Melukis Kawah, Mendekap Ayat
Di pagi cerah itu, sepasang kaki yang menginjak angka 4 dua digit melangkah gontai. Ketinggian baru mencapai titik 2.000 mdpl, tapi napas terengah-engah. Sementara dua orang bule Amerika beserta koleganya melangkah dengan cepat, seolah semua jalanan di pegunungan ini mendatar semua.
Gunung teletabis dan Gunung Meranti berjejer di sisi selatan timur. Tenang, diam, dan asri. Mereka menatap para pendaki Ijen dengan senyum. Sesekali tertawa karena melihat tingkah polah keturunan Adam yang tiada habis-habisnya.
Menjelang ketinggian 2.500, angin menyambar semburan kawah belerang menuju jalur pendakian. Semakin membuat para pendaki ingusan meronta, memegang kuat tongkat kayu, atau bersandar di bebatuan berwarna merah jingga.
Saya sendiri mencoba menahan raut muka, berpura-pura tidak apa-apa. Kepura-puraan yang tak dapat ditutupi karena masker pun tak sanggup dipakai. Tiga anak remaja tampak kuat, menyamai langkah bule-bule Amerika.
Sesekali para pendaki dibuat tak berkutik atas bujukan ojek troli. Sepasang penarik dan pendorong ojek tersebut tak putus asa merajuk kepada semua pendaki agar rela mengeluarkan beberapa lembar kertas merah rupiah. Saya memilih abai dan meyakinkan diri ini kuat.
Matahari beringsut meninggi, cahayanya menambah kawanan gunung tampak merona. Wajahnya tetap cerah walau belerang tak henti keluar dari celah-celah kawah. Di tiap langkah para pendaki, senja tampak beriba atas beberapa pasang para tetua yang menyeret kakinya karena tak kuat menopang berat tubuhnya. Usia memang tidak dapat berbohong, tidak seperti mulut atau rambut yang mudah dimanipulasi.
*
Saya ditemani seorang perempuan hebat, yang tampak semangat menaiki tiap langkah kakinya. Katanya, kawah adalah tujuan utamanya. Katanya, kawah adalah tipuan sekaligus tujuan yang menghanyutkan ribuan pendaki gunung vulkanik.
Bagaimana tidak menipu, kawah hanyalah kawasan yang penuh dengan asap beracun, pedas di mata, dan menyesakkan setiap nafas. Alih-alih membuat segar paru-paru, malah sebaliknya, membuat nafas tersengal-sengal. Apalagi bagi paru-paru berumur yang telah lama tinggal di ibu kota.
Tapi, jangan salah faham. Kawah, jika dirapatkan dengan kata candradimuka; adalah tempat penggemblengan diri pribadi supaya kuat, terlatih, dan tangkas. Begitulah kira-kira ketika KBBI menerjemahkan makna kawah candradimuka. Saya sendiri manut dengan makna tersebut. Bukan hanya karena tidak mempunyai hak otoritatif menerjemahkan sepasang kata tersebut; namun juga karena memang tidak mampu menerjemahkannya.
Di sisi lain, saya merasakan jika sekawanan kawah yang berada di puncak-puncak gunung memang selalu menjadi simbol sebuah tujuan. Simbol kemenangan bagi pendaki. Mereka merasakan kebahagiaan hebat atas hujan, dingin, keringat, luka, dahaga, dan segala macam kesusahan selama perjalanan.
Kawah adalah cekungan yang menipu orang awam ketika melihat gunung. Seolah gunung berbentuk lancip di puncaknya. Padahal, kawah yang berada di puncak adalah cekungan besar tempat gunung vulkanik bernafas. Satu area yang paling diburu para pendaki sebagai bentuk perlawanan kesusahan yang dirasakan selama perjalanan.
Saya kembali melukis kawah, tapi tidak sanggup. Tidak akan sanggup melukisnya dengan sempurna. Pencipta kawah telah merekayasa dengan sempurna, seimbang, dan tanpa cela. Warna kawah yang berubah seiring terpaan cuaca dan matahari membuat para pelukis kebingungan memilih warna cat dan dasar kanvasnya.
Ketika memilih warna kuning kehijauan, terpaan belerang merubahnya menjadi warna keabuan yang kadang menggelap ketika semburan belerang membesar. Belum lagi ketika gelap malam menjadi sempurna, ada api biru yang tercipta. Lagi-lagi, para pelukis tak sanggup menempatkan paduan warna agar birunya sempurna seperti tangkapan mata.
*
Ketidaksanggupan melukis kawah menempatkan para pelukis sadar bahwa Tuhan Maha Sempurna. Gunung dan kawah adalah dua sejoli sempurna. Jika kawah tidak lagi menyembulkan nafas belerang dengan sempurna, maka lukisan kengerian akan tampak seperti Semeru yang menderu beberapa waktu lalu.
Segala macam makhluk hidup, tumbuhan, binatang, dan manusia menangis pilu. Terbakar hawa, awan, api, dan cairan lahar yang menggila. Beruntunglah sedikit goncangan Semeru tidak diikuti aksi solidaritas pegunungan tetangganya. Pencipta segala masih mencinta hamba-Nya agar kembali kepada ayat-ayat kauniyah dan qouliyah-Nya.
Saya terjerembab ke kedalaman kawah makna tersirat dan tersurat ayat-ayat penciptaan Tuhan tersebut. Bagaimana tidak, imajinasi tetiba menyembul ketika muntahan belerang berubah menjadi semburan larva, lalu diikuti lahar, lalu dentuman dahsyat dan bahkan diri ini ikut beterbangan.
Dalam diam, tanpa sanggup memotret dengan sempurna, saya hanyut dalam dekapan ayat 31 di dalam Surat Para Nabi “Dan telah Kami jadikan di Bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di Bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”
Saya memandangi satu per satu kecerahan wajah anak-anak saya. Di tiap pandangan, saya memelan, memohon kepada Tuhan “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
Coach ASN Menulis
