f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan dan organisasi

Berpendidikan di Negara yang Krisis Pendidikan

Mengutip salah satu paragraf pada tulisan Supriadi Purba Mergana dalam bukunya “Negeri Tanda Tanya” yang menyatakan bahwa sudah harus menjadi perhatian kita bersama bagaimana kegagalan pendidikan bagi sebagian orang yang tidak sanggup adalah sebuah kegagalan bagi kita semua. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya untuk golongan yang mampu tetapi untuk semua orang.

Dalam artian luasnya, saya mencoba tafsirkan bahwa kegagalan pendidikan adalah dasar dari kegagalan sebuah negara yang berimpi menjadi negara maju. Bahwasannya bagaimana mungkin kita bersaing dalam prospek dunia maju sedangkan kita saja masih tertatih dalam lintasan pendidikan, apalagi sedang dalam tantangan global kini.

Menanti Bonus Demografi 2045

Memandang hal di atas, pernahkah kita berpikir bahwa di tahun 2045 yang digadang-gadang sebagai pasar perdagangan bebas dan momentum bonus demografi serta kita berpikir untuk hadir dalam satu di antara dua momentum besar itu? Pertanyaan ini sebelumnya hadir dalam pikiran, apakah saya akan menjadi bagian dalam momentum tersebut?

Spekulasi lain hadir bahwa kedua momentum di atas melibatkan Indonesia dan anak mudanya dalam bursa bonus demografi nanti. Itulah yang kita inginkan dalam setiap pembangunan yang menyektor pada proses mencetak anak muda produktif. Ditambah dengan sebuah pembangunan mental anak muda yang mampu berpartisipasi aktif untuk mencapai tujuan negara dan bangsa.

Akan tetapi, pernyataan di atas membuat saya semakin pesimis akan menjadi bagian dari momentum-momentum yang ada. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang merasuk mental dan paradigma saya terhadap pembangunan di Indonesia. Contohnya saja seperti infrastruktur, pendidikan, ekonomi, sosial-politik, dan minat bakat dalam olahraga bagi anak muda. Hal ini dinilai sangat tidak memiliki perkembangan dan keputusan dalam pendidikan karakter anak bangsa serta sektor lain yang selalu bersifat politis.

Baca Juga  Ada Apa dengan Indonesia? (2)
Bernegara, Tidak Paham Esensi Pendidikan!

Bernegara itu bukan tentang politik sepihak, bukan tentang oligarki, bukan tentang bisnis dan menghidupkan saudara dan keluarga saja. Bernegara itu lebih kepada persoalan mempersatukan yang berbeda, mempererat yang renggang, dan menghadirkan kemakmuran bagi rakyatnya. Terutama menghadirkan akses pendidikan bagi rakyatnya.

Dari persoalan di atas adalah bagian dari hipotesa atas kondisi negara yang semakin hari bukan menjadi baik melainkan semakin ke arah yang lebih ironis. Bahkan mungkin saja tidak memiliki arah sama sekali. Ketika berdiskusi dengan teman, mereka berpandangan yang sama bahwa semakin hari semakin tidak terarah dalam bernegara. Dan mungkin saja kita semua merasakan hal demikian.

Cita-cita mencapai yang terbaik dalam bonus demografi memiliki peluang sangat minim bahkan tidak ada partisipasi anak bangsa di dalam momentum itu. Hal ini disebebkan karena tata kelola dalam bernegara yang sangat jauh dari apa yang dibicara oleh elit di televisi dan media massa. Pemberdayaan yang dilakukan terhadap kualitas pendidikan juga hanya dirasakan oleh kalangan tertentu saja.

Terlepas dari itu semua, secara empiris, rakyat merasakan dampak dari apa yang dilakukan oleh negara saat ini. Tentu bukan karena kondisi pandemi akan tetapi eksploitasi terhadap rakyat dan alam secara brutal dan lebih mementingkan hal yang diluar dari keinginan dan kebutuhan rakyat itu sendiri.

Akar Krisis Pendidikan

Kenapa negara kita begini-begini saja sepak terjangnya, dan cenderung selalu menghadirkan masalah baru dibandingkan ide-ide yang solutif?

Dr. Stevri  Indra Lumintang di dalam bukunya “Re-Indonesiasi Bangsa” menegaskan bahwa akhirnya semua anak bangsa, elemen bangsa, baik rakyat maupun penguasa, pasti mengakui bahwa penyimpangan ekonomi, sosial, politik, pendidikan, budaya dan agama, itu semua hanyalah pemicu krisis. Sedangkan akar krisis adalah lemahnya kualitas, terganggunya mentalitas, miskinnya spiritual dan rusaknya moralitas sumber daya manusia.

Baca Juga  Seni Memantaskan Diri Menuju Pernikahan

Dari ungkapan di atas, menunjukan adanya sebuah krisis yang sangat berkepanjangan jika tidak adanya pembenahan. Bagaimana tidak, yang sering kita keluhkan adalah akses pendidikan. Akses pendidikan saat ini hanya didapatkan bagi siapa yang memiliki uang dan memiliki orang dalam. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa?

Salah satu penyebab dasar adanya krisis mutidimensi adalah akar krisis yang disebut oleh Dr. Stevri Indra Lumintang di atas yang yaitu lemahnya kualitas, mengandung arti bahwa kualitas adalah salah satu hal yang terpenting dalam pembangunan sumber daya manusia bagi bangsa. Jika hari ini kualitas tidak dapat ditingkatkan maka anak muda bangsa pun tidak akan bisa mencicipi dan andil dalam bonus demografi kelak.

Sehingga, kualitas yang lemah perlu kita perkuat dan ditingkatkan dengan akses pendidikan, meningkatkan etos belajar anak muda sedari dini, dan meningkatkan kualitas pendidikan yang sebelumnya tidak terjamah dengan sistem, maka harus dibuatkan sistem sesuai kebutuhan jangka panjang pendidikan dari kebutuhan anak-anak muda.

Malapetaka Bagi Dunia Pendidikan

Mengelola pendidikan bagi negara adalah suatu hal mudah. Sehingga negara sekarang ini selalu menghadirkan polemik-polemik baru yang terkesan sangat tidak berpendidikan. Berjanji mengentaskan kemiskinan tetapi selalu muncul para pejabat yang koruptif, lalu dimana pemberdayaan manusia yang sebenarnya?

Krisis pendidikan yang sangat terasa jika negara hadir dalam setiap kebutuhan dan keinginan masyarakat pendidikan selalu dengan kebijakan yang tidak mensektor sebagai sebuah kebutuhan, melainkan malapetaka. Seperti yang didaerah perbatasan-perbatasan yang sangat minim akan akses pendidikan.

Itulah yang menyebabkan adanya krisis pemberdayaan manusia yang dirasakan oleh masyarakat yang minim mendapatkan dingin dan nyamannya esensi pendidikan. Sehingga apapun yang menjadi tujuan dan cita bangsa negara akan hanya sampai pada hal yang bersifat politis. Lalu dimana letak pendidikan yang sebenarnya? Lalu dengan sistem dan masalah pendidikan seperti saat ini, apakah kita bisa mampu berada dalam bonus demografi, atau kita hanya berdansa dalam modus demografi belaka?

Baca Juga  Memahami Kembali Hakikat Interdisipliner dalam Pendidikan
Solutif di Tengah Krisis

Di tengah pandemi covid-19, dimana proses belajar mengajar dialihfungsikan melalui media daring. Hal itu sendiri sangat riskan juga bagi mereka yang tidak memiliki akses internet dan ketidakpunyaan akan media elektronik itu sendiri. Oleh sebab itu, dirasa masih sangat banyak mata rantai masalah dalam sektor pendidikan yang belum terjamah oleh tangan pemerintah. Sebetulnya bukan kebijakan semata yang diperlukan melainkan solusi bagi mereka yang tidak memiliki akses.

Maka dari itu negara perlu hadir dalam setiap aspirasi, terutama yang berkaitan dengan pendidikan bagi masyarakat yang sangat kesulitan dalam mendapatkan hak atas pendidikan. Negara perlu hadir pada setiap keluhan masyarakatnya untuk mendapatkan point penting masalah yang dihadapi dan memberikan solusi. Itu yang dibutuhkan. (E: L)

Bagikan
Post a Comment