Mengubur Altar Kenduri
1./
Ibu tidak terendus badan. Di rumah, hanya ada Ayah yang tak peduli pada apapun—tak juga tak perginya aku ke Magrib di mesigit dukuh yang selalunya dibernasi kesepian. Ingin kabur dari altar kenduri dan orang-orang yang menghakimi kelapaan diri, lalu segera bertanya ‘mengapa?’ Aku sebisu batu.
2./
Tetapi aku ini, Fi, aku selalu merindukan Allah di dalam sujud. Walau melihat pintu hijau terbuka dan memuntahkan datuk adalah ketidakmungkinan paling lancang semasa aku hidup—selalu ingin memacari Allah dengan caraku sendiri. Semalam telah dikabulkanNya doa-doa dan aku ingin langkahku nyala.
3./
Gerimis menyempurnakan kebohongan pada diriku sendiri, pada hati. Iqamah sebentar lagi terdengar, dan esok selalu jadi misteri laiknya takdir. Aku tak pernah tahu, apakah hujan akan berhenti atau bakal kian sering jatuh. Saat lengkingan itu merasuki telingamu, daun surga jatuh. Nama siapa?
4./
Peraduan ini melamar, aku bahkan belum pergi berwudhu. Di luar rumah, aroma tanah basah menyublim dan makin betah di dalam ruang ini menyusun puisi-puisi bimbang. Kepalaku dilindas denyutan berkali-kali. Aku libur mencintaimu dan cemas pada masa depan, padahal kemarin peluh sampai di Australia.
5./
Aku ini semustinya; mencari aliran air tanpa campur tangan kaporit, salat jamaah dengan kawan-kawan baru dan membuka bekal yang mati-matian disiapkan Ibu, agar suatu ketika aku bawa pulang seorang gadis berkerudung iman dan mendabik penantiannya. Tapi, kini salat pun bahkan musti bergiliran.
5./
Aku ini semestinya; mencari aliran air tanpa campur tangan kaporit, salat jamaah dengan kawan-kawan baru dan membuka bekal yang mati-matian disiapkan Ibu, agar suatu ketika aku bawa pulang seorang gadis berkerudung iman dan mendabik penantiannya. Tapi, kini salat pun bahkan musti bergiliran.
Buruh pabrik yang gemar menulis puisi.
