f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kesehatan balita

Optimalisasi Kesehatan Balita di Rumah Selama Adaptasi Kebiasaan Baru

Balita merupakan kelompok umur yang turut terdampak pandemi Covid-19. Di samping kebutuhan imunisasi, balita juga membutuhkan pemantauan berkala dari tenaga kesehatan terkait pemenuhan gizi dan tumbuh kembangnya. Yang umumnya, dilakukan melalui kegiatan posyandu maupun di pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Namun, di masa pandemi ini menjadikan kegiatan posyandu vakum. Beberapa sudah beroperasi, namun dibatasi. Pandemi ini juga menjadikan balita sebagai kelompok rentan paparan. Padahal, balita perlu keluar rumah untuk mengakses pemantauan berkala tersebut.

Adapun Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) dalam hal ini, telah menempatkan “peningkatkan status gizi balita” sebagai salah satu sasaran strategis dalam Renstra Kemenkes 2020-2024. Sebab kondisi pandemi ini dikhawatirkan justru meningkatkan insiden tripple burden yang masih terjadi di Indonesia. Yaitu wasting, stunting, dan underweight. Maka dari itu, pemantauan pemenuhan gizi dan tumbuh kembang balita perlu dioptimalisasi oleh orang tua di rumah agar masalah kesehatan balita dapat terdeteksi sejak dini.

2 Hal untuk Optimalisasi Kesehatan Balita di Rumah

Pertama, pentingnya peran orang tua dalam menjaga kesehatan balita. Menurut Hidayat dalam “Pengantar Ilmu Kesehatan Anak unuk Pendidikan Kebidanan”. Selain fakor budaya masyarakat (misalnya pantang makanan); faktor yang mempengaruhi kesehatan balita dapat berasal dari keluarga. Yakni bagaimana keluarga andil memantau tumbuh kembangnya; memenuhi kebutuhan asah, asih, asuhnya; memberikan dan menyediakan makanannya; melindungi kesehatan fisik dan psikologisnya; serta mendidiknya dengan norma yang baik.

Masa keemasan balita akan optimal jika didukung dengan kesehatannya, di mana salah satu indikator kesehatan tersebut dapat diketahui melalui status gizinya. Gizi yang cukup dapat membantu kematangan tumbuh kembang balita dan memperbaiki ketahanan tubuhnya sehingga dapat terbebas dari penyakit.

Baca Juga  Meningkatkan Komunikasi Positif dalam Keluarga

Kedua, upaya yang dapat dilakukan orang tua di rumah. Mengutip dari Kemenkes RI dalam “Panduan Pelayanan Kesehaan Balita pada Masa Tanggap Darurat Covid-19 untuk Tenaga Kesehaan. (2020)”, orang tua dapat menjaga kesehatan anak secara mandiri di rumah dengan memenuhi asupan gizinya sesuai umur anak dengan mengacu informasi buku KIA, di antaranya:

  1. Ibu tetap dianjurkan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan memperhatikan upaya pencegahan infeksi dan tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. (Ibu dengan kasus suspek tidak dianjurkan IMD atau menyusui langsung.
  2. Bayi Baru Lahir (BBL) sampai berumur 6 bulan diberikan ASI Eksklusif.
  3. Bayi 6 bulan sampai 2 tahun melanjukan ASI ditambah Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sesuai pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) yang baik dan benar.
  4. Anak umur 2 tahun lebih diberi makanan keluarga yang memenuhi gizi seimbang (perbanyak buah dan sayuran).
…

Adapun stimulasi perkembangan, dapat dilakukan keluarga setiap saat dalam suasana yang menyenangkan; dan pemantauan perkembangan dilakukan keluarga setiap bulan sesuai umur anak yang mengacu informasi buku KIA (tools pemantauan perkembangan tersedia dalam rentang umur 0-3 bulan, 3-6 bulan, 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-5 tahun, dan 5-6 tahun).

Keluarga dapat menindaklanjuti hasil pemantauan perkembangan, yaitu; bila hasil deteksi perkembangan telah sesuai umur anak (didapatkan hasil semua ceklist perkembangannya terisi), maka dapat melanjutkan simulasi berikutnya sesuai umur anak. Namun, jika hasil deteksi perkembangan yang didapat belum sesuai umur anak (ada salah satu atau lebih ceklist perkembangan belum terisi), maka orang tua harus sabar melakukan simulasi beberapa kali sehari selama 2 minggu namun tidak boleh ada paksaan.

Jika anak tetap tidak bisa melakukan, orang tua perlu segera berkonsulasi ke tenaga kesehatan; baik dokter, bidan, ataupun perawat melalui handphone. Jika sangat diperlukan, orang tua dapat membuat janji dengan mereka untuk melihat kondisi anak.

Baca Juga  Kubuka Album Kenangan ketika Isolasi Mandiri
Saran untuk Orang Tua Balita

Pertama, adaptasi kebiasaan baru bukan berarti pandemi sudah kembali normal, melainkan hanyalah transformasi dari kebijakan sebelumnya. Artinya, kita masih berada dalam situasi pandemi dan masih potensial untuk terpapar. Maka dari itu, hendaknya tetap mematuhi protokol pencegahan, seperti memakai masker, social distancing, dan cuci tangan. Hal ini tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri, melainkan juga balita. Adapun arahan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), anak-anak dianjurkan tetap di rumah (kecuali sangat mendesak) dan harus tetap dipenuhi hak imunisasinya.

Kedua, kondisi pandemi rawan mempengaruhi kesehatan mental kita, orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya. Menjaga kesehatan mental diperlukan bagi orang tua balita agar dapat memantau perkembanganya selama di rumah, menyediakan asupan gizi sesuai kebutuhannya, dan memastikan balita mencapai tumbuh kembang optimal dalam keadaan apapun. Selain itu, hindari informasi simpang-siur yang mengakibakan strees bahkan psikosomatik (cemas berlebihan sehingga timbul gejala mirip virus corona, padahal fakanya tidak), lakukan self healing untuk mengatasi bosan, dan berkonsultasi kepada ahlinya.

Bagikan
Comments
  • Zahra

    Penting sekali informasinya kak. Lebih ke pemanfaatan buku KIA juga ya.

    Desember 1, 2020
  • Bagus penjelasannya sangat informatif. Terimakasih^^

    Desember 3, 2020
Post a Comment