Cara Berdamai dengan Diri Sendiri
Mengetahui memiliki gangguan stress paskatrauma (PTSD) atas kematian ayah, saya sempat tidak percaya. Bagaimana mungkin, sebagai seorang yang beragama, saya tahu betul bahwa semua akan meninggal. Saya sungguh tidak percaya.
Hingga pada akhirnya saya bertanya pada ustaz, kenapa bisa saya mengalami trauma? Jawaban yang saya dapatkan hanya “tanya lagi ke hati mu, apakah kamu sudah ikhlas?“
Pertanyaan tersebut sontak langsung membuat saya meneteskan air mata. Dalam hati, saya berpikir sungguh jahat jika belum mengikhlaskan kepergian mendiang ayah. Namun saya menyadari bahwa ada rasa sesal dalam hati. Saya merasa menyesal dan bersalah telah bekerja jauh sehingga kehilangan banyak momen bersama kedua orang tua.
Perasaan menyesal tersebut menjadi salah satu hal yang menyebabkan saya belum bisa memaafkan diri sendiri atas banyaknya momen yang terlewati. Saya pun diminta oleh dokter untuk belajar memaafkan diri sendiri.
***
Awalnya terasa tidak mudah dan saya tidak tahu harus mulai dari mana. Memaafkan diri sendiri itu butuh keberanian dan kesadaran. Dalam kasus saya, di awal, saya memang takut sendiri dengan rasa bersalah dan penyesalan yang selalu muncul di pikiran. Namun saya juga sadar bahwa saya tidak boleh berlarut-larut dengan perasaan tersebut.
Syukurnya, saya menemukan tips memaafkan diri sendiri. Dari laman Youtube Klee Indonesia, saya mencoba untuk mempraktekkannya hingga saat ini. Adapun tips yang saya praktekkan meliputi:
Pertama, lihatlah masa lalu itu sebagai bagian dari pengalaman kehidupan. Memutuskan kuliah dan bekerja jauh dari orang tua adalah pengalaman hidup yang memberikan banyak insight dan berperan terhadap pengembangan diri.
Saya mencoba mengingat, betapa bangganya orang tua saya dapat menyekolahkan hingga strata dua, dan melihat saya menjadi perempuan karir. Dengan mengingat hal itu, secara perlahan saya dapat merasa bahwa pilihan saya waktu itu tidak sepenuhnya buruk, dan memiliki sisi baik di mata orang tua saya. Kemudian, saya bisa pelan-pelan move on dan mengeliminir penyesalan yang ada.
Kedua, mencoba untuk menyayangi diri sendiri sama seperti menyayangi orang lain. Paska ayah saya meninggal, saya baru menyadari bahwa selama kuliah hingga saat ini, saya sangat “keras” terhadap diri.
Dalam menjalani hidup, penuh dengan target-target yang ingin di capai, hingga pada akhirnya lupa untuk menyayangi diri sendiri; lalai untuk memberikan perhatian kepada diri sendiri, lupa meluangkan waktu relaks, untuk “me time”. Lalai akan berdialog dengan diri dan mencoba memaafkan diri atas kegagalan ataupun rasa penyesalan dan bersalah yang muncul.
***
Ketiga, cobalah membangun jejaring baru atau mengikuti banyak aktivitas. Karena saya suka baca, alhasil saya mengikuti salah satu grup membaca, grup belajar Bahasa Jepang dan Bahasa Prancis. Aktivitas baru ini membantu hidup saya ‘sedikit berwarna kembali’. Selain itu saya merasa mendapatkan energi positif baru dari teman-teman. Sehingga berangsur-angsur perasaan tidak menyenangkan atau perasaan menyalahkan diri sendiri itu terurai dan berkurang.
Kelima, belajar dari kesalahan yang (mungkin) pernah kamu buat. Karena guru terbaik adalah pengalaman. Melalui pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu, kita sadari dan belajar untuk tidak melakukan hal itu lagi di masa yang akan datang.
Dalam kasus saya, saya kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan yang tidak jauh atau beda pulau dari ibu. Meskipun saat ini pekerjaan saya tetap tidak satu kota, namun setiap akhir pekan saya bisa mengunjungi dan menengok ibu. Setidaknya tetap bisa punya “quality time“ setiap akhir pekan bersama ibu.
Memiliki gangguan stress paskatrauma tentu bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, saya perlu untuk memaafkan diri sendiri agar bisa pulih. Dan memaafkan diri sendiri itu penting, bukan hanya untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk kesehatan fisik saya.
Ketika saya dalam keadaan uring-uringan karena perasaan merasa bersalah itu muncul di otak, tubuh saya terasa bagaikan gawai yang energinya hampir habis. Kepala terasa pusing, sendi-sendi terasa nyeri, badan lemas, dst. Namun ketika saya bisa berdamai dengan perasaan merasa bersalah, saya merasa seperti gawai yang full charge dan merasa punya banyak energi untuk melakukan aktivitas.
Nah, rahmania itulah tips yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk memaafkan diri sendiri.
Learning Self-Healing Enthusiastic

Achy dewi
Alhamdulilah sdh bisa melewati fase2 koping diri