Dari Bumi Menuju Langit: Membangun Teologi Pembebasan dengan Wajah Moderasi
Oleh: Ali Audah*
Diskusi webinar yang diselenggarakan oleh Komunitas Langgar Kidul malam Selasa, 29 Juni 2020 kemarin mengundang saya sebagai narasumber. Ini adalah rangkaian kajian yang dibangun oleh para aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bantul untuk mencari formula oderasi beragama yang relevan dengan situasi jaman. Saya sangat mengapresiasi ikhtiar intelektual ini, ketika mas Haryono meminta kesediaan saya untuk mengisi diskusi segera saya sanggupi meskipun waktunya sangat mepet (hanya selang dua hari).
Peserta yang bergabung tidak sampai 50 orang, tetapi bagi saya ini sudah lebih dari cukup. Ada beberapa nama yang membuat saya ‘surprised‘, antara lain KH. Abduh Hisyam (Ketua PDM Kabupaten Kebumen), dr. Achmad Sochibul Birri, M.Si (Direktur RS PKU Muhammadiyah Tegal), dan Saud El Hujjad (Ketua Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara Jakarta). Ketiganya memerankan diri sebagai kontributor diskusi yang sangat signifikan.
Kisah dan Bacaan
Saya memulai cerita tentang masa pergulatan ide antara saya dengan Budiman Sudjatmiko (BS), kawan sebangku saya di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang kini menjadi politisi PDI Perjuangan. Kisah ini juga direkam BS dalam bukunya yang berjudul “Anak-anak Revolusi (1)”. Di bukunya itu, BS menyebut saya sebagai “guru ideologi Ikhwanul Muslimin saya”, sebuah gelar yang menurut saya sebenarnya berlebihan.
Memang saya akui, selain banyak mengunyah karya sastra Balai Pustaka dan filsafat eksistensialisme. Masa remaja saya banyak dihabiskan dengan karya Buya Hamka, buku Sayyid Qutb, dan tokoh ikhwanul muslimin lainnya. Di saat awal kuliah di S1 UGM, saya juga banyak membaca buku buku terbitan Mizan yang bercorak mazhab Ahlul Bait, atau orang banyak menyebutnya dengan istilah ‘Syiah’.
Gara-gara getol berdebat dengan BS, bacaan saya bertambah dengan literatur filsafat mazhab Frankfurt yang Marxian. Ini membuat saya pernah dipanggil oleh Mas Rofiq Handoyo, saat itu Ketua Bidang Dakwah PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan Bang Nazli, Ketua PW Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta Besar. Mereka meminta komitmen saya terhadap ideologi pergerakan Islam tidak luntur gara-gara bersentuhan dengan ideologi kiri BS ini.
Khazanah Ideologi Kritis
Sesungguhnya, secara pribadi saya lebih sreg dengan konsep ‘Sosialisme Relijius’ ketimbang ‘Teologi Pembebasan’. Itu sebabnya saya sama sekali tidak menyinggung Gerakan Teologi Pembebasan (liberation theology) di Amerika Latin yang juga merupakan ‘religious response‘ terhadap masalah sosial.
KH. Abduh Hisyam mengkritik kenapa saya tidak menyinggung Gustavo Gutierrez Merino, seorang Imam Katholik dari Dominika yang dianggap sebagai pendiri Gerakan Teologi Pembebasan, dan juga Paulo Freire (1921-1997) seorang filsuf kritis dari Brazilia yang juga dianggap tokoh penting gerakan ini.
Pemikiran dan gerakan perlawan Gustavo dan Freire tentu saja sangat penting dalam khazanah ideologi kritis. Keduanya dianggap berhasil menyandingkan dua ideologi yang sebenarnya bertolak belakang: Marxisme dan Katholicisme. Ini yang selalu mengganjal hati saya setiap mencoba mendalami teori-teori Teologi Pembebasan ala Gustavo dan Freire. Bagi saya, “communism or marxism cannot coexist with religion.” So, saya nggak singgung Gustavo dan Freire dalam konsepsi saya malam itu.
Sekilas sejarah, adalah Muhidin Dahlan dan teman-teman HMI MPO IKIP Jogjakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta). Yang dari tanggal 16 -19 Februari 2000 di Masjid Al-Mujahidin Jogjakarta mengadakan Pesantren Sosialisme Relijius. Saya dan sejumlah aktifis muda lainnya diundang untuk membawa makalah, dan hasilnya kemudian dibukukan dengan judul “Sosialisme Religius, Suatu Jalan Keempat”. Di luar dugaan, buku ini “meledak” di pasaran dan diterbit ulang hingga belasan kali dan mendapat bintang lima di Goodreads.
Sosialisme Relijius
Seorang peserta webinar malam itu bernama Agus bertanya, mengapa saya memilih Sosialisme Relijius sebagai bingkai Teologi Pembebasan? Saya jawab dengan menunjuk fakta historis bahwa jauh sebelum Pancasila digagas oleh Bung Karno tanggal 1 Juni 1945, telah ada Sosialisme Islam yang digagas oleh HOS Cokroaminoto tahun 1924, yang dapat disarikan menjadi tiga prinsip, yaitu
kemerdekaan (vrijheid liberty), persamaan (gelijkheid-equality), dan persaudaraan (broderschap-fraternity). Jadi, tawaran ideologi Sosialisme Relijius ini sesungguhnya mempunyai pijakan historis dalam sejarah bangsa Indonesia.
Sama seperti Mbah Yai Cokroaminoto, saya juga menganggap bahwa Kapitalisme dan Komunisme sama-sama mempunyai watak ‘anti agama’. Keduanya adalah ideologi asing yang dapat menjerumuskan bangsa dan negara Indonesia dalam cengkraman neo kolonialisme global. Masuknya anasir kapitalistik dan komunistik ke dalam sejumlah gerakan legislasi akhir-akhir ini patut diwaspadai bersama sebagai upaya untuk melemahkan Pancasila sebagai dasar negara.
Akhirnya, saya mengakui bahwa tema ideologi seperti ini sebenarnya bukanlah konsumsi intelektual generasi millennials, baik generasi Y maupun Z. Itu sebabnya saya menghimbau agar dihentikan saja segala gerakan penafsiran tunggal Pancasila, karena generasi millennials saat ini hidup dalam era disrupsi yang berlangsung cukup cepat. Mereka lebih membutuhkan platform ideologi yang lebih praktis dan mudah dikunyah dengan bahasa ala mereka sendiri. Tugas kita semua adalah memastikan mereka tidak hidup di bawah cengkraman ideologi global yang imperialistik dari bangsa lain.
Bagi saya, menyelamatkan kehidupan generasi millenials ini adalah bagian dari tugas kenabian. Teologi pembebasan hendaklah berangkat ‘dari bumi menuju ke langit’, yaitu kerja besar untuk memelihara alam di bumi ini sebagai bentuk pengabdian kepada Ilahi.
*Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Ali Audah adalah Dosen Luar biasa Sastra Inggris FSBK UAD dan UP 45 Yogyakarta, Kepala Pusat Bahasa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
