Memiliki Privilese Religiusitas adalah Sebuah Keberuntungan
Privilese (hak istimewa) memang tengah ramai digembar-gemborkan orang-orang. Saya kira istilah ini juga memang sedang trend di kalangan masyarakat. Entah itu beauty privilege, financial privilege, ataupun jenis privilege lainnya kerap kali menjadi bahan obrolan baik di ranah daring maupun luring. Tentu tidak sedikit orang sudah paham bahwa pada dasarnya privilese adalah hak-hak istimewa yang kita miliki tanpa harus bersusah payah untuk mendapatkannya.
Jika menyangkut soal privilese kecantikan atau privilese harta saya pikir sudah begitu sering dibahas dan familiar di kuping kita. Ujung-ujungnya bahasan tersebut akan berisi seputar hak-hak istimewa yang bisa mereka terima karena memiliki kedua privilese itu. Orang-orang yang tidak memilikinya cenderung akan kontra dan bagi mereka yang memilikinya akan sekuat tenaga membela diri seakan-akan berkata bahwa ‘It’s not a fault to have it. It’s okay’. Bukan perkara tentang benar-salah tentunya, hanya bergantung pada bagaimana kita meilhatnya dari berbagai perspektif.
Apa itu Privilese Religiusitas ?
But, what I’m trying to say here is about religiousity privilege. Pernah nggak dengar istilah ini? Sebenarnya saya sendiri juga belum pernah dengar sih, ini hanya sebuah kata yang saya pilih untuk menggambarkan situasi yang akan saya bahas di sini. Privilese religiusitas yang dimaksud adalah sebuah hak istimewa yang kamu miliki dalam hal religiusitas yang mana hadir tanpa kamu usahakan. Sama halnya dengan privilese harta yang kebanyakan hadir karena turunan dari orang tua, maka privilese religiusitas juga hadir karena hal itu.
Lebih jelasnya seperti ini, orang tua yang memiliki kecendurungan termasuk seorang yang religius kemungkinan besar akan menurunkan sifatnya ini kepada sang anak. Sedangkan si anak, di sisi lain ia akan lebih sering menerima pengaruh religiusitas ini dalam kehidupannya. Jadi kemungkinan bahwa dia akan menjadi seorang religius juga seperti orang tuanya akan terbuka lebar. Meski kita tidak bisa menghilangkan fakta bahwa semuanya tetap tergantung kepada masing-masing individu.
Orang Tua adalah Madrasah Pertama Anak
Seperti yang kita percayai bahwa madrasah pertama seorang anak adalah orang tuanya. Maka kita juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa anak yang dari kecilnya sudah dididik tentang agama tentu akan selangkah lebih maju dalam pemahamannya. Berbeda dengan mereka yang orang tuanya tidak termasuk golongan religius mungkin akan lebih sedikit pengaruh agamanya. Maka bukankah benar bahwa privilese religiusitas itu adalah sebuah keberuntungan?
Tentu saja beruntung; bayangkan saja mungkin di umur lima tahun mereka yang memiliki privilese ini akan sudah bisa membaca huruf arab lewat iqro’ karena mereka rajin mengaji setiap hari. Lalu ketika duduk di kelas 3 SD mereka sudah lancar membaca Al-Qur’an dan bahkan sebelum lulus SD mereka sudah khatam untuk yang pertama kalinya. Ini baru tentang aspek membaca Al-Qur’an, belum lagi tentang sholat, berhijab, dan sederet aspek-aspek keagamaan lainnya.
Saya termasuk salah satu orang yang mendapat privilese ini karena pada kenyataannya orang tua saya merupakan orang yang sering berkecimpung dalam dunia religiusitas. Sebut saja seperti mengajar madrasah, menjadi guru ngaji, sering ikut majelis ta’lim dan berbagai hal lainnya. Alasan-alasan ini tentu membuat Ibu saya juga berusaha menjadikan saya seorang yang alim kepada agama. Ketika duduk di bangku SMP saya sudah diharuskan memakai hijab jika akan keluar rumah bahkan bila cuma di depan teras. Tentu saja awalnya karena paksaan tapi lama kelamaan saya ikuti karena kesadaran. Benar kan lagi-lagi beruntung?
Jika saja kasusnya berbeda atau dalam kata lain yaitu kita tidak memiliki orang tua yang religius, apakah kita akan tetap memakai hijab sejak kecil? Apakah kita akan tetap rajin mengaji setiap hari supaya bisa lancar membaca Al-Quran? Belum tentu kita akan menjadi orang yang taat dalam melaksanakan perintah agama. Semua hanya berawal dari dorongan orang tua kita yang menuntut untuk menjadi religius.
Menjadi Religius karena Privilese atau karena Kesadaran Diri Sendiri, Manakah yang Lebih Baik?
Untuk pertanyaan ini saya kira keduanya tidak bisa dibandingkan karena sama-sama baik. Sudah pasti bahwa menjadi religius adalah hal yang baik asal bukan aliran agama yang sesat. Hanya saja saya beranggapan bahwa orang-orang yang menjadi religius karena kemauan sendiri jauh lebih keren dari pada mereka yang mendapat privilese religiusitas. Mengapa begitu? Ya karena mereka telah berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam diri mereka. Pertanyan-pertanyaan seperti mengapa saya harus berhijab?
Mengapa saya harus bisa membaca tulisan arab? Atau mengapa saya harus taat melaksanakan perintah-Nya? Hinggap dalam hati mereka sebelum mereka memutuskan menjadi seorang religius. Pada akhirnya mereka menjadi taat karena kemauan diri mereka sendiri, karena mereka telah berhasil menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Berbeda dengan mereka yang lahir dengan privilese; sejak kecil mereka hanya mendapat dorongan-dorongan yang membuat mereka mau tak mau harus mengikuti perintah orang tua. Tanpa tahu arti sesungguhnya kenapa mereka harus berhijab misalnya, mereka hanya patuh kepada orang tua. Orang-orang seperti ini tidak mencari jawaban-jawaban sejak awal. Pada akhirnya mereka melakukannya karena kemauan dan kesadaran diri sendiri. Singkatnya, bisa dikatakan bahwa orang-orang berprivilese mendapat tuntunan dalam berjalan sedangkan mereka yang religius mandiri tidak mendapat tuntunan dan berusaha untuk berjalan sendiri.
Kembali ke pernyataan awal bahwa memiliki privilese religiusitas adalah sebuah keberuntungan, ya keberuntungan yang patut disyukuri. Bukan untuk menjadikan kita sombong dan merasa diri sendiri paling benar hanya karena kita anak ustadz misalnya. Memiliki stereotip bahwa saya lebih alim dan lebih tahu agama daripada dia yang cuma anak biasa tanpa background agama adalah sebuah kesalahan besar. Bukankah religiusitas tidak diukur berdasarkan garis keturunan?
Jadi mari hendaklah kita semua senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan YME, terlepas dari fakta entah kita memiliki privilese atau tidak. Btw, sudah mirip Mama Dedeh belum?
Mahasiswa Sastra Inggris yang senang berkelana bersama aksara.
