Barang Titipan (Part 3)
Pukul 20 lewat sedikit suamiku tiba. Segera aku keluar menyambutnya di teras.
“Assalamu’alaikum,” salam suamiku sambil menyerahkan tas kerjanya.
“Wa’alaikum salam,” balasku, kuraih dan kucium tangannya.
“Lama menungguku ya?”
“Iya, hampir dingin lagi tuh makan malamnya.” Aku tersenyum, kubuat senormal mungkin. Sekuat tenaga menahan gejolak dalam hatiku.
“Abang mandi aja dulu, ya?”
“Ya, Bang!”
Suamiku masuk kamar, terlihat keletihan di wajahnya. Membuatku semakin tidak tega untuk mengabarkan apa yang terjadi saat ini. Aku akan memberitahukannya nanti setelah suami tenang, hilang penat dan capeknya.
“Abang tadi tengok sebelum mandi, Humaira lelap sekali tidurnya,” kata suamiku sesaat setelah duduk di meja makan, dan minum seteguk.
Aku pura-pura sibuk membereskan piring dan gelas, tidak segera merespon perkataannya.
“Mungkin tidak ingin mengganggu ayah bundanya,” jawabku berusaha bercanda menyembunyikan kesedihanku.
“Halah, ada yang rindu berat rupanya,” suamiku membalas candaku.
Aku hanya tersenyum. Sengaja memang, suasana kubuat sedemikan rupa, supaya suamiku tenang dan teralihkan keinginannya untuk menggendong Humaira. Kebiasaannya memang, setiap pulang dari dinas luar kota, jam berapa pun, suamiku selalu menggendong Humaira.
Selesai makan malam, Kami tidak beranjak dari meja makan, disambung obrolan ringan. Aku yang aktif mengajak suamiku berbincang.
“Bagaimana persiapan opening kantor cabangnya, Bang?” kataku mengawali obrolan.
“Alhamdulillah …, lancar. Di luar perkiraan. Semua urusan dimudahkan, perijinan yang biasanya makan beberapa hari, dua hari beres. Finishing kantor yang diperkiraan akan selesai hari Jumat, ternyata tadi sudah selesai. Dan, yang spesial, Walikota sudah menyatakan siap hadir saat pembukaan nanti.”
Aku senang mendengarnya. Terlihat antusias sekali suamiku menceritakan tentang pekerjaannya.
“Tahu nggak, De?” Suamiku meraih kopi susu dan meneguknya setelah sebelumnya menghirup asapnya yang mengepul. Itu memang kebiasaannya kalau minum kopi. Lalu lanjutnya, “Abang merasakan, semenjak kelahiran anak kita, segala urusan pekerjaan abang sepertinya jadi mudah.”
…
Aku lagi-lagi hanya tersenyum. Sekuat tenaga menjaga agar roman muka tidak berubah mendengar pernyataannya. Aku hanya menbalas pendek, “Syukurlah, Bang.”
Aku segera meraih gelas dan piring kotor dan membawanya ke dapur. Sengaja. Sepertinya Aku tidak akan tahan menahan tumpahan airmata. Dan, di dapur Aku menenangkan diri. Kutarik napas panjang. Setelah merasa tenang, Aku kembali menemani suamiku. Melanjutkan obrolan yang sempat terhenti saat aku ke dapur. Jam dinding menunjukkan hampir pukul 22, kopi suamiku pun terlihat sudah habis.
“Tidur yuk, Bang! Lelah sekali badan ini.” Hampir saja aku keceplosan bahwa seharian di rumah sakit.
“Lelah apa lelah …?” goda suamiku. “Memangnya aku ga rindu, De?” pelan suamiku beranjak dari kursinya dan menghampiriku, memegang pundakku dari belakang kemudian berbisik, “Kamu sudah keramas kan?”
“Iiih …, apaan sih.” Aku menengadah memandang mukanya, Dia langsung mengecup keningku. Kemarin waktu suamiku berangkat ke luar kota, memang aku sedang datang bulan, hari terakhir.
Suamiku kemudian masuk kamar setelah mengerling nakal. Aku tidak segera bangkit menyusul. Beribu rasa berbaur dalam hati. Ingin menyenangkan suamiku, tapi muncul pertanyaan, ‘pantaskah kami sepasang suami istri berpadu kasih di tengah suasana yang seharusnya bersedih?’
Aku ingin suamiku dalam kondisi tenang saat nanti mendengar kabar tentang Humaira.
Aku berdiri dan segera menyusul ke kamar. Suamiku sedang berdiri di pinggir tempat tidur Humaira saat aku masuk. Senyum-senyum sendiri memperhatikan putrinya.
“Cantik sekali putri kita ya De? Secantik ibunya.”
Aku hanya tersenyum dan merebahkan diri di kasur.
“Tenang sekali tidurnya.” Suamiku mencium Humaira, lalu menghampiriku dan berbaring di sebelah kananku.
Malam pun Kami lewati dengan berlayar di lautan bunga yang mewangi. Bagaikan bertemunya bunga mawar dengan kumbang yang lama tidak berkunjung. Mawar pun menyerahkan semua madunya pada sang kumbang.
***
Sayup-sayup suara adzan awal membangunkanku. Pelan Aku menurunkan tangan kanan suamiku yang memeluk pinggangku. Masih jam tiga pikirku. Kubiarkan suamiku melanjutkan istirahatnya setelah lelah mendayung rasa. Sementara ku segera beranjak ke kamar mandi.
Setelah shalat tahajud dan berdoa, Aku meraih kitab hadis yang kemarin kubaca. Aku kembali membuka halaman yang sama dan membaca lagi. Kudekap kitab hadis itu dan memohon, “Ya Allah yang membolak-balikkan hati, berilah ketenangan dan kesabaran pada suamiku. Berilah hamba-Mu ini kekuatan saat menyampaikan kabar pada suamiku.”
Beberapa menit sebelum adzab subuh, Aku bangunkan suamiku.
Karena mesjid di perumahan ini lumayan jauh dan sepi karena masih banyak rumah yang belum dihuni, suamiku jarang sholat Subuh di masjid, rutin ke masjid kalau shalat Maghrib dan Isya.
Selesai shalat berjama’ah, suamiku yang jadi imam berbalik, akupun mencium tangannya. Biasanya, kami lanjutkan dengan tadarus, membaca Al-Qur’an. Tapi kali ini, masih dengan memegang tangannya, Aku berkata lirih.
“Bang, ada yang ingin Aku bicarakan.”
“Oh ya, apa De?” Suamiku melepaskan tanganku dan membetulkan pecinya.
“Bang …, sekiranya ada orang yang menitipkan sesuatu pada kita, lalu orang itu hendak mengambil kembali, bolehkah kita menolak mengembalikannya?” Aku memandang mata suamiku.
“Kamu ini bicara apa De? Kirain mau bicara apa.”
“Jawab saja Bang, bolehkah Kita menahan sesuatu itu dan tidak menyerahkannya pada yang punya?”
“Iya nggak boleh dong. Itu berarti bukan milik Kita. Lagian, barang apa sih?” Suamiku penasaran.
Aku meraih kedua tangan suamiku dan kucium keduanya.
…
“Bang, Abang masih cinta sama Aku kan?” lirih Aku bertanya.
“De …, ada apa sih? Subuh-subuh sudah nanya yang aneh-aneh. Ya pasti, Abang masih cinta.
Memang kenapa De?” Suamiku membetulkan mukenaku.
Aku memeluk suamiku erat, airmata yang sejak tadi kutahan, tumpah ruah beriringan dengan tangisanku. “Maafkan aku, Bang. Aku tidak bisa menjaga amanahmu.”
“Ada apa ini, kenapa Kau menangis De?” Suamiku melepaskan pelukanku.
“Humaira, Bang.” Aku tak sanggup memandang matanya yang menatapku.
“Ada apa dengan Humaira?”
“Dia …, Dia diambil oleh pemiliknya ….” Aku berkata sambil menjatuhkan wajahku ke pangkuannya.
“Maksudnya … bagaimana.” Suamiku memegang bahuku berusaha mengangkatku. Tapi Aku bertahan, bersimpuh di pangkuannya.
“Humaira, Bang. Humaira telah tiada.” Tangisku semakin kencang. Airmataku membasahi kain sarungnya.
“Apa?!” Suamiku berteriak. Dia mengangkat bahuku dengan keras. Aku tetap bertahan, Aku merangkul erat pinggangnya, tak sanggup aku bangkit.
“Bagaimana, De? Bagaimana bisa terjadi?” suara suamiku terdengar pelan, tangannya masih memegang bahuku. Kurasakan getaran tubuhnya menahan amarah sekaligus sedih.
Setelah puas menumpahkan airmata, aku pun menceritakan semuanya, sejak malam kemarin, sejak Humaira dibawa ke rumah sakit.
“Jadi jam empat? Dan Kamu baru memberitahuku sekarang?”
Aku tidak menjawab.
“Tega kamu, De ….” Suamiku tidak melanjutkan kalimatnya.
Suamiku lemas, menyandarkan tubuhnya di dinding mushola.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.” Lirihnya.
Aku pun menjelaskan alasan tidak segera memberitahunya. Suamiku akhirnya mengerti dan mau menerima kenyataan.
Satu jam Aku menumpahkan perasaan yang kutahan sejak dua belas jam yang lalu. Satu jam pula untuk menenangkan suamiku.
“Ya sudah, sekarang kau kasih tahu ibu, ibuku biar Abang yang menelpon.”
***
Semburat mentari pagi mengantarkan Humaira ke persinggahan terakhirnya. Semilir angin sejuk menyambut Kami di pemakaman. Aku menyandarkan kepalaku di dada suamiku saat Humaira dibawa turun, lalu tanah merah menutupinya. Suamiku tegak, tangannya erat memeluk pinggangku. Gemuruh detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.
Pegawai BUMN tinggal di Tasikmalaya, aktif menulis di blog pribadi, kompasiana, grup-grup FB, dll.
Twitter : @wid_urip
