Cerdas dalam Beragama, Berbudaya dan Bernegara
Sering kita dengar antara ketiga hal ini, yakni agama, budaya dan negara dibenturkan antara satu dengan yang lainnya dengan dalih-dalih kepentingan tertentu. Padahal jika kita cermati dan dalami, ketiga hal tersebut saling berkaitan kuat antara satu dengan yang lainnya. Menurut TGB Zainul Majdi agama dan budaya itu merupakan 2 sumur yang tidak pernah kering yang membuat Indonesia maju. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya agama dan budaya di Indonesia sangat mempengaruh watak, tingkah laku dan semangat masyarakat luas. Terkadang kedua hal tersebut saling berbenturan sehingga muncul gesekan bahkan konflik antar masyarakat.
Agama merupakan benteng keyakinan masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan semangat dalam menciptakan negara yang makmur, sejahtera dan sentosa. Tidak ada ajaran agama mana yang mengajarkan untuk merusak dan mengotori sebuah negara. Budaya merupakan kebiasaan , adat istiadat yang terjadi dalam suatu tatanan masyarakat. Budaya merupakan ciri khas dan keotentikan sebuah negara ataupun bangsa. Kemudian negara merupakan suatu wadah, tempat manusia untuk berusaha, berjuang dalam kehidupannya, mereka memiliki hak, kewajiban serta norma-norma yang mengikat mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Bonus Demografi dan Indonesia eMAS
Saat ini banyak perbincangan tentang bonus demografi dan juga Indonesia Emas 2045 . Menurut BPS ( Badan Pusat Statistik) bonus demografi sendiri merupakan kondisi yang mana usia produktif akan mendominasi masyarakat indonesia, pada kurun waktu 2030-2040. BPS memperkirakan bahwa ada 64 % usia produktif dari total penduduk yang diproyeksikan sekitar tahun itu ada 297 jiwa manusia. Sehingga pada rentang tahun tersebut persaingan dalam segala elemen akan semakin ketat dan sulit.
Istilah Indonesia emas 2045 merupakan momentum yang sangat bersejarah. Karena pada saat itu usia Indonesia genap menjadi 100 tahun atau satu abad. Kemudian muncul gagasan atau ide indonesia menjadi emas pada tahun tersebut, yaitu 2045. Bibit-bibit sekarang sudah bermunculan untuk mengambil peran, mengukir sejarah maupun menjadi penerus estafet perjuangan para pendahulunya. Maka untuk menyongsong bonus demografi 2030 dan Indonesia emas 2045 kita perlu menyiapkan kader bangsa yang sebaik mungkin kualitasnya.
Dalam menyambut dua era tersebut, maka kita harus cerdas dalam beragama, berbudaya dan bernegara. Ketiga hal ini jika kita laksanakan dengan cerdas maka cukup jadi bekal bagi para kader bangsa untuk menyambut dua era tersebut dengan penuh optimisme. Secara umum cerdas dibagi menjadi 3, yaitu Intellectual quotient ( kecerdasan intelektual), emotional quotient ( kecerdasan emosi), dan spiritual quotient ( kecerdasan spriritual). Jika seorang manusia bisa mengoptimalkan 3 kecerdasan tadi dalam beragama, berbudaya, dan bernegara maka masyarakat akan lebih bisa menghargai, guyub dan rukun.
Dalam perspektif islampun nabi, para ulama dan para pengikutnyapun memilki definisi cerdas yang beraneka macam, dan memiliki substansi masing-masing. Berdasarkan hadis riwayat Tirmidzi, menurut Nabi Muhammad Saw. orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Jadi orang yang cerdas adalah ia yang selalu bermuhasabah diri, dan pandangannya jauh menatap ke depan.
Menurut salah satu ulama terkemuka yaitu Imam Syafii, orang yang paling cerdas menurut beliau adalah adalah orang yang zuhud. Yaitu orang yang sadar bahwa ada kehidupan yang akan kekal setelah hidup di dunia ini sehingga orang tersebut tidak menjadikan dunia menjadi tujuan yang utama.
Cerdas dalam beragama merupakan keadaan seseorang mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa yaitu dengan mengoptimalkan dan mengerahkan seluruh pikiran untuk kemajuan diri ia sendiri terkhusus dalam spiritualnya maupun kemajuan agamanya. Dengan cerdas beragama seseorang akan lebih mudah menyikapi sebuah perbedaan , entah dalam perbedaan keyakinan, pandangan politik maupun yang lainnya.
Orang yang cerdas dalam beragama ia tidak akan condong ke kanan ( radikal) dan condong ke kiri (liberal). Cerdas beragama tidak akan mudah menyalahkan yang lainnya, karena ia dewasa dan jauh berpikir ke depan. Jika sesorang cerdas beragama ia akan tau bahwa hakikat dari agama sendiri adalah kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan. Ajaran agama diperas seperti santan maka yang muncul dari ajarannya adalah untuk kebahagiaan.
Cerdas dalam berbudaya adalah keadaan seseorang bisa memilah dan memilih budaya mana yang baik untuk dirinya maupun untuk lingkungannya. Kemudian dengan berbudaya seseorang justru akan lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan dan dengan budaya ia akan lebih dekat kepada Tuhan. Kenapa bisa lebih dekat kepada Tuhan ? Karena dengan banyaknya budaya dan perbedaan yang ada, ia akan merenung, siapa yang meciptakan ini semua? Untuk apa semua ini ada? Maka Tuhan Yang Maha Esa menciptakan semua itu pasti ada manfaatnya untuk manusia. Baik itu sebagai karunia yang harus kita syukuri maupun sebagai cobaan yang harus kita hindari.
Orang yang cerdas dalam berbudaya ia akan menyaring, membentengi dirinya dari budaya yang buruk. Kemudian cerdas dalam bernegara, adalah keadaan di mana kita mentaati seluruh aturan, norma dalam tatanan yang ada dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebagai Subjek dalam negara kita harus mengambil peran serta memilki karya maupun manfaat bagi lingkungan sekitar.
Orang yang cerdas dalam bernegara akan menjadi warga negara yang baik, ia menjalani kehidupan akan sesuai dengan dasar falsafah negara ini, yaitu pancasila, ia juga akan mentaati konstitusi yang ada dari yang terkecil hingga terbesar. Ketiga hal yang telah penulis jelaskan di atas meupakan hal-hal yang fundamental untuk menyongsong bonus demografi pada tahun 2030 maupun Indonesia era emas pada tahun 2045.
