f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mendongeng

Tiga Tahapan Penting Literasi Keuangan untuk Balita

“Bang bing bung, yuuk Kita nabung”…

Begitulah sepenggal bait lagu anak-anak versi tahun 90-an, tentu saja dalam rangka sosialisasi serta penanaman edukasi terhadap uang kepada anak-anak usia dasar, dan lanjutan pertama. Dan bukan untuk anak Balita tentunya.

Bertepatan dengan dengan hari Bank Indonesia 01 Juli lalu, maka penulis merasa perlu untuk menuliskan terkait literasi keuangan secara tepat sedini mungkin. Hal ini menjadi tindakan preventif dan proteksi supaya ke depan generasi kita bisa memiliki pemahaman yang utuh atas uang, dan diikuti dengan kecakapan dalam pengelolaannya sesuai dengan syariat Islam.

Berbasis pengamatan kecil penulis atas polah penggunaan uang anak ke-1 yang usia lebih kecil dari anak ke-2 tapi sangat paham dalam membedakan maka uang Rp2000,00 dengan uang Rp20.000,00. Sehingga saat diberi uang saku dia sangat jeli dan jika kurang akan sigap untuk meminta kekurangannya. Begitupun dalam urusan menghabiskan uang untuk membeli jajanan kesukaan mereka sudah sangat lihai. Di sisi lain, anak ke-2 sudah duduk di kelas 2 mau naik ke kelas 3 SD yang ternyata belum ‘ngeh’ dengan uang. Jadi saat diberi uang Rp2.000,00 dengan Rp20.000,00 baginya sama saja. Dan setiap hendak membeli jajan, selalu minta langsung pada orangtua alias terkontrol.

Dari pengamatan atas perilaku anak ke-1 dan 2 minimal menunjukkan bahwa pengetahuan tentang uang mempengaruhi polah si anak dalam membelanjakan uang di genggamannya. Hal ini yang menjadi titik pijak utama penulis untuk menuliskan tentang literasi per-uang-an. Dan pengalaman di atas menjadi alarm untuk pola pengasuhan kami ke depan khususnya dan menjadi pelajaran penting bagi ayah ibu pada umumnya.

***

Uang sebagai alat tukar serta pengukur nilai suatu komoditas menjadi pengetahuan dasar bagi setiap individu dalam upaya penjagaan harta serta pengaturan yang tepatnya mampu menjamin kelangsungan hidupnya. Jadi, tidak heran jika anak usia pra-paud (pendidikan usia dini) yang belum mengenal numeric (angka) tetapi sudah bisa menggunakan uang 2000 untuk membeli wafer, dan 5000 untuk membeli es krim. Apakah orang tua mengajarkan secara khusus tentang nominal tersebut? Saya meyakini sebagian besar orang tua menjawab tidak. Apakah berbahaya? Tentu, karena jika sebagai orang tua abai atas hal sepele tersebut, maka bisa berakibat fatal. Karena berkaitan dengan skill mengatur keuangan si anak untuk masa depannya.

Baca Juga  Long Distance Parenting, Perempuan, dan Sebuah Sudut Pandang

Oleh sebab itu, perlu kiranya orang tua melakukan edukasi sejak dini terkait apa konsep dasar uang, peran dan kegunaan. Mengedukasi terkait mengatur keuangan pribadinya hingga mengawal praktek pengaturan keuangan si anak. Narasi kecil ini akan spesifik mengulas terkait tahapan penting dalam mengedukasi anak usia Balita supaya well literate terhadap uang, khususnya tahapan dasar.

Tahap 1 : Mengenalkan Uang

Pada tahapan anak usia Balita maupun usia pra-sekolah, dalam proses mengenalkan uang tidak perlu tergesa-gesa untuk mengenalkan detail uangnya. Namun bisa dimulai dengan menjadikan uang sebagai sarana untuk pengenalan angka. Ya, mengenalkan angka 0 (dibaca nol) dan 1 (dibaca satu) pada uang logam maupun kertas pecahan seribu rupiah dan numeric lanjutnya pada pecahan lainnya. Ditambah mengenalkan warnanya juga pada tiap-tiap pecahan uang. Misal uang Rp100.000,00 yang berwarna merah, berbeda dengan pecahan uang Rp50.000,00 yang berwarna biru.

Selain itu, melalui uang juga orang tua bisa mengenalkan anak tentang nama-nama pahlawan bangsa yang digambarkan dalam masing-masing pecahan uang. Misal pada pecahan uang Rp100.000,00 bisa dikenalkan pahlawan Soekarno-Hatta pahlawan kemerdekaan Indonesia, pada pecahan Rp50.000,00 bisa dikenalkan Ir.H. Djuanda Kartawidjaya, pada pecahan Rp5.000,00 bisa dikenalkan pahlawan Tuanku Imam Bonjol dan seterusnya.

Selain itu, uang bisa menjadi sarana mengenalkan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Misalnya pada pecahan uang Rp5000,00 bisa dikenalkan budaya tari Gambyong, kekayaan alam Gunung Bromo dan pengrajin tenun Pandai Sikek-Sumatra Barat. Pada pecahan uang Rp2000,00 terdapat ilustrasi budaya tari piring dan potensi Alam Ngaral Sanok, Tari Legong. Ada Taman Nasional Komodo di pecahan uang Rp50.000,00 , alat music angklung pada pecahan uang logam Rp1000,00 dan banyak lainnya.

Setelah mengenalkan numeric, warna, nama-nama pahlawan hingga budaya Indonesia. Selanjutnya membalik alur, yakni mengenalkan numerik angka pada uang tersebut untuk membedakan jenis mata uang. Misalnya pecahan uang Rp2000,00 itu bisa untuk membeli apa saja. Dilanjut pecahan uang Rp5000,00 bisa untuk membeli apa, dan seterusnya. Pengenalan ini perlu diatur frekuensinya dengan bahasa yang mudah dimengerti mereka. Misal, bisa beli es krim dengan pecahan uang Rp5000,00, tetapi untuk membayar listrik di rumah kita perlu uang Rp50.000,00 dan seterusnya.

Baca Juga  Anak dalam Bingkai Islam

Tahap II : Memahamkan

Hal penting yang perlu orang tua jelaskan terhadap anak adalah dari mana uang ayah ibu berasal. Beri tahu anak bahwa Rizki dari Allah SWT, salah satunya berupa uang melalui Ayah Ibu. Adapun cara menjemput rizki selain berdoa dan berderma adalah bekerja. Jadi Ayah dan Ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga baik untuk makan, sekolah dan kebutuhan lainnya. Hal ini penting supaya anak belajar menghargai uang karena melihat usaha orang tua.

Dalam kacamatan anak Balita, ayah ibunya selalu punya uang, uang tidak akan habis. Karena berdasar pada penglihatan kasat matanya bahwa uang ayah ibunya bisa diambil kapanpun di mesin ATM. Sehingga tidak salah jika tidak berbasis awal bulan atau akhir bulan, dia akan minta jajan atau barang kesukaannya tanpa pandang waktu.

Maka orang tua perlu memberi pengertian atau pemahaman kepada mereka bahwa uang bisa habis ketika dipakai tanpa perhitungan. Beri penjelasan juga bahwa uang yang keluar dari ATM adalah uang ayah ibu yang disimpan sebelumnya di bank. Kalau uang diambil lewat ATM secara terus-menerus maka artinya uang di bank akan berkurang. Sehingga pesan yang wajib tersampaikan kepada anak adalah untuk hemat dalam membelanjakan uang.

Berikutnya adalah memahamkan tentang kegunaan pokok uang. Jamaknya anak balita tahunya adalah uang dipake hanya untuk belanja. Maka pemahaman yang wajib disampaikan oleh orang tua kepada anak tentang kegunaan uang yang lebih substantif dan produktif. Memberi penjelasan kepada mereka bahwa uang ayah ibu dipakai untuk; membayar biaya sekolah, bayar listrik yang sehari-hari dinikmati di rumah, bayar uang kebersihan lingkungan rumah, menabung di Bank Syariah dan lainnya. Hal penting berikutnya adalah memberi penjelasan khusus bahwa uang yang dimiliki wajib dibayarkan zakat ke Amil Zakat, infaq maupun donasi lainnya untuk membantu sesama Muslim.

Tahap III : Membiasakan dari hal Ringan

Pada tahapan ini, orangtua perlu mendesain pola pembiasaan ringan anak dalam serangkaian literasi uang. Tentu saja dimulai dan dicontohkan dulu oleh oran gtua. Biarkan anak melihat tindakan kita secara kontinyu dan istikomah mulai dari memasukkan uang recehan hingga ribuan ke celengan saat subuh atau saat mendapatkan rezeki tidak terduga. Selain itu sesekali mengikut sertakan anak saat orangtua melakukan proses menabung di Bank Syariah.

Baca Juga  Belajar Bersepeda Aman Bagi Anak Melalui Kanal Youtube

Selanjutnya adalah mengajak mereka membayarkan zakat ke lambaga amil zakat, menyerahkan donasi atau infaq ke panti asuhan anak. Sesekali biarkan anak  yang memasukkan uang ke kotak infaq saat di masjid atau biarkan dia melihat saat kita berderma dan sejenisnya. Dengan begitu si anak akan faham bahwa uang juga bisa untuk membantu orang lain.

Hal tersebut seolah sepele, namun proses pemandangan dan pembiasaan yang orang tua lakukan dengan melibatkan anak akan terekam rapi dalam memorinya. Hal tersebut tentu memicu mereka minimal meniru apa yang orang tua lakukan. Maka jangan sepelekan proses pelibatan anak dalam aktifitas berderma maupun aktifitas positif lainnya yang memberi manfaat bagi orang lain.

Hal sederhana yang bisa didesain untuk pembiasaan anak balita sejak dari rumah tentang pengaturan uang secara baik di antaranya ; Orang tua menyediakan 3 toples bening dengan ditempel kertas warna berbeda pada masing-masing toples bertuliskan (1) sedekah shubuh, (2) ditabung, (3) dibelanjakan. Ketiga toples ini berfungsi minimal membantu, mempermudah dan membiasakan orangtua dalam memahamkan anak tentang pentingnya mengatur uang.

Jika anak paham tentang konsep dasar uang, mereka akan mengerti bahwa uang itu sangat berharga karena menjadi salah satu ragam dari rezeki dari Allah SWT. Sembari disampaikan bahwa bentuk syukur atas rezeki uang yang dimiliki adalah dengan memakai uang sebaik-baiknya. Termasuk dengan memberikan pada orang yang kurang mampu atau membutuhkan.

Sehingga otomatis orangtua akan lebih mudah meminta anak untuk menabung dan menyisihkan sebagian uang tersebut untuk berinfaq dan shodaqoh. Wallahu’alam. Semoga Bermanfaat!

Bagikan
Post a Comment