f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akal manusia

Akal untuk Mencari Sang Maha Benar, bukan Standar Kebenaran

Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama umat Islam mengajak berkali-kali agar kita tak hanya sekadar membaca, namun juga berpikir mendalam. Kehadiran akal pada manusia menjadi alat yang membantu manusia berpikir sebagaimana yang diperintahkan Al-Qur’an. Melalui pemikiran yang mendalam, umat Islam dapat menemukan keyakinan yang teguh akan keberadaan Tuhan, sehingga keimanan yang diyakini saat ini tak hanya sekadar warisan dari orang tua, namun juga benar-benar atas dasar yang tidak mampu digoyahkan.

Sayangnya, dalam pendidikan keagamaan yang didapat anak-anak di Indonesia, urgensi pelaksanaan tata ibadah dan hal-hal yang bersifat teoretis ditekankan dibanding alasan kuat pentingnya memeluk Islam. Singkatnya, why yang seharusnya menjadi lapisan pertama dalam pembelajaran akidah tergerus dengan what dan how to. Meski tidak sepenuhnya salah, metode ini menyebabkan Islam yang dipegang oleh kita hanya status belaka. Amal perbuatan tidak lagi berbeda dengan penganut agama lain.

*

Satu cara yang dapat menebus kesalahan yang membudaya ini dengan memikirkan kembali alasan pentingnya Islam sebagai agama satu-satunya yang pantas diyakini. Disinilah Allah tunjukkan salah satu kuasa-Nya, yakni melalui kelengkapan “akal” bagi manusia. Keutamaan akal bagi manusia ditegaskan tak hanya untuk membedakan “kesempurnaan” penciptaan manusia atas makhluk lain, namun juga menjadi standar perbuatan dapat dihisab atau tidak. Ketika manusia mencapai tahap akil balig, maka seseorang baru dikatakan amalnya dapat dipertanggungjawabkan. Akil dapat diasosiasikan dengan akal yang berfungsi baik. Bayi dianggap belum mencapai tahap akil karena belum mampu mencerna informasi dengan baik melalui penggunaan akal. Sementara balig bermakna sudah dewasa secara biologis karena sudah menstruasi atau mimpi basah.

Menariknya, apabila manusia telah melewati masa akil balig, tetapi akal tidak bekerja sebagaimana mestinya, seperti gila, tidur, atau tidak sengaja melakukan hal yang dilarang agama, maka perbuatan tersebut tidak dihisab. Bahkan, Allah dengan tegas menurunkan aturan yang dapat menjamin agar akal bekerja dengan baik dengan melarang konsumsi alkohol, narkoba, hingga pornografi.

Baca Juga  Generasi Z, Muhammadiyah, dan Masa Depan Bangsa

Ketika akal dapat bekerja dengan baik, maka proses ini disebut berpikir. Berpikir yang logis dapat terjadi jika terdapat fakta, indra, otak yang sehat, dan informasi sebelumnya yang telah dikumpulkan. Informasi yang sebelumnya ini dapat berkaitan dengan pengalaman, bacaan, tontonan, lingkungan, atau informasi dari tokoh yang sering didengar. Semakin banyak informasi yang tersimpan, semakin luas kemungkinan kesimpulan yang dapat diambil. Namun, jika salah satu syarat berpikir dari empat hal di atas hilang, akan sulit menentukan kesimpulan yang tepat.

*

Namun, seberapa jauh akal dapat digunakan dalam Islam? Anjuran untuk berpikir telah disebutkan di dalam Al-Qur’an agar keimanan yang dipegang tiap Muslim kokoh sebagaimana akar yang kuat menunjam tanah. Meski keimanan tidak terlihat, namun perbuatan sebagai representasi keimanan akan terlihat jelas. Jika akar menggambarkan keimanan seseorang, maka batang pohon dapat melambangkan perbuatan yang dihasilkan.

Batang yang kokoh dapat berdiri hasil dari akar yang tumbuh subur di dalam tanah. Agar keimanan dalam diri seseorang tertanam dengan kuat, maka perlu bukti pendukung yang dapat membantunya menguatkan iman yang telah dimiliki sejak lahir, sebagaimana sebagian besar dari kita mengalaminya, yakni lahir dari keluarga Muslim.

Pencarian bukti untuk menguatkan iman digunakan hingga batas penemuan Tuhan sebagai entitas tertinggi. Melalui keyakinan eksistensi Tuhan yang satu, maka seperangkat aturan yang turun karena perintah-Nya akan dengan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, meski Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, penerapan aturan Islam bagi penganutnya masih sekadar tebang pilih. Sebagian syariat yang dianggap mudah dan menyenangkan baginya akan diterapkan. Sebaliknya, syariat yang dianggap menyulitkan akan dilewatkan.

*

Perlu diperhatikan bahwa kesalahan menempatkan akal dapat menyebabkan seseorang mempertanyakan syariat atau perintah-Nya. Padahal, akal bukan digunakan sebagai standar kebenaran. Mengapa demikian? Sebagai contoh, adanya perbedaan cara makan di berbagai belahan dunia bukan berarti menyebabkan satu cara lebih baik dari yang lain.

Baca Juga  Dukung Perempuan Korban Kekerasan Seksual, Voice of Baceprot Rilis Lagu [Not] Public Property

Penggunaan sumpit bagi orang Jepang dianggap lebih “benar”, begitu juga bagi orang-orang di Amerika Serikat dalam penggunaan sendok dan garpu. Contoh ini menggambarkan bahwa hasil kesimpulan yang dapat ditarik manusia hasil olah pikirnya dari akal akan bersifat relatif. Maka, sangat tidak cocok digunakan dalam penentuan standar kebenaran. Sebagai upaya agar kehidupan manusia memiliki standar tetap, tanpa membedakan ras, negara, bahkan status ekonomi, maka akal digunakan untuk mencari entitas yang mampu memberikan hukum tertinggi, yakni Tuhan. Dengan begitu, akal menjadi alat untuk menemukan Sang Maha Benar, bukan standar kebenaran.

Kembali ke konsep pohon yang telah disebutkan di atas, akar yang kuat sebagai lambang keimanan seseorang memang tidak terlihat dari luar, tetapi perbuatan yang menjadi pelaksanaan keimanan tersebut akan terlihat jelas dari luar sebagaimana batang yang menjulang ke langit. Bahkan, apabila batang pohon yang dihasilkan sehat, maka akan tumbuh daun yang rindang dan buah yang banyak sehingga dapat bermanfaat bagi orang banyak. Begitulah ketika iman tertanam di dalam hati, perbuatan dilakukan untuk mewujudkan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka kebermanfaatan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar. Akhirnya, terlihat jelaslah konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Bagikan
Post a Comment