Besan
Jumat malam aku masih lembur dengan jahitan segunung. Seragam keluarga yang akan dipakai saat resepsi pernikahan, mendominasi jahitanku akhir-akhir ini. Meski ada yang membantu, untuk bagian-bagian tertentu aku tak bisa menyerahkan kepada orang lain. Bukan tak percaya tapi hanya karena kemantapan saja.
“Bapak istirahat dulu, Pak. Ini sudah malam, lho!” Titi, putriku mengingatkanku yang sering lupa waktu bila pekerjaan belum kelar.
“Iya, ini tinggal sedikit, kok,” jawabku berbohong.
Titi tidak tahu, sejak salah satu temannya sering datang ke rumah, aku menjadi sedikit gelisah dan tak bisa tidur. Ditambah lagi masih ada beberapa janji dengan pelanggan yang belum beres. Kalau tidak membaca buku, menjahit malam hari adalah caraku mengisi waktu.
Titi putriku satu-satunya yang menjadi piatu ketika usia sepuluh tahun. Tumbuh sebagai anak yang manis, dia nyaris tak pernah membuatku marah atau sakit hati. Tak pernah ada di benakku upaya mencari ibu pengganti baginya. Di mataku dia anak pendiam dan selalu menyenangkan. Meskipun kini sudah menjadi guru di sebuah SMP Negeri, kadang aku masih menganggapnya sebagai anak kecil.
*
Titi tak terlalu banyak omong. Setiap kutanya ia jawab dengan singkat seperlunya. Hampir di setiap jawabannya, sering menyadarkan aku ternyata dia sudah dewasa. Bahkan lebih dewasa dari aku, bapaknya. Seperti saat kudesak apakah dia sudah punya tambatan hati.
“Dia Joko, putra dari Bu Yuni, Pak,” jawabnya malu-malu ketika kutanya siapa pria yang telah merebut hatinya.
“Bu Wahyuni pak Mulyono maksudmu?” Tanyaku dan dia hanya mengangguk sambil tersenyum mendekat lalu memelukku dari belakang. Sengaja langsung kusebut nama itu karena beberapa pekan lalu pria muda salah satu teman Titi, paling sering main ke rumah. Saat berbincang denganku, senyumnya mengingatkan aku akan seseorang yang memiliki senyum sama persis dengan senyumnya.
“Titi, Titi, kau selalu membuat bapak terharu, Nak,” ucapku dalam hati kala dia memeluk sambil menggoyang tubuhku. Dia selalu begitu. Setiap hatinya bahagia, tak segan-segan spontan memelukku, mencium pipiku dan aku selalu terkejut campur bahagia. Sama persis dengan mendiang ibunya yang romantis dan sering membuat kejutan-kejutan kecil hingga hatiku berbunga-bunga.
Suatu saat pernah terbesit dalam benakku, masihkah kudapatkan keseruan dan keharuan saat dipeluknya dan dicium pipi keriputku sementara dia sudah bersuami kelak? Tiba-tiba ada cemburu yang menyergap.
Masih dengan tersenyum ketika melepaskan pelukannya. Senyum itu membuat dadaku bergemuruh campur aduk tak menentu. Nama yang barusan kutanyakan bukanlah nama asing bagiku. Nama yang pernah membawaku ke setiap mimpi yang selalu indah penuh bunga dan harapan masa depan.
“Di mataku dia pria terbaik yang aku kenal, Pak. Dia selalu tampil sederhana meski dari keluarga berada. Berwawasan luas dan yang paling penting dia sangat hormat kepada orang tua,” kata Titi sembari memperbaiki duduknya agar sedikit rileks. Sorot matanya seolah penuh harap.
“Semoga Bapak bisa menjadi orang tuanya juga. Kata pak Yono, bu Wahyuni dan Bapak dulunya teman akrab.” Titi bercerita lagi sebelum aku bertanya lebih jauh.
Mendengar kalimat terakhir, tiba-tiba lututku lemas dan ingin duduk bersandar. Benarkah itu Mulyono yang dulu? Dia kah, pria tampan putra semata wayang juragan sapi kaya raya yang telah bersanding dengan kekasihku di pelaminan, itu? Jika ya, berarti mereka orang tua Joko, kekasih Titi, putriku.
Sungguh butuh perjuangan keras bagiku untuk menyembuhkan luka yang pernah ada. Meski aku masih mampu berpikir secara rasional, putus cinta tetaplah meninggalkan perih. Orang tua kekasihku tak merestui hubungan kami. Mereka malu bermenantukan aku. Seorang pria, anak dari seorang bapak yang dicurigai terlibat tragedi ’65.
Dari cerita ibuku, saat itu bapakku berprofesi sebagai guru dan mengajar seni di sebuah sekolah negeri. Tak ada yang tahu mengapa tiba-tiba bapak dijemput petugas pada tengah malam ketika aku masih bayi merah. Syukurlah, ternyata bapakku hanya sebentar ditahan karena tak terbukti sebagai aktivis gerakan tersebut.
Penolakan orang tua kekasihku membuat aku sadar akan kondisiku saat itu. Kami pun berpisah baik-baik. Kekasihku tak mampu berbuat banyak atas keputusan orang tuanya. Dia anak yang berbakti dan syukurlah perlahan aku bisa menerima. Aku hibur diriku sendiri meski dadaku nyeri tak terperi bak ditusuk belati.
Kami tak berjodoh. Kata-kata ini yang terbukti ampuh untuk menyembuhkan goresan dalam dadaku. Seiring hadirnya sosok baru dalam kehidupanku, kuhalau satu per satu semua kenanganku bersamanya. Kututup buku harianku agar tak menyisakan luka. Yakin bahwa ibunya Titi adalah jodoh terbaik yang diberikan Allah untukku.
“Pak, ketika aku dan teman-teman sesama guru main ke rumah Joko, ibu dan bapaknya menitipkan salam untuk Bapak.” Titi membuyarkan lamunanku.
Aku kaget dan pura-pura merapikan bahan-bahan baju yang sebenarnya sudah rapi. Entah mengapa hatiku menjadi degdegan dan sedikit bergetar. Ah, sudahlah. Biarlah menjadi sejarah. Segera kutepis aneka kenangan yang mulai berseliweran.
Kubuat diriku setenang mungkin di mata Titi. Sesungguhnya dia tidak perlu tahu kisah cinta bapaknya di masa muda. Dia hanya pernah kuberi tahu bahwa ibu dan bapaknya berkenalan singkat, saling terpikat lalu segera diikat. Diikat oleh tali suci sebuah pernikahan.
“Lusa, Joko dan ibunya minta izin mau main ke sini. Boleh ‘kan, Pak?” Lanjut Titi sambil matanya melirik kiri kanan seolah kuatir ada orang lain yang menguping pembicaraan kami.
“Bo … Boleh.” Aku tergagap dan tak menyangka akan secepat ini.
Ah, andai ibunya Titi masih ada, tentu aku tak terlalu risau menanggapinya. Semua bisa kami musyawarahkan bertiga. Dia yang kalem dan selalu lembut ketika bicara, hanya bisa kukenang dalam perangai Titi seorang. Dan itu sangat aku syukuri.
“Pak Yono dan bu Wahyuni sempat pesan sih, kami tak perlu lama-lama berpacaran,” lanjut Titi yang membuatku semakin gugup, sedangkan binar ceria di matanya tak mampu ia sembunyikan.
Haruskah aku lenyapkan binar itu hanya karena egoku? Dia darah dagingku. Dia berhak menggapai bahagia dalam hidupnya. Tak sampai hati jika kuhancurkan harapannya. Apa pun akan kulakukan demi dia. Sakitnya perpisahan di saat saling menyayangi, biarlah aku yang merasakan. Jangan Titi, putriku.
“Bapak tidak apa-apa ‘kan? Ayo lah, Pak. Anakmu sedang bahagia, nih!” Dia merangkul aku lagi sambil mencium pipi kananku sesaat sebelum masuk kamar untuk tidur. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum semanis mungkin.
*
Malam hampir larut. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Terbayang sosok pria tampan sempurna yang tak pernah kekurangan apa pun sejak kecil karena kakeknya sang juragan sapi sangat terkenal kekayaannya. Sepintas terlihat dalam bayanganku bahwa Joko pasti berparas tampan setampan bapaknya.
Terbayang pula kelebat ibunya Joko yang semampai, sorot mata tajam, bergigi putih dan pelit bicara. Bagaimana bila besok mereka benar-benar datang? Siapa yang harus memulai bicara? Kata Titi mereka masih mengenalku. Hem, sanggupkah aku menatap wajah mereka? Jika Titi benar-benar serius dan mantap dengan Joko, mungkinkah aku menjadi besan bu Wahyuni?
Sedetik pun mata ini tak mau diajak kompromi. Badan amat letih tak juga membuatku terlelap. Jam di dinding serasa berputar lamban. Langit-langit kamar selalu menjadi saksi kapan aku gelisah dan kapan aku tenang. Rencana kedatangan Joko dan ibunya telah membuat hatiku tak menentu. Namun hanya satu harapanku: Titi harus bahagia.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
