f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
buruh

Umar Ibnu al-Khathab dan Pelajaran Darinya (2)

Ada pertanyaan, apakah Umar ibnu al-Khathab Ra. pernah mengubur bayi perempuannya hidup-hidup sebagaimana adat orang Arab jahiliyyah? Syaikh Utsman al-Khamis mengatakan bahwa, “Riwayat kisah Umar ibnu al-Khaththab mengubur bayi perempuannya hidup-hidup itu dari Jabir al-Ju’fi, seorang Syiah Rafidhah dan pendusta.

Riwayatnya tidak diterima sebab kebid’ahannya sebagai seorang Rafidhah, dan sebab cacat dalam ucapannya sebagai pendusta.” Salah satu dari istri Umar ibnu al-Khathab yang dinikahinya di masa Jahiliyyah ialah Zainab binti Maz’un, saudara perempuan Utsman bin Maz’un. Dari Zainab ini lahirlah bayi perempuan beliau yang bernama Hafshah sebagai anak yang paling besar dan dilahirkan lima tahun sebelum masa kenabian.

Mengapa Hafshah, anak perempuan tertua, dibiarkan hidup jika beliau dikatakan benci kepada anak perempuan? Dengan demikian, Umar ibnu al-Khaththab Ra. memang tidak pernah membunuh bayi perempuannya. Hal ini juga dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Shalih al-Ushaimy (Dosen Aqidah di Arab Saudi) yang menyatakan bahwa riwayat dan tuduhan Umar ibnu al-Kaththab membunuh dan mengubur hidup-hidup bayi perempuannya di masa Jahiliyyah adalah tidak benar atau kabar bohong.[1]

****

Berangkat dari peristiwa itu, ada permasalahan yang bentuknya hampir sama dengan kejahilan ini, yakni aborsi. Secara definitif, aborsi ialah berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan sebelum 20 minggu (dihitung dari hari terakhir) atau berat janin kurang dari 500 gr, panjang kurang dari 25 cm. Dalam medis, aborsi diartikan sebagai berakhirnya suatu kehamilan sebelum viability, sebelum janin mampu hidup sendiri diluar kandungan, yang diperkirakan usia kehamilannya dibawah usia 20 minggu (WHO).[2] Berdasarkan laporan WHO tahun 2006, aborsi meningkat menjadi 2,3 juta kasus per tahun atau 6.301 kasus per hari setara 4 kejadian per detiknya.

Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2006 melaporkan bahwa 87% aborsi dilakukan oleh istri atau ibu dan 15-20% dilakukan oleh perempuan muda yang belum menikah. Alasan dilakukannya aborsi pada perempuan yang belum/tidak menikah ialah sebab usia masih muda, pria tidak mau betanggungjawab, takut pada orangtua, berstatus hamil diluar nikah, berstatus perempuan simpanan, dan dilarang hamil oleh pasangannya.

Sedangkan pada istri atau ibu, alasannya sebab kegagalan alat kontrasepsi, jarak kelahiran terlalu rapat, jumlah anak terlalu banyak, terlalu tua untuk melahirkan atau alasan medis, faktor sosial ekonomi, dalam proses perceraian dengan suami, berstatus istri kedua, dan suami tidak menginginkan anak darinya.[3] Aborsi dilakukan dengan metode-metode berikut ini: aspirasi vakum atau D&K, medikasi oral dan pijatan, medikasi aborsi yang disuntikan, benda asing atau jamu-jamuan atau ramuan lain dimasukkan dalam vagina atau rahim, akupuntur, dan paranormal.[4]

****

Padahal, Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-An’am: 151 “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepada mu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada orangtua, janganlah membunuh anak-anak mu sebab miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada kamu dan mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah dia memerintahkan kepada mu agar kamu mengerti.’”, dan QS. At-Takwir: 8-9 “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh?”, serta QS. An-Nahl: 58-59 “Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”.

Pelajaran etika terhadap sains dari paparan diatas ialah sains digunakan bukan untuk membunuh atau menyiksa manusia. Didalam al-Qur’an, manusia memiliki empat istilah yang unik, yakni an-Naas (gerak atau nampak), al-Basyar (materi dan sifat atau kualitasnya, seperti melihat, memakan, berjalan, memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sempurna atau seimbang segala unsurnya), al-Insi (golongan atau kelompok), al-Insaan (dibebani tanggungjawab, pengemban amanah, dan khalifah di bumi), dan total 361 kali disebut dalam al-Qur’an.[5]

Hal ini membuktikan bahwa manusia itu ciptaan Allah Swt. yang paling istimewa. Dan berkenaan anak, mereka bisa jadi tiket atau jalan ke surga. Kata orang bijak zaman dulu, semakin manusia mengerti tentang dirinya, mulai dari raga sampai jiwa, semakin mereka mengenal Allah Swt. dan merasakan kenikmatan mendekat kepada-Nya. Hadirkan rasa beruntung dikaruniai anak, paling dasar lagi beruntung diciptakan sebagai manusia, dan rahmat Allah itu sangat luas maka jangan pernah putus asa dari-Nya.

Penyayang Binatang Vs. Eksploitasi Habitat

Suatu ketika Amirul Mukminin Umar ibnu al-Khathab Ra. tengah duduk disamping unta yang sakit. Ia duduk sambil menangis dan berkata, “Demi Allah, aku tidak mengerti apa yang terjadi pada mu. Aku sungguh takut, kelak Allah akan menanyaiku tentang mu dan meminta pertanggungjawaban ku pada hari kiamat.”

Waktu itu, Khalifah Umar Ra. pernah mengatakan, “Jika ada seekor unta yang tergelincir di jalan di negeri Iraq, aku takut dituntut Allah di akhirat kelak: Mengapa kau tak membuat jalan yang baik sehingga seekor unta tergelincir karenanya?” Di waktu lain, Ali ibnu Abi Thalib Ra. melihat orang tinggi besar dan gagah sedang berlari cepat bagaikan prajurit perang.

Ternyata, setelah dilihat dengan seksama, beliau Umar ibnu al-Khaththab Ra., Ali ibnu Abi Thalib Ra. bertanya, “Mau kemana wahai Amirul Mukminin?”, “Ada unta sedekah (milik negara) yang kabur, aku berlari mengejarnya!” jawab Umar. Dalam riwayat lain, lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, matahari seakan didekatkan hingga sejengkal. Dan lelaki itu masih terus berlari mengejar dan menggiring seekor anak unta sambil menutupi wajahnya dengan sorban dari pasir yang beterbangan.

Baca Juga  Mama : Malaikat Dunia
****

Tidak jauh darinya, berdiri sebuah dangau berjendela. Sang pemilik, Utsman ibnu Affan, sedang beristirahat dengan hidangan buah-buahan dan air sejuk sambil melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Ketika melihat lelaki yang berlari-lari itu, beliau mengenalinya, “Masya Allah” Utsman berseru, “Bukankah itu Amirul Mukminin?” Ya, lelaki tinggi besar itu ialah Umar ibnu al-Khaththab. “Ya Amirul Mukminin!” teriak Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang engkau lakukan di tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau disamping Utsman bergerak keras diterpa angin yang deras. “Ada dua ekor unta sedekah yang tertinggal dari kawanannya, sementara kawanan unta sedekah telah berlalu, maka aku berniat untuk menyusul dan membawa mereka ke pekarangan khusus sebab aku khawatir mereka hilang. Aku takut Allah akan menanyakan pada ku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai Utsman!” Umar berteriak dari kejauhan. “Masuklah kemari!” seru Utsman, “Akan ku suruh pembantu ku menangkapnya untuk mu!”. “Tidak!”, balas Umar, “Masuklah Utsman! Masuklah!”. “Sungguh, hai Amirul Mukminin, kemarilah. InsyaAllah unta itu akan kita dapatkan kembali.”. “Tidak, ini tanggungjawab ku. Masuklah engkau hai Utsman, anginnya makin kencang dan badai pasirnya deras!” Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya dan bergumam dengan suara perlahan, “Demi Allah, engkau wahai Umar bagaikan Nabi Musa As. seorang yang kuat lagi terpercaya.”[6]

Ada beberapa hadits yang patut dijadikan bahan instropeksi diri berkenaan hal ini, “Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Saat seorang lelaki berjalan, dia merasakan sangat dahaga. Maka dia ingin turun ke sumur untuk minum. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat sambil makan tanah sebab kehausan. Kata lelaki tersebut, “Sungguh anjing ini sangat kehausan.”

Maka dia keluar dari sumur dengan membawa sepatunya yang terisi air. Kemudian, dia memberi minum anjing tadi. Maka Allah mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah Saw., apakah mendapat pahala jika berbuat baik kepada binatang? Beliau bersabda, “Setiap aktivitas yang memberi manfaat atau menolong kepada makhluk yang bernyawa pasti Allah Swt. memberi pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat lainnya, “Seorang wanita dimasukkan ke neraka sebab kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan minum. Dia tidak melepasnya dan membiarkannya mencari makanan sendiri sehingga kucing itu mati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka lakukan cara terbaik. Jika kalian menyembelih hewan, maka berbuat baiklah dengan cara menajamkan alatnya dan memberikannya rasa nyaman.”(HR. Muslim). Kemudian hadits lainnya, Rasulullah Saw. pernah melihat rumah semut dibakar, maka beliau bertanya, “Siapa yang membakar rumah semut ini?” Lalu, sahabat menjawab, “Kami, ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh, tidak ada seorang pun yang berhak mengazab dengan api, kecuali Rabb yang memiliki api.” (HR. Abu Daud).

****

Berkaca dari hal diatas, realitas yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia mengungkapkan bahwa:

1. Eksploitasi sumber daya perikanan frekuensinya lebih sering daripada kejadian El Nino, maraknya penggunaan bom dan racun untuk menangkap ikan yang berkisar satu kali per bulan bahkan per pekan juga berakibat rusaknya terumbu karang. Kemudian, pencemaran pesisir terjadi sebab perpaduan bahan pencemar (organik seperti produk-produk rumah tangga, nitrogen, serta fosfor) dan sedimentasi yang berakibat hilangnya moluska dan karang.[7]

2. Guinnes Book of Record mencatat berkurangnya 2% lahan hutan per tahun di Indonesia, misalnya untuk industri kelapa sawit, pulp, dan kertas. Akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah orangutan serta terancamnya spesies-spesies tumbuhan dan hewan lainnya.[8]

3. Kerusakan alam dan hilangnya habitat telah menyebabkan puluhan ribu spesies terancam punah, di Indonesia jumlahnya sekitar 1126 spesies sehingga menempatkannya sebagai peringkat ke-5 dari 20 negara             di dunia yang spesies alamiahnya terancam. Kasus-kasus yang terjadi, contohnya deforestasi di Kalimantan dan penangkapan ikan secara ilegal di Laut Arafuru.[9]

4. Nelayan teripang, bom, dan bius menggunakan peralatan selam modern berdampak pada kemerosotan populasi sumber daya perikanan dan kerusakan habitat ekosistem terumbu karang.[10]

5. Dan lainnya.

Bersambug….


[1]     Fariq Gasim Anuz, Kepemimpinan dan Keteladanan Umar bin Khathab (Jakarta: Daun, 2016), hal. 10-11.

[2]     Mufliha Wijayati, Aborsi Akibat Kehamilan yang Tak Diinginkan (KTD): Kontestasi antara Pro-Live dan Pro-Choice, ANALISIS: Jurnal Studi Keislaman Vol. 15 No. 1 Juni 2015, hal. 46.

[3]     Moh. Saifullah, Aborsi dan Resikonya bagi Perempuan, JSH Jurnal Sosial Humaniora Vol. 4 No. 1 Juni 2011, hal. 17.

[4]     Aborsi di Indonesia, Jurnal Guttmacher Institute Seri 2008 No. 2, hal. 2.

[5]     Abah Salma Alif Sampayya, Keseimbangan Matematika dalam al-Qur’an (Jakarta: Republika, 2007), hal. 340-346.

[6]     Fariq Gasim Anuz, Kepemimpinan dan Keteladanan Umar bin Khathab (Jakarta: Daun, 2016), hal. 207-210.

[7]     Hadiyanto, Pemanasan Global, Eksploitasi Sumber Daya Perikanan, dan Pencemaran Pesisir Sebagai Penyebab Utama Perubahan Ekologi Laut di Indonesia, Jurnal Oseana Vol. XLII No. 2 Tahun 2017, hal. 6-9.

[8]     Tertangkap Basah Bagaimana Eksploitasi Minyak Kelapa Sawit oleh Nestle Memberi Dampak Kerusakan bagi Hutan Tropis, Iklim, dan Orangutan, Jurnal Greenpeace Maret 2010, hal. 2-5.

[9]     Sutarno dan Ahmad Dwi Setyawan, Biodiversitas Indonesia: Penurunan dan Upaya Pengelolaan untuk Menjamin Kemandirian Bangsa, Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon Vol. 1 No. 1 Maret 2015, hal. 7-10.

[10]   Munsi Lampe, Sjafri Sairin, dan Heddy Shri Ahimsa Putra, Perilaku Eksploitasi Sumber Daya Perikanan Taka dan Konsekuensi Lingkungan Dalam Konteks Internal dan Eksternal: Studi Kasus Pada Nelayan Pulau Sembilan, Jurnal Humaniora Vol. 17 No. 3 Oktober 2005, hal. 323.

Bukan Pembunuh Bayi Vs. Aborsi

Ada pertanyaan, apakah Umar ibnu al-Khaththab Ra. pernah mengubur bayi perempuannya hidup-hidup sebagaimana adat orang Arab jahiliyyah? Syaikh Utsman al-Khamis mengatakan bahwa, “Riwayat kisah Umar ibnu al-Khaththab mengubur bayi perempuannya hidup-hidup itu dari Jabir al-Ju’fi, seorang Syiah Rafidhah dan pendusta.

Baca Juga  Ketika Orang Tuaku Berpisah

Riwayatnya tidak diterima sebab kebid’ahannya sebagai seorang Rafidhah, dan sebab cacat dalam ucapannya sebagai pendusta.” Salah satu dari istri Umar ibnu al-Khaththab yang dinikahinya di masa Jahiliyyah ialah Zainab binti Maz’un, saudara perempuan Utsman bin Maz’un. Dari Zainab ini lahirlah bayi perempuan beliau yang bernama Hafshah sebagai anak yang paling besar dan dilahirkan lima tahun sebelum masa kenabian.

Mengapa Hafshah, anak perempuan tertua, dibiarkan hidup jika beliau dikatakan benci kepada anak perempuan? Dengan demikian, Umar ibnu al-Khaththab Ra. memang tidak pernah membunuh bayi perempuannya. Hal ini juga dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Shalih al-Ushaimy (Dosen Aqidah di Arab Saudi) yang menyatakan bahwa riwayat dan tuduhan Umar ibnu al-Kaththab membunuh dan mengubur hidup-hidup bayi perempuannya di masa Jahiliyyah adalah tidak benar atau kabar bohong.[1]

****

Berangkat dari peristiwa itu, ada permasalahan yang bentuknya hampir sama dengan kejahilan ini, yakni aborsi. Secara definitif, aborsi ialah berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan sebelum 20 minggu (dihitung dari hari terakhir) atau berat janin kurang dari 500 gr, panjang kurang dari 25 cm. Dalam medis, aborsi diartikan sebagai berakhirnya suatu kehamilan sebelum viability, sebelum janin mampu hidup sendiri diluar kandungan, yang diperkirakan usia kehamilannya dibawah usia 20 minggu (WHO).[2] Berdasarkan laporan WHO tahun 2006, aborsi meningkat menjadi 2,3 juta kasus per tahun atau 6.301 kasus per hari setara 4 kejadian per detiknya.

Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2006 melaporkan bahwa 87% aborsi dilakukan oleh istri atau ibu dan 15-20% dilakukan oleh perempuan muda yang belum menikah. Alasan dilakukannya aborsi pada perempuan yang belum/tidak menikah ialah sebab usia masih muda, pria tidak mau betanggungjawab, takut pada orangtua, berstatus hamil diluar nikah, berstatus perempuan simpanan, dan dilarang hamil oleh pasangannya.

Sedangkan pada istri atau ibu, alasannya sebab kegagalan alat kontrasepsi, jarak kelahiran terlalu rapat, jumlah anak terlalu banyak, terlalu tua untuk melahirkan atau alasan medis, faktor sosial ekonomi, dalam proses perceraian dengan suami, berstatus istri kedua, dan suami tidak menginginkan anak darinya.[3] Aborsi dilakukan dengan metode-metode berikut ini: aspirasi vakum atau D&K, medikasi oral dan pijatan, medikasi aborsi yang disuntikan, benda asing atau jamu-jamuan atau ramuan lain dimasukkan dalam vagina atau rahim, akupuntur, dan paranormal.[4]

****

Padahal, Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-An’am: 151 “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepada mu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada orangtua, janganlah membunuh anak-anak mu sebab miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada kamu dan mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah dia memerintahkan kepada mu agar kamu mengerti.’”, dan QS. At-Takwir: 8-9 “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh?”, serta QS. An-Nahl: 58-59 “Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”.

Pelajaran etika terhadap sains dari paparan diatas ialah sains digunakan bukan untuk membunuh atau menyiksa manusia. Didalam al-Qur’an, manusia memiliki empat istilah yang unik, yakni an-Naas (gerak atau nampak), al-Basyar (materi dan sifat atau kualitasnya, seperti melihat, memakan, berjalan, memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sempurna atau seimbang segala unsurnya), al-Insi (golongan atau kelompok), al-Insaan (dibebani tanggungjawab, pengemban amanah, dan khalifah di bumi), dan total 361 kali disebut dalam al-Qur’an.[5]

Hal ini membuktikan bahwa manusia itu ciptaan Allah Swt. yang paling istimewa. Dan berkenaan anak, mereka bisa jadi tiket atau jalan ke surga. Kata orang bijak zaman dulu, semakin manusia mengerti tentang dirinya, mulai dari raga sampai jiwa, semakin mereka mengenal Allah Swt. dan merasakan kenikmatan mendekat kepada-Nya. Hadirkan rasa beruntung dikaruniai anak, paling dasar lagi beruntung diciptakan sebagai manusia, dan rahmat Allah itu sangat luas maka jangan pernah putus asa dari-Nya.

Penyayang Binatang Vs. Eksploitasi Habitat

Suatu ketika Amirul Mukminin Umar ibnu al-Khaththab Ra. tengah duduk disamping unta yang sakit. Ia duduk sambil menangis dan berkata, “Demi Allah, aku tidak mengerti apa yang terjadi pada mu. Aku sungguh takut, kelak Allah akan menanyaiku tentang mu dan meminta pertanggungjawaban ku pada hari kiamat.”

Waktu itu, Khalifah Umar Ra. pernah mengatakan, “Jika ada seekor unta yang tergelincir di jalan di negeri Iraq, aku takut dituntut Allah di akhirat kelak: Mengapa kau tak membuat jalan yang baik sehingga seekor unta tergelincir karenanya?” Di waktu lain, Ali ibnu Abi Thalib Ra. melihat orang tinggi besar dan gagah sedang berlari cepat bagaikan prajurit perang.

Ternyata, setelah dilihat dengan seksama, beliau Umar ibnu al-Khaththab Ra., Ali ibnu Abi Thalib Ra. bertanya, “Mau kemana wahai Amirul Mukminin?”, “Ada unta sedekah (milik negara) yang kabur, aku berlari mengejarnya!” jawab Umar. Dalam riwayat lain, lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, matahari seakan didekatkan hingga sejengkal. Dan lelaki itu masih terus berlari mengejar dan menggiring seekor anak unta sambil menutupi wajahnya dengan sorban dari pasir yang beterbangan.

Baca Juga  Qishos Sawad bin Ghaziyyah

****

Tidak jauh darinya, berdiri sebuah dangau berjendela. Sang pemilik, Utsman ibnu Affan, sedang beristirahat dengan hidangan buah-buahan dan air sejuk sambil melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Ketika melihat lelaki yang berlari-lari itu, beliau mengenalinya, “Masya Allah” Utsman berseru, “Bukankah itu Amirul Mukminin?” Ya, lelaki tinggi besar itu ialah Umar ibnu al-Khaththab. “Ya Amirul Mukminin!” teriak Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang engkau lakukan di tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau disamping Utsman bergerak keras diterpa angin yang deras. “Ada dua ekor unta sedekah yang tertinggal dari kawanannya, sementara kawanan unta sedekah telah berlalu, maka aku berniat untuk menyusul dan membawa mereka ke pekarangan khusus sebab aku khawatir mereka hilang. Aku takut Allah akan menanyakan pada ku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai Utsman!” Umar berteriak dari kejauhan. “Masuklah kemari!” seru Utsman, “Akan ku suruh pembantu ku menangkapnya untuk mu!”. “Tidak!”, balas Umar, “Masuklah Utsman! Masuklah!”. “Sungguh, hai Amirul Mukminin, kemarilah. InsyaAllah unta itu akan kita dapatkan kembali.”. “Tidak, ini tanggungjawab ku. Masuklah engkau hai Utsman, anginnya makin kencang dan badai pasirnya deras!” Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya dan bergumam dengan suara perlahan, “Demi Allah, engkau wahai Umar bagaikan Nabi Musa As. seorang yang kuat lagi terpercaya.”[6]

Ada beberapa hadits yang patut dijadikan bahan instropeksi diri berkenaan hal ini, “Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Saat seorang lelaki berjalan, dia merasakan sangat dahaga. Maka dia ingin turun ke sumur untuk minum. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat sambil makan tanah sebab kehausan. Kata lelaki tersebut, “Sungguh anjing ini sangat kehausan.”

Maka dia keluar dari sumur dengan membawa sepatunya yang terisi air. Kemudian, dia memberi minum anjing tadi. Maka Allah mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah Saw., apakah mendapat pahala jika berbuat baik kepada binatang? Beliau bersabda, “Setiap aktivitas yang memberi manfaat atau menolong kepada makhluk yang bernyawa pasti Allah Swt. memberi pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat lainnya, “Seorang wanita dimasukkan ke neraka sebab kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan minum. Dia tidak melepasnya dan membiarkannya mencari makanan sendiri sehingga kucing itu mati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka lakukan cara terbaik. Jika kalian menyembelih hewan, maka berbuat baiklah dengan cara menajamkan alatnya dan memberikannya rasa nyaman.”(HR. Muslim). Kemudian hadits lainnya, Rasulullah Saw. pernah melihat rumah semut dibakar, maka beliau bertanya, “Siapa yang membakar rumah semut ini?” Lalu, sahabat menjawab, “Kami, ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh, tidak ada seorang pun yang berhak mengazab dengan api, kecuali Rabb yang memiliki api.” (HR. Abu Daud).

****

Berkaca dari hal diatas, realitas yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia mengungkapkan bahwa:

1. Eksploitasi sumber daya perikanan frekuensinya lebih sering daripada kejadian El Nino, maraknya penggunaan bom dan racun untuk menangkap ikan yang berkisar satu kali per bulan bahkan per pekan juga berakibat rusaknya terumbu karang. Kemudian, pencemaran pesisir terjadi sebab perpaduan bahan pencemar (organik seperti produk-produk rumah tangga, nitrogen, serta fosfor) dan sedimentasi yang berakibat hilangnya moluska dan karang.[7]

2. Guinnes Book of Record mencatat berkurangnya 2% lahan hutan per tahun di Indonesia, misalnya untuk industri kelapa sawit, pulp, dan kertas. Akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah orangutan serta terancamnya spesies-spesies tumbuhan dan hewan lainnya.[8]

3. Kerusakan alam dan hilangnya habitat telah menyebabkan puluhan ribu spesies terancam punah, di Indonesia jumlahnya sekitar 1126 spesies sehingga menempatkannya sebagai peringkat ke-5 dari 20 negara             di dunia yang spesies alamiahnya terancam. Kasus-kasus yang terjadi, contohnya deforestasi di Kalimantan dan penangkapan ikan secara ilegal di Laut Arafuru.[9]

4. Nelayan teripang, bom, dan bius menggunakan peralatan selam modern berdampak pada kemerosotan populasi sumber daya perikanan dan kerusakan habitat ekosistem terumbu karang.[10]

5. Dan lainnya.


[1]     Fariq Gasim Anuz, Kepemimpinan dan Keteladanan Umar bin Khathab (Jakarta: Daun, 2016), hal. 10-11.

[2]     Mufliha Wijayati, Aborsi Akibat Kehamilan yang Tak Diinginkan (KTD): Kontestasi antara Pro-Live dan Pro-Choice, ANALISIS: Jurnal Studi Keislaman Vol. 15 No. 1 Juni 2015, hal. 46.

[3]     Moh. Saifullah, Aborsi dan Resikonya bagi Perempuan, JSH Jurnal Sosial Humaniora Vol. 4 No. 1 Juni 2011, hal. 17.

[4]     Aborsi di Indonesia, Jurnal Guttmacher Institute Seri 2008 No. 2, hal. 2.

[5]     Abah Salma Alif Sampayya, Keseimbangan Matematika dalam al-Qur’an (Jakarta: Republika, 2007), hal. 340-346.

[6]     Fariq Gasim Anuz, Kepemimpinan dan Keteladanan Umar bin Khathab (Jakarta: Daun, 2016), hal. 207-210.

[7]     Hadiyanto, Pemanasan Global, Eksploitasi Sumber Daya Perikanan, dan Pencemaran Pesisir Sebagai Penyebab Utama Perubahan Ekologi Laut di Indonesia, Jurnal Oseana Vol. XLII No. 2 Tahun 2017, hal. 6-9.

[8]     Tertangkap Basah Bagaimana Eksploitasi Minyak Kelapa Sawit oleh Nestle Memberi Dampak Kerusakan bagi Hutan Tropis, Iklim, dan Orangutan, Jurnal Greenpeace Maret 2010, hal. 2-5.

[9]     Sutarno dan Ahmad Dwi Setyawan, Biodiversitas Indonesia: Penurunan dan Upaya Pengelolaan untuk Menjamin Kemandirian Bangsa, Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon Vol. 1 No. 1 Maret 2015, hal. 7-10.

[10]   Munsi Lampe, Sjafri Sairin, dan Heddy Shri Ahimsa Putra, Perilaku Eksploitasi Sumber Daya Perikanan Taka dan Konsekuensi Lingkungan Dalam Konteks Internal dan Eksternal: Studi Kasus Pada Nelayan Pulau Sembilan, Jurnal Humaniora Vol. 17 No. 3 Oktober 2005, hal. 323.

Bagikan
Post a Comment