia rasa bukan miliknya.
Tubuhnya yang meluap.
Beserta air yang menerjang.
Luluh lantak dibuatnya.
Alam sedang marah, katanya.

Daratan pun demikian,
Semua hancur dengan kekuatan.
Bumi dipenuhi tangisan.
Oleh mereka yang kehilangan.
Kiri kanan rata tanpa bangunan.
Banyak raga kehilangan sukmanya.
Tak sedikit yang sengsara.

Si renik juga tak mau kalah.
Si pembunuh yang jago berkilah.
Sungguh pertempuran sengit.
Antara si tak kasat mata,
Dan si raga yang sakit.
Panjang umur para baju putih.
Kerahkan seluruh pengabdian.

Manusia resah dibuatnya.
Kecemasan meraja lela.
Keheranan di mana-mana.
Media pun semakin gila mengemasnya.
Batin terjajah dalam negeri yang merdeka.
Dunia semakin tua, katanya.
Ini sudah zaman edan, timpalnya.

Kegaduhan pun terjadi di angkasa.
Si burung besi, tak mendarat di tempatnya.
Sriwijaya telah mendarat ke surga.
Walau jasadnya tak utuh diterima bumi.
Berpamitan pergi untuk pergi lagi.
Kini giliran mereka yang menunggu,
Dalam alam kekal, dalam keabadian.






Tangisan ibu yang pilu,
Dimana perginya anak dan cucu,
Air mata suami yang mengucur di bandara,
Entah di sudut mana kini istrinya berada,
Beserta duka dari anak-anak,
Yang menunggu kepulangan ayahnya,
Rupanya terlalu jauh mereka berpulang.

Sebuah awal penuh tangisan.
Selepas setahun dalam kesengsaraan.
Rupanya Tuhan masih tak bosan,
Memberi kita ujian kehidupan.
Semua terasa berat,
Tak sedikit yang mengumpat,
Mengapa Tuhan begitu jahat?

Banyak orang sombong dicabut nikmatnya,
Banyak orang baik dipanggil Sang Kuasa.
Tak sedikit yang miskin semakin sengsara.
Tak sedikit yang kaya hilang harta bendanya.
Kehidupan semakin terombang-ambing.
Tipisnya batas antara hidup dan mati.
Musibah yang datang tanpa henti.

Oh, Ibu Pertiwi…
Ragamu yang semakin renta,
Telah memasuki usia senjanya,
Peradaban semakin tua,
Perjalanan hampir sampai di ujungnya.
Kesengsaraan semakin mendera,
Di mana ketentraman itu berada?

Entah di mana bisa kita temui,
Kemerdekaan yang sejati,
Tanpa kecemasan setiap harinya,
Semesta sedang murka,
Entah apa yang direncanakanNya..
Doa baik tak henti dirapalkan,
Untuk ketentraman yang kita rindukan.

Bagikan
Baca Juga  Belum Hari Ini
Comments
  • Elin femila

    Wow bagus sekali❤
    Semoga sukses😊🙏

    Februari 1, 2021
Post a Comment