f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Candaan

Berhenti dengan Candaan Fisik!

“Kalau tertawa itu ditutup. Kasian yang lihat gigi ndongosmu nanti ketakutan,” Ucap salah satu murid di sekolahku.

Dalam benak saya itu lah yang mereka ucapkan pada teman saya waktu itu saat kami duduk di bangku SMP. Persis yang mereka ucapkan dengan suara mengejek. Tak ada rasa bersalah dia pada mereka, entah apa yang merasuki pikiran mereka pada fisik teman saya yang tak sempurna.

Ejekan dan Candaan Fisik

Benar, ini hanya masalah candaan pada fisik teman saya 3 tahun silam, sebut saja namanya Ana. Candaan fisik yang membekas membuat hidup teman saya menjadi kacau. Tak peduli yang mereka katakan kepada kehidupan teman saya ini. Tak main-main candaan yang mereka lontarkan dengan pedas terhadap fisik teman saya ini, dengan julukan si tongos, si bau, si krempeng dan banyak lagi.

Berbagai sikap mereka yang keterlaluan terlintas dalam benak saya, bahkan mungkin masih membekas di hati teman saya ini, walau sudah 3 tahun berlalu dan nampaknya dia masih ingat betul detail-detail perkara di dalam kasus bully ini. Seperti ini mungkin sedikit kasus itu.

Saat itu saya dan dan Ana balik dari kamar mandi kemudian menuju kelas dan seperti biasa saat itu kami mendengar bel istirahat menandakan istirahat telah datang. Akhirnya kami bergegas menuju kantin bersama Ana dan 3 teman saya lainya. Ah, sialnya kami bertemu gerombolan anak kelas lain yang sedang duduk di bangku kantin. Nampaknya, mereka sudah memperhatikan kami dari tadi.

Benar dugaan saya. Malang bukan kepalang. Mereka mulai memanggil Ana dengan sebutan si gigi tongos. “ Oy, kau gigi tongos, mau makan di kantin sini?” ejek mereka kepada Ana. Tak sudi, kami tak terima. Kami balas dengan sindiran. “Sok suci lu, emang lu lahir di dunia sempurna?”

Baca Juga  Mau Main Medsos ? Jangan Baper !
Perudungan atas Candaan Fisik

Seketika, mereka dengan tatapan tak terima lalu melemparkan kertas dan membuang air liur kemudian meninggalkan kami. Saya langsung tertawa lepas dan teman-teman saya pun ikut puas dengan apa yang saya sampaikan pada mereka yang sudah keterlaluan kepada Ana. Selepas itu, kami makan di kantin. Di tengah-tengah perbincangan hangat kami dengan Ana, tiba-tiba muncul ketua geng kelas sebelah, sebut saja Dea, terkenal dengan sifatnya yang suka membuly teman angkatan terutama Dea.

“Eh, kau gigi tongos kalau makan tuh yang cantik nih, kek kita”, ucap si Dea. Teman- teman Dea ikut mengejek Ana. Saya yang mulai emosi karena ucapan mereka, tetapi saya pendam. Jika saya teruskan akan berdampak fatal kepada saya dan teman-teman saya yang akan berakhir di depan guru BK. Dalam hati saya ingin ikut campur, tetapi situasi yang sedang tidak memungkinkan. Setelah itu, mereka pindah dengan perasaan biasa saja, walaupun mereka tahu perkataan mereka menyinggung fisik Bunga.

Kami akhirnya menuju kelas karena suasana sudah mulai sepi. Tiba waktunya, pelajaran yang membosankan bagi saya dan semua siswa kelas saya datang. Nah, pelajaran ini adalah kesempatan bagi teman-teman di kelas saya untuk membuat kegaduhan, terutama saling melemparkan ejekan untuk Ana. Saya sudah menduganya. Kejadian yang berkali-kali terulang dan membuat saya ingin membalas ucapan mereka. Hati kecil saya tak akan terima jika ada tindakan mereka yang menjadikan fisik Ana menjadi bahan ejekan.

***

Benar saja, kasus perudungan semakin menjadi saat saya dan teman setia Ana tidak menemaninya saat dia ingin ke kamar mandi. Dia menjadi sasaran empuk Dea dan teman-temanya. Tiba-tiba, Ana menghampiriku dan menatapku seolah ada hal buruk menimpanya. Ternyata benar, Dea telah medorong tubuh Ana ke kamar mandi. Terlihat bekas tangisan di pipinya yang tampak basah.

Baca Juga  Ummu Qais dan Hadis Nabi tentang Penolakannya atas Lamaran

Saya mencoba menenangkan tubuhnya yang terlihat ketakutan. “Sudah tidak apa-apa,” kataku sambil menenangkan Ana. Setiap ada perkataan orang yang saya rasa menyinggung fisik Ana saya tidak akan sungkan-sungkan menegur dan menasihati orang-orang yang selalu melihat satu sisi Bunga. Sudah berkali kali saya terbawa emosi dan bahkan saya bilang kepada mereka “Berhenti! Ucapan kalian bukan hiburan semata untuk bahan candaan, tetapi menjadi pisau yang dapat melukai hati Ana bahkan nyawanya sekalipun.”

Wait wait..

Coba deh, bayangin Anda menjadi Ana si korban bully. Berkali-kali korban merasa hidupnya akan berakhir dan sering kali mencoba mengakhiri nyawanya dengan  melakukan bunuh diri. Obat-obatan yang melebihi dosis sering dicobanya  hingga sayatan pisau yang ada di tanganya membuatnya tak sadar dan selalu berada di rumah sakit.

Di dunia ini manusia gak ada yang sempurna. Fisik yang dianggap good looking saja terkadang banyak yang bad attitude. Oleh karena itu, didikan dari orang tua sangatlah penting saat ingin berinteraksi dengan orang lain. Orang tua mengarahkan dan selalu memberikan contoh yang baik sehingga anak dapat meniru untuk diterapkan di lingkunganya nanti.

Tanpa mereka tahu apa yang mereka katakan kepada korban adalah tindakan yang sudah berbahaya bagi nyawa korban. Tidak hanya satu kali atau dua kali, bahkan berkali-kali fisik yang Tuhan ciptakan untuknya selalu dihina oleh hamba-Nya sendiri. Walau hanya candaan yang mereka maksud, tetapi bisa jadi itu adalah hinaan yang paling sakit laksana pedang yang sekali tertancap akan terus membekas. 

Rahmania, setiap fisik yang diciptakan Tuhan adalah hadiah terindah dan setiap orang juga tidak bisa memilih terlahir dalam bentuk fisik seperti apa. Bukankah lebih baik sebagai manusia harus selalu bersyukur dan terus memperbaiki diri. Ingat, selalu libatkan Tuhan di manapun dan apapun situasinya.

Bagikan
Post a Comment