f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Guru

New Normal Life dan Dilema Baru Bagi Guru

Oleh : Henny Indira*

Akhir-akhir ini, isu New Normal Life sering digaungkan oleh berbagai media. Dalam konsep ini, diprediksi bahwa dunia, termasuk Indonesia akan memasuki kehidupan baru setelah pandemi Covid-19. Dikutip dari Kompas.com, menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Menurut Wiku pula, transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukannya vaksin untuk Covid-19. Bisa kita simpulkan dari pendapat Wiku di atas, transformasi pola hidup pada masa pandemi ini merupakan salah satu cara untuk menata hidup di masyarakat. Salah satu Lembaga yang juga mentranformasi sistem kerjanya mengikuti pola kerja New Normal Life adalah Lembaga pendidikan. Di mana hal ini ditandai dengan lebih maraknya penggunaan pembelajaran secara daring.

Hambatan Pembelajaran Daring

Beberapa minggu belakangan ini saya sedikit direpotkan dengan pembelajaran secara daring. Ya karena pandemic Covid-19 ini, semua kegiatan sekolah yang lazimnya dilakukan dengan tatap muka kini harus dengan terpaksa dilakukan secara daring dengan mengusahakan agar output yang dihasilkan paling tidak hampir serupa dengan pembelajaran tatap muka. Sebagai seorang guru muda yang masih melek teknologi, menyiapkan bahan ajar secara daring tentu mudah bagi saya. Meskipun ada beberapa hal yang saya kurang pahami, belajar secara otodidak melalui Youtube tentu bisa saya lakukan. Namun lain hal dengan rekan kerja sesama guru yang tidak familiar dengan gawai dan gagap teknologi, mereka sangat kesulitan dengan pembelajaran model daring seperti ini.

Baca Juga  Menyemai Persatuan dalam Bingkai Keberagaman

Pembelajaran tatap muka yang dipindah alihkan melalui daring ini tentu memudahkan sebagian guru yang melek teknologi. Namun sayangnya, tidak semua guru siap dengan pembelajaran daring seperti ini. Di daerah perkotaan saja masih banyak guru yang belum familiar dengan platform pembelajaran daring seperti google form, google classroom, zoom, e-learning dan kawan-kawannya. Bagaimana dengan guru-guru yang berada di daerah pedesaan?

Bisa kita bayangkan betapa susahnya menjadi guru di daerah pedesaan, mereka hidup dengan penuh keterbatasan. Jangankan familiar dengan platform pembelajaran online, gadget saja mungkin mereka tidak punya. Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube LP3TK KPTK, Nadiem Makarim memberikan beberapa tips kepada pada guru untuk mengajar dari rumah. Salah satu tips yang diberikan Nadiem terdengar miris oleh saya, terutama himbauan kepada pada guru, orangtua atau murid yang masih gaptek untuk jangan stress dan harus berani untuk keluar dari zona nyaman. Mungkin Nadiem lupa betapa kesejahteraan guru di negara kita ini sangat kurang. Bagaimana para guru bisa menanggulangi stress jika fasilitas untuk mengajar secara daring saja masih tidak memadai bahkan tidak merek miliki. Bagaimana pula mereka harus menerapkan mengajar dengan metode daring?

Sebagian orang berpikir bahwa keputusan Nadiem selaku Menteri Pendidikan untuk memberikan materi pelajaran melalui saluran TVRI adalah sebuah keputusan yang sangat tepat dan solutif bagi para guru dan orang tua yang hidup di daerah plosok yang tidak memiliki gadget. Namun nyatanya solusi ini belum efektif alias belum berjalan dengan baik dan merata di kalangan masyarakat. Seperti yang diberitakan oleh CNN Indonesia pada selasa 14/04 2020, bahwa siswa sulit belajar dari TV karena saluran TVRI “Renyek”. Hal yang sama juga dialami para tetangga sebelah rumah saya yang juga mengeluhkan bahwa kualitas tayangan di saluran TVRI sangat buruk karena mereka tidak menggunakan TV kabel.

Baca Juga  Narima Ing Pandum, Penguatan Aqidah di Masa Pandemi

Kejenuhan siswa dan Keterbatasan orang tua dengan metode pembelajaran daring

Beberapa hari yang lalu salah satu kakak saya meminta saya mengajarkannya cara membuat sebuah kanal YouTube. Saya juga mengajarinya cara mengupload video di kanal YouTube tersebut, saya pun tergerak bertanya padanya kenapa tiba-tiba beralih ke YouTube? Karena biasanya beliau mengajar menggunakan Google Classroom beliau berseloroh “arek-arek wes bosen lek gawe google classroom terus”. Saya seketika berpikir tantangan guru ketika mengajar dari rumah tidak hanya tentang teknologi saja namun juga dengan demanding siswa. Siswa menuntut variasi dalam proses penyampaian materi terutama siswa SMA dan mahasiswa yang bisa dikatakan sudah melek digital.

Di lain sisi, saya adalah guru SD di mana siswa saya masih butuh pendampingan orang tua dalam mengerjakan tugas harian mereka. Saya merasa serba salah ketika menghadapi orang tua wali murid yang sering mengeluhkan bahwa mereka gaptek. Sehingga saya diminta memberikan tugas dengan metode sederhana melalui word lalu hasilnya mereka fotokan dan dikirim pada saya. Hal tersebut tentu tidak masalah bagi saya. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar siswa saya mulai merengek jenuh dengan pembelajaran yang monoton setiap harinya. Karena banyaknya laporan dari orang tua wali maka saya memutuskan untuk mengganti metode belajar saya dengan menggunakan aplikasi Zoom. Ternyata wacana saya membuat sebagian orang tua wali menyerah dengan alasan gaptek. Bisa dibayangkan betapa guru dituntut untuk bekerja ekstra kreatif juga sabra ketika menghadapi kondisi seperti sekarang ini.

Dengan semua kendala selama belajar dari rumah seperti sekarang ini, saya mulai bertanya-tanya apakah egara Indonesia benar-benar sudah siap untuk menghadapi New Normal Life? Sedangkan kita ketahui bahwa dari bidang pendidikan saja masih banyak kendala yang belum dijamah maksimal oleh pemerintah. Saya pribadi sangat berharap pada pemerintah untuk memikirkan solusi pendidikan Indonesia jika masa liburan ini jadi diperpanjang hingga akhir tahun. Solusi kongkrit untuk para siswa di daerah pedalaman dengan segala keterbatasan mereka perlu di pikirkan oleh pemerintah.

Kesejahtraan para guru daerah plosok yang berjuang demi tetap mengajarkan materi pada anak-anak. Seperti Pak Avan Fathurrahman yang merupakan seorang guru di SDN Batu Pulih, Sumenep. Beliau berjuang mendatangi rumah-rumah muridnya untuk mengajari mereka satu persatu perlu di perhatikan oleh pemerintah. Saya yakin sosok guru hero seperti pak Avan masih ada banyak di luar sana yang tidak disapa oleh mata kamera.

Baca Juga  Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Tengah Pandemi

Saya menyarankan kepada pemerintah untuk mulai bekerja sama dengan para penggerak sosial dalam hal ini. Nadiem mulai memikirkan untuk mengadakan diskusi dengan penggerak sosial, milenial yang aktif dalam dunia pendidikan juga sosok inspiratif seperti pak Avan. Mereka dapat dilibatkandilibatkan dalam diskusi sebagai sosok yang memahami kondisi lapangan siswa di daerah pedalaman. Agar solusi yang dihasilkan bisa efektif menjawab permasalahan pendidikan yang ada. (s)

*) Henny Indira , tenaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah

Bagikan
Comments
  • ceakasitha

    GREAT!

    Mei 25, 2020
  • Elok Kurniasari

    Sebenarnya apabila ditanya siap atau tidak, saya pribadi juga tidak siap dengan pembelajaran online. Tidak siap disini bukan berarti saya tidak bisa menggunakan teknologi untuk memberikan materi pembelajaran, tapi lebih ke kepuasaan saya sebagai guru ketika mentransfer ilmu kepada para murid dengan cara tatap muka, terutama murid SD. Saya yang di kelas terbiasa memberikan pertanyaan kepada murid secara acak tidak bisa melakukannya dengan pembelajaran online. Sehingga tidak bisa mengukur pemahaman murid-murid saya. Bagaimana dengan zoom? Menurut saya pemakaian zoom itu lebih cocok untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak. Anak-anak masih membutuhkan bantuan orang tua untuk memasukan Meeting ID dan password, atau untuk sekedar mengatur setelan video dan audionya. Belum lagi beberapa murid yang kedua orang tuanya bekerja otomatis mereka tidak bisa mengikuti learning conference di pagi hari. Sedangkan di lain pihak, fokus anak-anak di pagi hari dan di malam hari tentu saja berbeda. Jadi perubahan dadakan dari belajar di sekolah ke belajar di rumah dengan teknologi ini seperti layaknya bayi yang dipaksa makan nasi. Kita belum terbiasa dengan sistem seperti ini sehingga rasa stress pun kerap muncul.

    Mei 25, 2020
Post a Comment