Enam Bekal dalam Menuntut Ilmu Versi Nadzom Alala
Menuntut ilmu adalah kewajiban seluruh umat muslim, baik itu ilmu versi duniawi atau akhirat. Namun, sebelum menuntut ilmu seseorang harus mengetahui terlebih dahulu bekal yang harus ia persiapkan. Salah satu rujukan bekal yang bisa diterapkan oleh seorang yang menuntut ilmu (tholabul Ilm) adalah Kitab Alala. Kitab ini menerangkan banyak hal tentang bekal yang harus seorang tholibul ilm miliki. Selain itu, Kitab Alala merupakan kitab populer yang dikaji di sebagian pondok pesantren, khusunya pesantren salafi. Kitab Alala berbetuk tulisan berupa nadzom dengan gaya bahasa yang mudah dipahami; sehingga cocok sekali bagi para pelajar pemula untuk mengkaji kitab ini sebagai dasar bekal menuntut ilmu sebelum ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Adapun bekal-bekal bagi penuntut ilmu yang dijelaskan kitab ini ada enam, yakni sebagai berikut.
Pertama, harus memiliki kecerdasan.
Kecerdasan adalah suatu yang wajib seorang penuntut ilmu miliki, tetapi maksud kecerdasan di sini bukan berarti orang tersebut harus pintar, ber-IQ tinggi, berintelektualitas mumpuni, sehingga orang-orang yang bodoh dan orang yang memiliki intelektualitas rendah itu tidak layak untuk menuntut ilmu. Bukan itu, melainkan kemampuan seseorang untuk dapat berfikir, mengolah pelajarannya, menerapkan ilmu yang ia dapat selama masa belajar, dan lainnya. Sehingga, orang yang bodoh atau memiliki intelektualitas rendah juga dapat menuntut ilmu, karena sejatinya antara pintar dan bodoh adalah hal yang relatif bisa diubah dengan sebuah proses usaha yang dilakukan oleh penuntut ilmu itu sendiri.
Kecerdasan menjadi bekal utama bagi seseorang sebelum menuntut ilmu, sekaligus sebagai dasar atas pilihan ilmu yang sesuai seleranya, misalkan ustadz belajar ilmu agama, hakim belajar ilmu hukum, pengusaha belajar ilmu ekonomi, dan lainnya.
Kedua, harus memiliki semangat yang tinggi.
Selain kecerdasan, seseorang yang sedang menuntut ilmu harus memiliki rasa semangat yang tinggi dalam masa pengembaraan keilmuannya. Pasalnya, rasa semangat akan mempengaruhi diri sendiri untuk melangkah ke majelis ilmu. Jika kita pikir-pikir lagi, memang betul rasa semangat memiliki pengaruh yang spektakuler dalam diri seseorang atas apa yang ia kehendaki; misalnya pelajar yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu, ia akan belajar dengan giat, tekun, dan focus. Berbeda halnya dengan pelajar yang semangatnya setengah-setengah, bahkan cenderung malas; ia akan belajar dengan malas-malasan, masa bodoh, menyepelekan ilmu, dan tidak fokus.
Rasa semangat menjadi bekal penting kedua bagi seseorang yang hendak menuntut ilmu sebagi penyemangat, terutama saat melewati ujian di tengah-tengah pengembaraanya dalam tholabul Ilm .
Ketiga, harus memiliki kesabaran.
Banyak sekali pelajar sekarang yang kurang sabar dalam tholabul Ilm . Terlebih sekarang dengan metode belajar menggunakan gawai. Fokus belajarnya bisa jadi kabur, karena di dalam gawai tersebut ada layanan media sosial, seperti facebook, instagram, dan you tube, atau media hiburan seperti game online yang menjanjikan kesenangan. Hal ini memang sulit dihindari, namun dapat ditangani. Prinsipnya seperti nomor dua, yakni memiliki rasa semangat. Dengan rasa semangat yang seorang pelajar miliki, akan mampu memperkuat kesabarannya dalam menuntut ilmu. Memang berat, namun ingatlah tujuan utama menuntut ilmu adalah menambah wawasan atas apa yang hendak kita capai atau impikan.
Kesabaran adalah proses dari sebuah perjuangan seorang penuntut ilmu dalam mempelajari ilmu yang sedang ia pelajari, di mana penuntut ilmu harus bersabar dalam berperang melawan egoismenya.
Keempat, haruslah mempunyai bekal.
Catatan peting bagi para pendamba ilmu, yaitu bekal. Bekal di sini berupa bekal materi dan non materi. Bekal materi di antaranya uang, alat tulis, tempat tinggal, dan lainnya; sedangkan bekal non materi, yakni kesehatan jiwa, pikiran, dan lainnya.
Peran bekal dalam menuntut ilmu bersifat urgen, selain menjadi sangu dalam belajar, juga menjadi sangu untuk bertahan hidup selama masa mengemban ilmu. Terlebih di zaman sekarang yang sudah modern yang segalanya tidak gratis seperti zaman dulu.
Kelima, haruslah memiliki guru.
Guru adalah sosok yang akan membimbing kita mengenali, memahami, dan memperdalam ilmu yang kita pelajari. Selain itu, guru juga merupakan arsitek pendidikan dalam hidup kita, jika guru yang kita pilih benar dan baik, maka buah yang kita dapat manis, tetapi sebaliknya jika guru yang kita pilih salah dan buruk, maka buah yang kita dapat pahit. Manis berarti kita berada di jalan yang benar, sedangkan pahit berarti kita berada di jalan yang salah.
Sering kita dengar ungkapan bahwa “barang siapa belajar tanpa guru, maka setan adalah gurunya”. Dari ungkapan ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa posisi guru dalam menuntut ilmu sangatlah penting adanya.
Keenam, haruslah lama/membutuhkan waktu.
Mengapa waktu dalam tholabul Ilm haruslah lama? Sebab guna mendapatkan lebih dalam dan luas lagi ilmu yang sedang kita tekuni, selain memperdalam juga mengembangkan intelektualitas wawasan tentang ilmu tersebut. Dengan waktu yang lama, misalnya dalam pondok pesantren seorang santri akan dapat menyerap ilmu yang diajarkan di pesantren dengan baik dan sempurna. Di satu sisi, santri juga dapat penghargaan akan ilmunya dengan mengijazahi sanad keilmuan yang gurunya berikan; yang mana hal ini meripakan impian para santri, di mana sanad tersebut menjadi bukti keilmuan kita sekaligus sanad yang bersambung kepada baginda Rasulullah Saw.
Itulah sederet bekal-bekal versi Kitab Alala untuk para penuntut ilmu (tholibul Ilm).
Wallahua’lam bisshawab.
Mahasiswa Sosiologi, Universitas Negeri Surabaya asal Majalengka. Instagram : @lukyfullin_ & facebook : Luky Fullin.
