f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menua bersama

Bahagia Menua Bersama

Saat jalan pagi, aku selalu melintas depan rumah Pak Segaf. Pemandangan di teras depan rumah itu tidak pernah berubah. Pasangan orang tua, duduk bercengkerama di kursi teras model Betawi. Di sampingnya terparkir mobil Citroen BX tahun 1987 1600 cc, warna cokelat susu.  Entah apa yang dibahas. Seru sekali. Kopi hitam, yoghurt, pisang goreng, kismis, kurma, roti maryam, kacang almond, adalah hidangan yang saat itu tersaji di atas meja.

Awalnya, aku mengira Pak Segaf (75 tahun) tengah bertamu di rumah itu. Dari gesture mereka duduk, tertawa, kegayengan saat ngobrol, benar-benar seperti pasangan muda yang sedang pacaran. Sesekali mereka tertawa lepas, sambil menepis tangan atau mencubit lengan pasanganya. Asik deh pokoknya. Belakangan aku tau, mereka pasangan senior di komplek itu. Ketakjubanku muncul, mungkin karena aku dulu jarang melihat Bapak-Ibuku bisa ngobrol berlama-lama di teras rumah.

Pak Segaf dan Ibu selalu ber-energi merawat kebiasaan “pacaran” itu selama hampir 50 tahun. Pasangan ini rutin bangun jam 3.00 pagi. Usai minum air hangat, sholat tahajud lanjut berzikir. Masuk waktu shubuh, Pak Segaf bergegas ke Masjid, Ibu memilih sholat di rumah. “Kaki saya sudah tidak kuat berjalan jauh ke Masjid”, keluhnya. Usai sholat shubuh, Pak Segaf selalu jalan berkeliling memutari kali yang membelah komplek perumahannya. Bisa 5 kali putaran. Usai jalan pagi, teh atau kopi, yoghurt dan cemilan kecil sudah tersaji di meja teras depan.

Pak Segaf terampil menyiapkan jus buah-buahan. Setiap pagi, ia terampil sekali mengupas buah-buahan untuk dibuat jus murni menjadi dua gelas besar. Untuk istri dan dirinya. Sementara itu, Bu Segaf akan memanggil-manggil puluhan kucing kampung yang hidup di perumahan itu. Dia terampil sekali membesut makanan kucing. Nasi dan roti (kadaluwarsa) dicampur ikan cuek kukus, ditambah sedikit bumbu penyedap. Bau ikannya menyengat. Kucing-kucing segera berlari mendekati Ibu Segaf saat keluar rumah sambil membawa sarapan pagi.

Baca Juga  Perang Khaibar dan Kisah Pernikahan Nabi dengan Shafiyah
Menua Bersama

Pasangan berdarah Hadrami ini selalu mengaku bahwa mereka orang Indonesia. “Saya asli Pasuruan, Bapak asli Pekalongan,” katanya dengan logat jawa medok.

Mereka memiliki 3 Anak yang sudah mandiri. Anak pertama punya usaha sendiri. Anak kedua berprofesi dokter hewan. Dan nak ke tiga bekerja di perusahaan perkebunan. Mereka sudah punya kehidupan sendiri. Sabtu-Minggu saja mereka datang bergiliran ke rumah Pak Segaf.

“Jadi, sehari-hari pacaran terus nih. Ngiri saya… kayakanya gak pernah berantem ya….?” Candaku suatu pagi, saat mampir berteduh karena gerimis.

“Siapa bilang Om…Nih baru saja baikan. Saya suka risih dengan kebiasaan Bapak memutar music keras-keras. Malu sama tetangga. Wong nyetel musicnya juga sambil tidur kok. Kan mubazir ya, gak bisa didengerin juga…”. Keluh Ibu Segaf.

“Lha musik itu pengantar tidur kok Om. Habis mau apa, nonton TV ?. Acara TV sekarang tidak lagi menarik. Tayangan sinetronnya tidak nyambung dengan peristiwa yang pernah terlewat dalam hidup saya,” kenang Pak Segaf.

Pak Segaf dan Ibu mengingatkanku, bahwa berantem dengan pasangan itu sebuah keniscayaan. “Dibawa ringan saja…Selama kita hidup, peristiwa itu tidak akan pernah terlewatkan. Ketika salah satu pulang lebih dulu, baru deh…kesepian dan kesendirian akan menghinggapi. Sedih sekali rasanya,” pesan Pak Segaf. Menyimak tuturan suami tercinta, Bu Segaf memegang erat lengan suaminya. Penuh haru, menitikkan air mata.  

Mereka bersyukur, hingga usia 75 tahun masih bisa mandiri, tidak merepotkan anak. Rumah kecil ukuran 150 m2 itu lebih dari cukup untuk ditempati. Tidak ada pembantu di rumah itu. Urusan bebenah, nyapu, ngepel, nyuci, menyetrika baju, masak mereka lakukan bersama-sama sebisanya. Mereka saling melayani dan melengkapi kekurangan.

Baca Juga  Kepada Allah Tempat Kembali

“Saya dan istri sudah tidak butuh apa-apa di dunia ini. Harus sudah merasa cukup dengan menghentikan semua keinginan duniawi. Kami menua bersama, menunggu kematian tiba. Semoga saya dan istri bisa mati dalam kebaikan dan keimanan. Itu saja”.  Ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Pak Segaf pernah sukses merintis usaha toko material. Sekarang usaha itu tengah dijalankan oleh anaknya. Rumus sukses Pak Segaf cukup sederhana. “Ketika saya mampu menghidupi anak-anak dengan uang halal, menyekolahkan mereka hingga selesai, bisa bersedekah atau membantu orang lain yang berkebutuhan, maka itulah sukses”. Pak Segaf masyhur sebagai saudagar dermawan. Meski hidupnya sederhana, namun amalnya banyak. Saat ada pembangunan Masjid di kampung, dia mempersilahkan panitia pembangunan untuk mengambil kebutuhan material dari tokoknya. Pembayaran bisa dicicil kapan saja. 

Pak Segaf tidak lagi ikut campur dalam usaha yang sekarang dikendalikan anak sulungnya. “apa yang bagus menurut saya, belum tentu bagus menurut anak saya. Harus ihlas membiarkan anak mengembangkan keyakinan tentang apa yang dia anggap lebih baik”. Tegasnya. Mungkin keihlasan itu jugalah salah satu sumber kebahagiaan hidupnya.

Pak Segaf heran dan selalu bertanya-tanya, ketika ada teman seusianya yang masih terus ingin berkiprah di ranah publik, apalagi politik. Alasannya untuk masa depan yang lebih baik. “Kebaikan apa? Yang saya anggap baik saat ini, belum tentu diterima sama baiknya oleh generasi yang berbeda. Biarlah mereka yang lebih muda usia itu merintis kebaikan untuk masa depan mereka. Orang-orang seusianya harus mencukupkan ambisi politiknya”. Itu prinsipnya.

Pak Segaf menyeruput kopi lintong pahit dari Sumetara Utara. Sejumput kismis dan secuil roti maryam turut menyempurnakanya.  Kopi kiriman kawan lama dari Medan itu terasa nikmat di pagi yang dingin sedikit gerimis. (AJH).

Bagikan
Comments
  • Yusuf chandra

    Cerita yg menarik saya suka sekali

    Maret 16, 2022
  • Yans Hendrayani

    Mantap Cak Jamer kisah inspiratif buat yang muda muda dalam merawat Cinta.

    Maret 16, 2022
  • iful

    Hmmm… aku dadi kepingin menua bersama istriku.
    sekarang lagi mencari, cara berserah diri.

    Maret 16, 2022
  • Iwan Buana Fr

    Luar biasa.
    Menjadi bijak itu harapan banyak orang. Dan tulisan ini mengajarkan praktik bijak dengan penuh kebaikan. Sukses selalu ya Romo Jamet. Salam hormat selalu.

    Maret 16, 2022
  • Nur dayad

    Pasangan yg hebat…. Perlu dicontoh 👍👍

    Maret 16, 2022
  • Muhtar shodiq

    Mantal om

    Maret 16, 2022
  • Jumie Zaini

    Luar biasa..kisah nyata yg sangat inspiratif…semoga bisa menua bersama sang prabu dengan penuh cinta seperti bapak dan ibu Segaf..

    Maret 16, 2022
  • Jumie zaini

    Luar biasa..kisah nyata yg sangat inspiratif.. semoga bisa menua bersama prabu dengan penuh cinta dan kasih sayang…

    Maret 16, 2022
  • Rifma

    Tulisan yg penuh makna dan nilai, top tenan mas Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso👍

    Maret 17, 2022
Post a Comment