Nasihat Bapak pada Putrinya
“Nduk, masih inget Pak Muji ndak?” Bapak membuka percakapan sore ini.
Aku meletakkan teko, lalu bergegas membawa teh panas tanpa gula menuju ruang tamu, tangan kanan membawa teh dan tangan kiri membawa sepiring pisang goreng. Kemudian, duduk di sebelah bapak,meletakkan piring di atas meja lantas menyodorkan teh kesukaannya itu, bapak menerimanya dengan sumringah, seperti biasa.
“Terimakasih, Nduk” kata Bapak. Bapak menyesap teh sambil meniup-niupnya.
“Yang mana sih, Pak? “
Aku justru balik bertanya, sambil menyeryitkan dahi, masih mencoba mengingat-ingat nama yang bapak sebutkan tadi, dari sekian banyak teman bapak yang bapak kenalkan padaku.
” Yang rumahnya Ponjong itu, kita sekeluarga dulu pernah main ke sana mancing ikan, terus panen jamur, waktu kamu masih SMP. ” Bapak menjelaskan dengan semangat.
“Oalah iya ingat, yang rumahnya luas itu kan Pak, yang punya kebun jeruk limao?” Aku menimpali, dengan bersemangat juga tentunya.
” Nah iya, tadi Bapak ketemu di kantor, beliau bilang anaknya sudah lulus, sudah bekerja, sudah mapan, lagi cari istri. Mas Ivan ingat ndak? “Bapak menatapku serius, menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan yang menyelidik. Ada apa ini?
Tatapan Bapak
“Hm iya, lalu? Apa hubungannya denganku? ” tanyaku lugu.
“Beliau tanya sama bapak, ada ndak anak bapak gitu yang sudah lulus.” kali ini sambil menaruh gelas tehnya, kemudian mengambil sepotong pisang goreng.
“Ya mbak Farah to? tinggal wisuda tuh. ” aku mengikuti mengambil sepotong pisang goreng.
“Tapi pak Muji cari yang pinter masak.”
Bapak mengerling, lalu tersenyum. Aku menangkap ekspresi yang aneh dari bapak. Benar dugaanku, pasti ada apa-apa.
“Terus?”
Bapak tidak melanjutkan bicara, malah tersenyum dan memandangiku. Ndak biasanya bapak begini. Ada apa ya?
“Apa sih, Pak. Kok ngelihatinnya begitu amat.”
“Nduk, mbakyumu kan ndak pinter masak, lebih seneng pergi-pergi, ngurusin bangunan, ya namanya juga anak teknik to?”
“Iya lha terus, yaudah berarti ndak ada to? ” Aku mengambil potongan pisang goreng kedua.
“Lha kan itu kamu banget, nduk. Kalo kamu aja gimana? ” tanya bapak dengan entengnya, logatnya sama seperti ketika menawariku ikut pengajian, atau saat mengajakku untuk membantunya di sawah,sangat enteng ya.
“Uhuk. “Aku tersedak pisang goreng. Bapak memandangiku lagi, kali ini tatapannya serius.
Membayangkan Jadi Istri
Ada angin apa ini? Kuliah belum genap dua semester saja penawarannya sudah macam-macam. Lagian ilmu ku juga masih minim, masih suka kekanak-kanakan, lebaran kemarin saja aku masih ikut main petak umpet sama ponakan-ponakan, lha mau jadi istri? Hoho membayangkannya saja aku belum sanggup.
Aku berdiri mengambil air putih di dapur, lalu kembali ke ruang tamu, duduk lagi di sebelah bapak. Meneguk air beberapa kali, lantas menaruh gelas di meja.
” Tapikan aku belum lulus? Ndak sesuai syarat dong, kuliah juga masih semester dua, baru juga mulai, masak sudah bapak suruh nikah, mbok mba farah dulu itu to, kan dah ada juga” aku mengomel sendiri.
“Lagian aku kalo ngelangkahin mba Farah suruh beliin mobil tu katanya.” aku mengomel lagi, kali ini dengan muka cemberut. Sambil menyilangkan tangan, ya, ngambek versi anak-anak.
“Hahahahaha.” bapak malah tertawa terbahak-bahak melihatku. Lalu mengacak-acak rambutku.
” Memang benar ya. Meskipun dari segi pertimbangan kamu sudah bisa mengambil tanggung jawab, keibuan, mandiri dan bisa ngambil keputusan sendiri, umur tetep ga bisa dibohongi.”
Aku menengok ke arah bapak.
” Maksudnya? ” Kali ini tatapanku menyelidik.
“Iya, tetep saja marahnya kaya anak-anak, wong ya masih anak-anak, umur juga belum genap kepala dua. “
“Ya memang, terus kenapa bapak tanya seperti itu tadi?”
“Penasaran aja, kok mukamu jadi serius bapak ngomongin Mas Ivan, sekalian deh bapak kerjain, hahaha. Gimana rasanya? Lho kok mukanya malah kayak strowbery siap dipetik gitu.”
Fix, kali ini bapak ngeselin. Aku tetap merajuk, sebisa mungkin mempertahankan posisi ngambekku.
Stok Sabar
“Udah to ngambeknya, Nduk. Nanti tak beliin es krim ya? “
” Ye memangnya aku anak kecil?”
“Lah sudah besar? Berarti jadi dong?”
“Eh enggak, Pak. Ya deh aku anak kecil aja, es krim juga mau, tapi sekulkas ya?” Aku yang mengerjapkan mata, memasang ekspresi memelas layaknya Zizi, adik bontotku kala minta jajan.
“Ya sekalian tokonya, apasih yang ndak buat kamu. Wow jago gombal juga ya, bapak, kayak anak muda jaman sekarang. “
“Haha, iyain aja deh biar dapet es krim sekulkas.” Kataku semangat.
Tiba-tiba bapak memegang tanganku. “Nduk, menikahlah kalau kamu sudah punya stok sabar yang banyak, menikahlah kalau kamu sudah cukup dengan urusanmu terhadap dirimu sendiri, kalau sudah selesai melawan dirimu sendiri. “
Nasihat Bapak
Aku menatap bapak dalam-dalam, memasang ekspresi bertanya-tanya, maaih belum paham akan pembicaraan ini.
“Iya, kalau sudah bisa melawan egomu sendiri, meredamnya, mengontrolnya, supaya lebih legowo menerima hidup, apapun yang akan terjadi nanti.”
“Nggih, Pak. ” Aku mengiyakan nasihat bapak, meski belum sepenuhnya mengerti dan memahami kata demi kata yang bapak sampaikan. Menyimpan dalam-dalam nasihat bapak sore ini. Kelak aku akan mengigatnya seumur hidup. Esok hari, semoga bisa kulaksanakan.
Zizi tiba-tiba masuk, membawa krayon dan buku mewarnai, menarik-narik bapak supaya mengikutinya, seperti biasa dia mengambil alih bapak dari percakapan kami setiap sore.
Umurku 19 tahun, saat aku menyadari fase kehidupan ‘baru’ akan segera menyergapku.
Lahir 19 tahun yang lalu dan aat ini sedang menempuh pendidikan S1 di UPN V Yogyakarta. Seorang mahasiswi biasa yang suka menulis dan bercerita. Dapat dihubungi di instagram @cleanqurrota_ ,twitter @QurrotaClean, id line clean2602.
