Dampak Negatif Penggunaan TikTok
Aplikasi TikTok merupakan salah satu platform musik dan video yang saat ini banyak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya adalah para mahasiswa, baik itu hanya sebagai penikmat hiburan atau konsumen saja maupun sebagai konten kreator.
Pada saat kemuculan awal TikTok yaitu berkisar tahun 2016 dengan sebutan Douyin mengikuti bahasa asalnya China; kemudian saat peluncurannya ke seluruh dunia pada tahun 2017 berubah nama menjadi TikTok.
Proses terbentuknya TikTok sendiri karena banyaknya perspektif konstruksionis sosial, yang artinya berasal dari hasil interpretasi interaksi-interaksisosial sehingga membentuk sense of self terhadap para pengguna dan penontonnya yang tertarik pada suatu konten tertentu yang diminati di TikTok.
Penggemar Tiktok juga semakin melonjak karna fitur-fiturnya yang mudah, praktis dan unik. Pada ikon saat ingin mengunggah video, akan tersedia beberapa filter untuk mencerahkan dan mengganti agar lebih cantik, adapula ikon untuk transisi, zoom, dan ikon unik lainnya agar video terlihat kebih keren
Hal yang membuat TikTok semakin dilirik oleh para pesaing teknologi industri lainnya adalah karena aplikasi hiburan ini memungkinkan semua orang untuk bisa menjadi konten kreator tanpa memandang kalangan, jabatan, kepopuleran; dan ini hanya bergantung pada skill kreatif dalam mengekspresikan konten yang hendak dibagikan.
Kehadiran aplikasi TikTok juga sebagai salah satu bentuk kemajuan komunikasi dalam teknologi modern, di mana dapat saling membagi berita atau suatu informasi ke belahan dunia tanpa bertemu secara tatap muka dan didukung oleh akses dengan bantuan internet menambah kecepatan informasi yang diterima; sehingga telah mampu membuat dunia menjadi semakin mudah digenggam dan dicapai.
Selain pengaruh positif, aplikasi TikTok tidak sedikit juga pengaruh negatif dari adanya konten-konten yang disajikan, dalam penelitian ini ditemukan poin-poin negatif dari pengaruh TikTok:
1. Menyia-nyiakan Waktu
Dengan adanya konten-konten yang bervariasi dalam TikTok menjadikan para pengguna TikTok ini terkadang melalaikan waktu produktif mereka untuk belajar dan melakukan hal positif lainnya.
Berdasarkan penelitian yang di lakukan di Yogyakarta oleh salah satu mahasiswa, haslnya menyebutkan bahwa mahasiswa di Yogyakarta rata-rata yang menggunakan aplikasi TikTok masih dalam batas kewajaran; yaitu dalam kisaran selama tiga jam dalam sehari. Namun di samping mahasiswa pengguna TikTok yang masih dalam batas kewajaran, ada juga mahasiswa yang berlebihan dalam menggunakan TikTok; mulai dari delapan jam sampai sepuluh jam.
Dalam penelitian ini disebutkan, tidak jarang para mahasiwa yang melewatkan waktu produktifitasnya hanya untuk melihat konten-konten yang ada di TikTok. Hal ini perlu diperhatikan lagi untuk para mahasiswa agar dapat memanfaatkan aplikasi TikTok dengan baik.
2. Tidak Dibatasi Umur
Kemudahan dalam mengakses konten-konten yang ada di TikTok ini menjadikan konten-kontennya terbuka untuk segala usia; sehingga konten yang kurang pantas dilihat oleh anak-anak misalnya menjadi bebas diakses siapa saja, termasuk anak-anak. Misalnya video menari dengan pakaian-pakaian yang minim dan kurang pantas dilihat atau bahkan cenderumg sangat terbuka..
Tentunya tidak hanya dilihat dari segi penampilan namun selain dari segi pemikiran yang ingin disampaikan oleh konten kreator; perlu adanya penyaringan terlebih dahulu yang signifikan karena tidak menutup kemungkinan juga oknum rasis memanfaatkan aplikasi TikTok.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada hasil penelitian sebagaimana telah penulis sampaikan sebelumnya, diketahui komentar mengenai dampak aplikasi tersebut padanya yaitu:
“Konten yang tidak selaknya semua usia bisa liat, misalnya joget dengan pakaian kurang bagus, maksudnya seksi gitu. Terus ada juga kadang orangorang rasis gitu lah negatif penyalahgunaan dari TikTok.”
3. Rentan Ujaran Kebencian
Di samping kebermanfaatan konten di aplikasi TikTok, tidak sedikit pula konten-konten yang tidak bermanfaat dan cenderung ke arah negative yang akan menjadi santapan penonton, khususnya para remaja dan anak-anak, seperti yang diungkapkan Erma pada penelitian sebagai berikut:
“Di TikTok itu juga sering ada hate comment gitu, cyber bullying, atau bahkan body shaming. Dan juga jadi membuat perempuan untuk berlombalomba menampakkan kecantikannya begitu, kan kita tahu sendiri kalo di Islam terlalu berlebihan juga kan ngga baik dll.”
Aplikasi TikTok ini juga sering disalahgunakan oleh para konten kreator untuk mencari ketenaran dengan saling menghujat satu sama lain. Namun di lain sisi berbagai ilmu pengetahuan yang tidak didapatkan di perkuliahan dapat diperoleh dengan mudah di aplikasi TikTok.
Oleh sebab itu, kita perlu lebih memilah mana konten yang baik dan konten yang kurang baik, serta perlu adanya pengendalian diri dalam menggunakan aplikasi TikTok sehingga lebih terasa kebermanfaatan dalam penggunaannya. Kedepannya, para pengembang aplikasi TikTok juga dapat mengevaluasi dampak positif dan negatif dari aplikasi, sehingga aplikasi tersebut dapat benar-benar bermanfaat untuk segala batasan usia.
Sumber:
Aji, Wisnu Nugroho. “Aplikasi Tiktok Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia.” Prosiding Seminar Nasional Pertemuan Ilmiah Bahasa Dan Sastra Indonesia 431 (2018): 431–40.
Arrofi, A, and N Hasfi. “Memahami Pengalaman Komunikasi Orang Tua–Anak Ketika Menyaksikan Tayangan Anak-Anak Di Media Sosial Tik Tok.” Interaksi Online 7, no. 3 (2019): 1–6. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksionline/article/view/24143.
Taubah, Miftachul. “Aplikasi Tik Tok Sebagai Media Pembelajaran Maharah Kalam.” Mu’allim Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2020): 57–66. https://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/muallim/article/download/2201/1610.
Harrison, Helena, Melanie Birks, Richard Franklin, and Jane Mills. “Case Study Research: Foundations and Methodological Orientations.” Forum Qualitative Sozialforschung 18, no. 1 (2017). https://doi.org/10.17169/fqs-18.1.2655.
Hartaji, R. Damar Adi. “Jurusan Pilihan Orang Tua R . Damar Adi Hartaji , S . Psi Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Menurut Woolfolk Pengertian Motivasi Berprestasi Sebagai Suatu Keinginan Untuk Berhasil , Berusaha Keras Dan Mengungguli Orang Lain Berdasarkan Suatu Standa.” R. Damar Adi Hartaji, 2009, 5.
Penulis lahir di Jakarta, berkuliah S1 di Kedokteran Hewan dan mengambil S2 Magister Biologi di Universitas Brawijaya, memiliki minat sebagai penulis, pengajar, Dokter Hewan dan peneliti, pernah menulis buku novel yang diterbitkan di Gramedia. Instagram : @chyntia.hasan.

very demure
sangat membantu, medsos sangat berpengaruh bagaimana kita melihat berita bahkan jokes