f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ahmad dahlan

Ayat Penggerak Hati KH. Ahmad Dahlan

Sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan tentu begitu lekat dalam benak setiap warga Muhammadiyah. Betapa tidak, banyak umat Islam yang dapat menikmati warisannya hingga saat ini, meliputi sekolah, rumah sakit, rumah yatim, hingga panti jompo.

Pemikiran beliau lebih banyak tertuang dalam bentuk kerja nyata daripada karya berupa tulisan. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada seorangpun yang merangkum dan menyiarkan tulisannya untuk khalayak luas.

Tentu saja hal itu tak lain adalah untuk melestarikan teladan dan ajaran K.H. Ahmad Dahlan sendiri. Beliau berharap agar masyarakat dapat mempraktikkan kembali ajaran tersebut di masa mendatang. Walaupun jasadnya telah lenyap, namun jiwa beliau yang terejawantahkan dalam berbagai nasihat dan teladannya tetap ada dan membimbing kita dalam mencari keselamatan dunia dan akhirat.

Sepak terjangnya dalam peradaban Islam di Indonesia khususnya awal abad ke-20 tak perlu diragukan lagi. Sosok yang memiliki nama muda Darwis itu juga terkenal dengan ajarannya yang berupa hasil implementasi dari surat Al-Ma’un. Surat tersebut menjadi salah satu kacamata beliau dalam melihat dan menganalisis realitas umat pada saat itu.

Gerakan pembebasannya seperti bakti sosial juga masih ada dan berlanjut hingga sekarang. Namun, tak hanya surat Al-Ma’un saja yang menjadi pedoman beliau, surat-surat lain dalam al-Qur’an juga mampu menggerakkan hati dan mengambil hikmah darinya.

Ilmu dan Sosialisme K.H. Ahmad Dahlan

Beberapa literatur tentang pemikiran Islam di Indonesia, memandang paham sosialisme sebagai ajaran yang bersumber dari pengaruh asing, terutama pengaruh barat yang cenderung berseberangan dengan paham ajaran Islam. Paham inilah yang dipresentasikan oleh Marxisme, baik dalam bentuk leninisme maupun sosial-demokratik. Pengaruh tersebut kemudian masuk dalam Partai Komunis Indonesia oleh paham komunisme dan Partai Sosialis Indonesia oleh paham sosialis-demokratik.

Baca Juga  KH. Ahmad Dahlan: Sudahkah Kita Ber-Tauhid?

Terlepas dari hal itu, sebenarnya ajaran atau paham sosialis tidaklah seekstrem yang dipikirkan banyak orang. Bahkan Tjokroaminoto seorang penggagas perpaduan Islam dan sosialisme muslim pertama di Indonesia dengan Sarekat Islamnya, menganggap bahwa Islam dan sosialisme bukanlah dua kutub yang saling berseberangan dan bertentangan. Justru sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi dan menghasilkan perpaduan yang sangat apik.

Sejalan dengannya, mengutip dari buku “Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan: 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an” karya KRH. Hadjid, ternyata K.H. Dahlan pun merupakan seorang sosialis. Berangkat dari ayat Al-Qur’an ia beranggapan bahwa Islam dan sosialisme itu sejalan dan keduanya tidak ada pertentangan.

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan Berdasarkan Surah At-Taubah

 “…Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak dari para rabi dan rahib benar-benar memakan harta manusia dengan batil serta memalingkan (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kabar kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9] : 34)

“…Pada hari ketika (emas dan perak) itu dipanaskan dalam neraka Jahanam lalu disetrikakan (pada) dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan), “Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan untuk dirimu sendiri (tidak diinfakkan). Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang selama ini kamu simpan.” (QS. At-Taubah [9] : 35)

Surat At-Taubah ayat 34-35 itulah yang mengguncangkan hati K.H. Ahmad Dahlan, hingga muncul perubahan besar. Seperti tumbuhnya semangat yang berkobar-kobar, serta dorongan untuk mengorbankan harta diri sang pendiri Muhammadiyah tersebut. Para ulama pun banyak yang menerangkan bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang tidak mau berzakat.

Baca Juga  Makna di Balik Pertanyaan ‘Sudah Hamil?’

Sedangkan menurut K.H. Ahmad Dahlan, ayat tersebut tidak hanya sebatas ancaman bagi orang-orang yang tidak berzakat saja, melainkan juga bagi mereka yang menyimpan hartanya untuk kepentingan pribadi. Pemikiran tersebut juga sesuai dengan pendapat Abu Dzaar Al-Ghifari ra. yaitu, “wajib bagi tiap-tiap orang memberikan harta bendanya yang lebih dari hajat kebutuhannya.”

Pendapat Abu Dzaar tersebut juga mengacu pada surat At-Taubah ayat 34-35 di atas, sebagai ancaman bagi orang yang menyimpan emas perak untuk kepentingan pribadi, dan tidak bersedekah fii sabilillah, maka akan mendapat azab yang pedih dari Allah SWT.

Kiai Dahlan sendiri juga telah mengamalkan paham Abu Dzaar tersebut pada akhir hayatnya dengan mendermakan harta benda yang lebih dari kebutuhan, dengan cara melelangnya. Tindakan tersebut menjadi contoh bagi para ulama dan pemimpin agar memperhatikan setiap masalah tentang kemiskinan dan kekayaan yang melimpah ruah.

Perlu kita ketahui bahwa ajaran Kiai Dahlan ini bukan hanya sekadar ajaran ilmiah saja, tetapi mengajak dan memberi contoh dengan amaliah nyata.

Wejangan K.H. Ahmad Dahlan

K.H. Ahmad Dahlan mengatakan: pertama, carilah harta benda dengan jalan halal dan segala kekuatan tenaga dan janganlah malas, agar mendapatkan harta yang sebaik-baiknya. Kedua, setelah mendapatkannya, gunakanlah untuk keperluan mu dan anak istrimu dengan secukupnya, jangan terlalu mewah hingga melampaui batas. Ketiga, kemudian gunakan kelebihannya untuk bederma di jalan Allah SWT.

Kembali pada ayat di atas, sungguh harta benda itu akan menjadi fitnah yang besar dan ujian bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Harta benda dapat merusak agama, akhlak pribadi, rumah tangga, dan masyarakat. Namun, harta juga bisa menimbulkan beberapa kebaikan untuk mencapai kebahagiaan apabila digunakan dengan semestinya (fii sabilillah).

Baca Juga  Nur Aisyah Haifani, Warisi Usaha KH Ahmad Dahlan

Seperti halnya pekerjaan untuk mencukupkan kebutuhan masyarakat, hak milik perseorangan, hak milik umum, soal perikemanusiaan, soal persamaan hak dan persamaan kelas, pembagian hasil kerja, keadilan, penderitaan rakyat, pendidikan, cita-cita luhur untuk keselamatan serta keamanan umum dan perdamaian, hendaknaya kita pelajari sedalam-dalamnya.

Sekaranglah saatnya kita wajib memperhatikan soal-soal kekayaan dan kemiskinan, agar semua dapat merasakan kenikmatan Allah, lenyaplah segala bentuk penindasan, kezhaliman, hingga tidak ada lagi penderitaan di bawah langit ini .

Editor: Lailatul Mukaromah

Bagikan
Post a Comment