Kiat Adaptasi Bagi Pasangan Baru
Ikatan Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral serta identik dengan bersatunya pasangan dua insan laki-laki dan perempuan yang berbeda sifat, kebiasaan bahkan pola pikir untuk hidup bersama dengan aturan dan kebiasaan baru. Setiap orang menginginkan kehidupan yang aman, sejahtera dan juga bahagia termasuk dalam pernikahan. Namun sebagaimana kita tahu, segala sesuatu tidak berbanding lurus dengan harapan.
Kehidupan tanpa masalah adalah ketidakniscayaan. Namun dalam pernikahan jika kita berhasil mengenali sifat, kelebihan dan kekurangan pasangan, kita akan bisa beradapdasi dengan baik dan meminimalisir terjadinya konflik. Berikut ini beberapa kiat adaptasi new couple antara lain:
***
- Kenali dirimu, kenali pasanganmu
Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan merupakan fitrah dan sunnatullah. Sebagaimana yang kita tahu perempuan adalah makhluk yang mengedepankan hati dan perasaan sehingga terkesan sensitif dan penuh kasih sayang. Sedangkan bagi laki-laki, peran logika lebih dominan. Oleh karenanya mereka cenderung fokus pada penyelesaian dan solusi dalam menghadapi persoalan.
Perbedaan yang lain antara laki-laki dan perempuan terletak pada cara berkomunikasi. Penyebabnya adalah dalam hal menyimpan memori. Meski pada dasarnya otak laki-laki berukuran lebih besar daripada perempuan, namun Hippocampus pada perempuan lebih besar daripada laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan cenderung lebih bisa cepat dalam mengolah setiap informasi.
Hippocampus sendiri adalah otak yang berfungsi menyimpan memori. Pada saat laki-laki ingin perasaannya dimengerti, mereka mengungkapkan secara langsung. Sedangkan perempuan memakai isyarat. Perbedaan inilah yang terkadang memicu terjadinya konflik. Perempuan berharap ingin dipahami, namun laki-laki kurang bisa mengerti maksud dan keinginan tersebut karena disampaikan dengan bahasa yang tidak kongkrit.
***
Maka dari itu, kita perlu mengenali diri kita sendiri dan juga pasangan baik itu dalam hal kelebihan dan kekurangan. Jika kita menemukan kekurangan pasangan dan hal itu membuat tidak suka, maka yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali kelebihan dan kebaikannya yang lain. Karena bisa jadi dari kekurangan yang dia miliki terdapat sebuah kebaikan namun belum kita sadari. Nah, tugas kita adalah terus mencari dan mencari kebaikan pasangan. Jika ingin mengkritik pasangan hendaknya kita “berkaca” bahwa diri kitapun juga punya kekurangan. Dan itu hukumnya pasti. Karena tidak ada manusia yang sempurna, kan?
Apabila pasangan mau menerima kekuranganmu itu berarti dia pasangan yang baik. Maka sudah pasti kamu pun juga harus berikhtiar menerima kekurangan pasanganmu. Terkadang kekurangan yang dia miliki tidak terlalu besar, tapi kadang kita merasa kesal dengan keburukannya, padahal sifat positif yang ada pada diri pasangan jauh lebih.
- Kendalikan ego
Setiap orang mempunyai ego, namun yang membedakan adalah kadar besar kecil ego tersebut dan seberapa lihai kita mengendalikan atau bahkan justru dikendalikan oleh ego. Meski demikian, jika kita ingin kehidupan yang selaras dan harmonis bersama pasangan, adakalanya harus saling pengertian. Sifat egois dapat memicu terjadinya sebuah pertengkaran. Banyak di antara pasangan bertengkar hebat karena tidak bisa mengendalikan ego.
Perempuan merasa stres kurang dipahami, sedangkan laki-laki tidak nyaman karena merasa tidak memperoleh penghargaan. Sebelum berusaha melawan ego hendaknya kita perlu memahami dulu apa penyebab hati begitu keras sampai tidak mau menerima nasehat atau masukan dari orang lain? Coba gali dengan jujur, apa yang menjadi pemicu keegoisan itu muncul. Jika sudah terdapat jawabannya tentu akan mudah mengatasi dan menemukan solusi sisi kelemahan tersebut.
***
- Kelola prasangka
Prasangka artinya membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan. Merupakan sebuah penilaian favorable atau unfavorable dari individu terhadap benda, individu lain dan bisa juga institusi atau kejadian. Prasangka juga memiliki arti opini yang tergesa-gesa. Dalam Qur’an Surat Al-Hujurat : 12, Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman jauhilah olehmu prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan dosa.”
Islam memerintahkan untuk senantiasa berprasangka baik atau berpikir positif terhadap siapapun. Dalam kehidupan rumah tangga, banyak hal yang tidak kita inginkan, terkadang hal tersebut tidak bisa kita hindari. Kejadian ini dapat menimbulkan prasangka tidak baik dari salah satu pihak bahkan keduanya. Misalnya, saat suami mendapatkan pesan whatsapp gombalan dari wanita, padahal sebenarnya suami juga tidak nyaman dengan sikap seperti itu, namun ternyata istri mengetahui dan mengira sang suami “ada main” di belakang.
Karena hal tersebut suami istri akhirnya bertengkar hebat jika istri tidak bisa mengelola prasangka dengan baik, kemudian perlu tabayyun kepada suami. Oleh sebab itu, setiap pasangan harus berpikir positif terhadap pasangannya. Jika salah satu pihak menemukan sesuatu yang kurang baik maka hendaknya mencari seribu alasan untuk memberikan penilaian terhadap pasangannya. Tentunya dengan komunikasi dua arah antara pasangan suami istri.
***
- Komunikasi
Terjadi pertengkaran dalam kehidupan berumah tangga adalah hal yang wajar. Hal ini dapat teratasi dengan cara komunikasi efektif. Salah satu elemen penting dalam kehidupan rumah tangga adalah komunikasi. Pasalnya, jika komunikasi terhambat maka yang terjadi adalah perselisihan lantaran salah paham antara kedua belah pihak. Meskipun menjalani komunikasi efektif tidak mudah, khususnya bagi new couple yang dalam proses adaptasi, namun bukan berarti kita dan pasangan tidak bisa mewujudkannya.
Komunikasi efektif menghasilkan perubahan sikap pada orang lain yang bisa dilihat dari proses komunikasi. Jika salah satu pihak merasa pasangannya belum mengerti apa yang ia maksud dan inginkan, berarti komunikasi yang terjadi selama ini tidak efektif. Hubungan yang baik itu sendiri berawal dari perasaan saling terbuka, komunikasi merupakan sebuah cara untuk mengekspresikan emosi, perasaan dan pikiran terhadap orang lain.
Maka kuncinya adalah sikap saling terbuka suami istri yang nanti akan membuat rumah tangga menjadi harmonis. Dengan komunikasi efektif akan melahirkan sikap saling mengerti antara pasangan suami istri, sehingga akan meminimalisir terjadinya konflik dalam kehidupan rumah tangga.
Setiap pernikahan tentu ada masanya mengalami fase sulit, beberapa konflik seolah menguji keteguhan ikatan pernikahan baik itu yang masih berumur jagung ataupun yang sudah bertahun-tahun. Beberapa memilih bertahan dan berhasil menghadapi badai bersama-sama, namun tidak jarang memilih jalan perpisahan. Setiap orang tentu menginginkan rumah tangga yang harmonis dan tentram, menjadi pasangan ideal sehidup sesurga. Semoga kita semua mampu beradaptasi dengan baik dan saling bersinergi dengan pasangan membentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah.
