f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Hidayah

Hakikat Kemuliaan Seorang Manusia

وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلً

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra (17) : 70


Sebagai mahluk yang diciptakan dengan mengemban misi mulia untuk menjadi pemimpin di muka bumi; manusia diciptakan dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Kelebihan-kelebihan ini selain diciptakan untuk menunjang fungsi dan kinerja manusia sebagai pemimpin di muka bumi.  Ia juga berfungsi sebagai penanda kemuliaan dan meninggikan martabat manusia diatas mahluk yang lain.

Kelebihan Manusia

Satu pertanyaan yang patut kita renungkan kemudian adalah kelebihan apa yang dimiliki manusia sehingga ia meraih kedudukan paling mulia di antara mahluk yang lainnya? Apakah karena kesempurnaan fisiknya, kecukupan rizkinya, ataukah karena dari keturunan nasabnya? Kualitas apa yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain, sehingga Allah membebankan amanah kepada manusia sebagai Khalifah di muka bumi?

Jika kita menelisik kembali ke dalam Al-Qur’an tentang awal mula kisah penciptaan Adam; kita mungkin dapat sedikit menggali jawaban atas hakikat kemuliaan manusia dalam pandangan Islam.

Kisahnya dimulai ketika Allah berfirman kepada malaikat bahwa ia berkehendak untuk menjadikan satu mahluk bernama manusia sebagai Khalifah di bumi. Kehendak tersebut kemudian dipertanyakan oleh para malaikat yang hadir pada waktu itu dan percakapan antara Allah dan para malaikat direkam dalam salah satu ayat Al-Qur’an :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. – Al Baqarah (2) : 30

Baca Juga  Hidup Bertetangga dalam Islam di Masa Pandemi
Manusia sebagai Khalifah

Kekhawatiran malaikat ini didasarkan terhadap kasus mahluk-mahluk sebelumnya yang memikul tanggung jawab sebagai khalifah yang ternyata alih-alih memakmurkan bumi; mereka justru menumpahkan darah dan membawa kerusakan di muka bumi. Barangkali skeptisisme malaikat akan mengatakan bahwa khalifah selanjutnya akan mengulangi kesalahan yang sama. Skeptisisme ini kemudian dilanjutkan dengan keheranan mengapa malaikat yang selalu bertasbih memuji Tuhannya justru dikesampingkan untuk mengisi posisi sebagai Khalifah?

Jawaban Allah SWT terhadap pertanyaan ini sungguh sederhana, bahwa ia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat. Bahwa ada potensi yang dimiliki oleh manusia yang hanya diketahui oleh-Nya dan tersembunyi dari penglihatan malaikat. Dan potensi inilah yang membuat Adam menjadi orang terpilih yang akan mengemban amanat sebagai Khalifah di bumi.

Potensi ini dijelaskan secara lebih lanjut dalam ayat berikutnya, ketika Allah SWT mendemonstrasikan potensi tersebut kepada para malaikat

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” – Al-Baqarah (2) : 31

Potensi Manusia

Tantangan tersebut ditujukan kepada malaikat yang meragukan kapasitas Adam sebagai calon Khalifah kelak. Sebuah tantangan sederhana untuk menyebutkan “nama-nama” benda yang telah ditunjuk-Nya. Tetapi para malaikat pun tidak bisa menjawab pertanyaan Allah tersebut dan mengakui keterbatasan pengetahuan mereka. Menariknya, Adam yang pada awalnya diragukan oleh golongan malaikat mampu menjelaskan “nama-nama” tersebut dan menampilkan potensi terbesar yang dimiliki oleh seorang manusia, yaitu potensi akal dan ilmu pengetahuan.

Dalam banyak karya tafsir, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “nama-nama” dalam ayat tersebut adalah nama dan fungsi dari segala benda, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta ilmu yang mencakup keterampilan yang dibutuhkan agar manusia dapat bertahan hidup di muka bumi.

Potensi dalam bentuk akal dan ilmu pengetahuan inilah yang merupakan kelebihan manusia dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya. Apabila manusia dapat memberdayakan dan memanfaatkan akal dan ilmunya dengan baik maka ia akan mencapai status mulia. Aristoteles pernah mengungkapkan bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah pada akal pikirannya “homo est animal rasionale” (manusia adalah binatang yang berfikir) kalau manusia tdk dapat menggunakan akal pikirannya dengan baik, maka ia tidaklah lebih tinggi derajatnya daripada hewan. Rene Descartes bahkan membawa konsep berfikir ini menjadi dasar eksistensi seorang manusia “cogito Ergo Sum” (aku berfikir, maka aku ada) tanpa proses berfikir maka manusia sejatinya tdk eksis sebagai manusia.

Baca Juga  Tetap Utamakan Adab di Tengah Cepatnya Perubahan Zaman
Kemuliaan Batiniah

Kelebihan akal dan ilmu ini jugalah yang menjadikan Adam terpilih sebagai Khalifah dibandingkan dengan malaikat ataupun iblis. Bahwa pertimbangan Allah dalam memilih kepemimpinan dan wakil Tuhan di bumi, keluasan dan kedalaman akal dan ilmu lebih diutamakan daripada kesalehan ibadah pribadi dari para malaikat, ataupun karena memiliki keturunan “nasab” yang bagus seperti iblis yang merasa lebih baik karena diciptakan dari api.

Dikarenakan Adam memiliki kapasitas keilmuan yang lebih baik daripada mahluk yang lain, maka dirinyalah yang terpilih menjadi Khalifah di bumi. Perintah untuk sujud kepadanya adalah bentuk penghormatan terhadap kualitas potensi keilmuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh Adam.

Kisah Adam juga mengajarkan kepada kita bahwa dalam menilai kualitas dan kemuliaan seseorang bukanlah dari fisik yang baik, keturunan nasab, ataupun standar-standar lain yang sifatnya lahiriah. Kemuliaan sejati hakikatnya terletak pada kedalam ilmu serta kebijaksanaan dalam mengelola nafsu dan godaan.


Kualitas ilmu dan akal yang baik akan mengantarkan manusia kepada kebijaksanaan. Kebijaksanaan membawa kepada kebenaran, dan kebenaran akan membawa kepada ketakwaan.

Maka dari itu sesungguhnya kemuliaan yang sejati bukanlah kemuliaan yang sifatnya lahiriah; tetapi kemuliaan manusia yang sejati terletak pada aspek batiniahnya.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment