Yang Muda Yang Berbagi
Rahmania, pernah mendengar kata-kata “berbagi itu indah” atau “berbagi itu berkah” atau yang lainnya? Sebenarnya berbagi itu apa sih? Nah di sini akan sedikit mengurai tentang anak muda yang berbagi.
Berbicara tentang anak muda, maka bisa kita gambarkan sebagai titik tertinggi dari perkembangan jiwa manusia. Sehingga fase ini merupakan waktu yang sangat ideal bagi seseorang untuk bebas melakukan apapun dalam hidupnya.
Anak muda juga digambarkan sebagai seseorang yang memiliki semangat tinggi, bertenaga, dan berintelektual. Di situasi lain, banyak juga yang beranggapan bahwa pemuda itu adalah mereka yang suka hura-hura, mereka yang suka bucin, mereka yang suka nongkrong nggak jelas, ghibah kesana-kemari. dan masih banyak hal lainnya.
Pemuda memiliki peran yang besar bagi perubahan-perubahan sosial di lingkungan
Kenapa demikian? Mereka memiliki kekuatan mempengaruhi dan menyadarkan masyarakat untuk melakukan suatu gerakan perubahan sosial. Pemuda juga bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat dari ketidaksesuaian kebijakan pemerintah. Karena seringkali kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat. Nah dalam hal lain yang bisa kita lakukan sebagai anak muda adalah melakukan yang menurut penulis sederhana tapi bisa berdampak yang luar biasa. Yaitu berbagi kepada orang lain. Sebelum lebih jauh berbicara tentang berbagi.
Berbagi adalah memberi atau menerima segala hal yang penting bagi hidup kita. Berbagi juga bisa kepada Tuhan atau ciptaan Tuhan, bahkan setiap hal di bumi ini. Manusia di sebut makhluk sosial, manusia saling membutuhkan dan dibutuhkan. Kita membutuhkan orang lain, begitu pula orang lain, yang juga membutuhkan kita. Karena itu, manusia sebagai makhluk sosial harus saling berbagi. Kita sebagai makhluk sosial sudah kewajiban kita untuk saling berbagi kepada orang lain.
Nah dalam kaitannya berbagi ini, yang harus digaris bawahi adalah, berbagi tidak harus barang, apapun yang kita punya dan tidak dipunyai oleh orang lain perlu dibagikan karena sebagai bentuk kepedulian kita kepada orang lain. Kalau tidak bisa harta kita, Mungkin bisa tenaga kita, bisa juga ide/gagasan kita.
Rahmania…
Perlu kita tahu bahwa kesuksesan, begitu pula harta yang Allah anugerahkan itu semua hanyalah titipan dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadid : 7)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. Karena Allah Ta’ala telah firmankan (yang artinya), “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya”. Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta itu milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan harta pada jalan Allah, maka itu sama halnya dengan seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya. Dari situ, ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak. ”
Belajar dari Burung
Al Qurtubhi rahimahullah sekali lagi mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian.”
Lihatlah burung yang tidak henti-hentinya memberi banyak manfaat kepada alam sekitarnya. Mulai dari menjadi perantara terjadinya penyerbukan, menjadi bagian dari mata rantai makanan dengan memakan ulat atau serangga yang ada pada ranting atau daun tanaman, kotorannya menyuburkan tanah, suaranya memberikan keceriaan dan kebahagiaan pada manusia dan alam, gerakan terbangnya memberi inspirasi manusia sehingga mampu menciptakan kapal terbang.
Apa yang dilakukan burung semata-mata melaksanakan tugasnya taat kepada perintah Allah yang menciptakannya, tidak ada yang merugikan bagi lingkungannya dan Allah berikan senantiasa rejeki untuknya dalam berbagai kondisinya dihadapinya.
Apakah manusia harus kalah dari apa yang diberikan burung kepada alam? Jawabnya seharusnya tidak. Tentunya manusia harus jauh lebih banyak memberikan manfaat kepada alam sekitarnya melalui daya, upaya dan karyanya tanpa harus memikirkan dahulu apakah harus dibayar atau tidak.
Alangkah bahagianya bila antar sesama manusia saling memberi, saling berbagi, saling membantu dalam berbagai bentuk dan kesempatan yang dihadapinya. Semua itu bisa dilakukan dari hal yang terkecil sekalipun.
Perbanyaklah kebaikan dengan mengerjakan semua aktivitas dengan landasan memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain, dengan niat ibadah, sukarela tanpa harus dibebani ada balasan materi dari sesama, niscaya kebaikan itu akan memantulkan hasil baiknya.
Semakin banyak karya yang diberikan, semakin produktif dan semakin banyak output manfaat, akan semakin banyak amal kebaikan dan semakin banyak pula keberkahan.
Pegiat Sosial, Alumni UMSurabaya
