Titik Kisar Pendidikan Sejak Covid-19
Oleh : Nirwansyah
Semenjak kasus pertama muncul di China pada akhir 2019 lalu,Covid-19 dengan sangat cepat telah menyebar dan menggurita di berbagai mancanegara termasuk Indonesia. Eskalasi penyebaran bisa jadi terus bertambah apabila bencana ini tidak menjadi prioritas. Indonesia, baru mendapati kasus pertamanya pada 2 Maret 2020 dan diprediksi mencapai kulminasinya antara Mei-Juli ini.
Barang tentu, pagebluk yang semakin marak telah mempengaruhi sendi kehidupan secara simultan dan pusparagam. Misalnya pada sektor pendidikan, di mana Covid-19 telah merubah cara didik jutaan orang di dunia. Dalam catatan UNESCO, lebih dari satu milyar peserta didik atau 70% dari total 168 negara terpaksa diliburkan atau disesuaikan.
Pada kondisi normal, blended learning menjadi metode pembelajaran yang paling ideal. Namun, hal itu akan sulit diaplikasikan dalam kondisi pandemi sekarang ini. Oleh sebab itu, pembelajaran terpaksa dilakukan melalui media digital atau daring secara (full mode) menyeluruh. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika mengatakan Covid-19 sebagai katalisator dalam sektor pendidikan.
Perubahan Cara Didik
Selama ini, mayoritas institusi pendidikan cenderung merangkak dalam mengikuti perkembangan zaman. Sehingga pendidikan seperti itu kadung membuat berbagai pihak merasa nyaman, sehingga kualitas pendidikan tetap pada status quo (red : keberadaan negara).
Covid-19 nampaknya bisa dikatakan sebagai determinan pada sektor pendidikan, selain dampak destruktifnya yang sudah merembes ke mana-mana. Ada beberapa indikator yang mengisyaratkan bahwa covid-19 telah menjadi katalis atau ‘agent of change’ terhadap pendidikan sebagaimana disebutkan Gloria Tam dan Diana El-Azar di World Economic Forum berikut:
Pertama, ditemukannya inovasi yang diluar prediksi sebelumnya. Lambatnya perubahan dalam institusi-institusi pendidikan secara global sangat disesalkan, dengan pendekatan pengajaran yang berbasis berabad-abad, bias institusional yang mengakar dan ruang kelas yang ketinggalan zaman. Namun, COVID-19 telah menjadi katalis bagi institusi pendidikan di seluruh dunia untuk mencari solusi inovatif dalam waktu yang relatif singkat.
Di Tiongkok, 120 juta siswa mendapatkan akses pembelajaran melalui siaran televisi. Di Nigeria, standar asynchronous dalam jaringan (seperti materi membaca melalui Google Classroom) di-augmentasi dengan instruksi video tatap muka. Di Lebanon, pembelajaran dalam jaringan juga dilakukan. Bahkan, untuk mata pelajaran olahraga di mana siswa merekam latihan atletik mereka di rumah. Lalu dikirim dalam bentuk video ke guru mereka.
Kedua, meningkatnya kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Hanya dalam beberapa minggu terakhir, kita telah melihat konsorsium dan koalisi pembelajaran terbentuk, dengan beragam pemangku kepentingan termasuk pemerintah, penerbit, profesional pendidikan, penyedia teknologi, dan operator jaringan telekomunikasi berkumpul bersama untuk menggunakan platform digital sebagai solusi sementara di tengah pandemi.
Di Cina, Kementerian Pendidikan telah mengumpulkan sekelompok konstituen yang beragam untuk mengembangkan platform pembelajaran berbasis awan (cloud) serta meningkatkan berbagai infrastruktur pendidikan, yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan dan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi.
Demikian pula, forum readtogether.hk yang berbasis di Hong Kong, dimana lebih dari 60 konsorsium organisasi pendidikan, penerbit, media, dan profesional industri hiburan, menyediakan lebih dari 900 aset pendidikan, termasuk video, bab buku, alat penilaian dan layanan konseling secara cuma-cuma. Tujuan konsorsium adalah untuk terus menggunakan dan memelihara platform dalam jangka panjang bahkan setelah COVID-19.
Melalui contoh-contoh seperti ini, terbukti bahwa inovasi pendidikan menerima perhatian di luar proyek sosial yang didanai pemerintah atau nirlaba. Dalam dekade terakhir, kita telah melihat minat dan investasi yang jauh lebih besar, datang dari sektor swasta dalam solusi dan inovasi pendidikan. Dari Microsoft dan Google di AS dan Samsung di Korea hingga Tencent, Ping An, dan Alibaba di China, perusahaan-perusahaan bangkit menuju imperatif strategis penduduk terpelajar. Sementara sebagian besar inisiatif hingga saat ini terbatas dalam ruang lingkup dan relatif terisolasi. Pandemi ini dapat membuka jalan bagi koalisi lintas-industri berskala lebih besar untuk dibentuk di sekitar tujuan pendidikan bersama.
Ketiga, kesenjangan digital yang semakin menganga. Pembelajaran secara daring telah menjadi tren dunia saat ini. Pembelajaran seperti ini tentunya sangat bergantung pada kualitas dan akses digital. Sementara kelas virtual di dalam handphone, komputer serta tablet (HKT) mungkin menjadi norma di China dan di Hongkong,
Di sisi lain, bagi negara berkembang dan ekonomi yang belum adekuat mengandalkan pembelajaraan via Whatsapp atau email. Sebagian masyarakat masih banyak gagap teknologi (GAPTEK) dan kurang dari segi finansial. Imbasnya mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran karena biaya gadget dan paket data yang tinggi. Sehingga, mereka akan semakin jauh tertinggal.
Titik Kisar
Prahara pandemi telah membuat banyak orang menjadi ketar-ketir sekaligus menjadi perhatian global. Hal demikian memantik masyarakat untuk berkolaborasi dalam membuat jaring pengaman ditengah pandemi. Jaring pengaman tersebut dimaksudkan agar generasi umat manusia mampu untuk bertahan hidup. Seperti kata Lamarck dengan teori evolusinya yang berprinsip “collaboration for life”, yakni kerja sama agar tetap bertahan hidup (Efendi, 2019).
Pembentukan jaring pengaman tersebut telah menguras otak dan menuntut manusia untuk sesegera mungkin menemukan solusi yang efektif. Berbagai langkah dilakukan demi memutus mata rantai penularan covid-19 yang disesuaikan dengan sektornya masing-masing. Pada sektor pendidikan, solusi sementara ialah pembelajaran digital yang masih jauh dari kata sempurna. Para pemangku kepentingan sedang berusaha mencari dan menyempurnakan berbagai perangkat dalam menunjang aktivitas pembelajaran secara daring.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, bahwa pandemi ini telah merubah cara didik jutaan orang di dunia. Sedangkan di Indonesia, sebelum adanya pandemi ini, Mendikbud Nadiem Makarim telah mencanangkan gebrakan “Merdeka Belajar” kemudian disusul dengan “Kampus Merdeka”. Tentunya, pandemi ini bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan kuat dalam menata ulang arah Pendidikan Indonesia.
Dalam kondisi saat ini, pembelajaran jarak jauh merupakan suatu langkah yang sudah tepat, setidaknya dari sisi kesehatan. Namun, dari segi efektifitasnya perlu sebuah lompatan besar dari para pemangku kepentingan. Inilah saatnya Indonesia harus naik tingkat dan beranjak dari status quo. Covid-19 telah membuka mata banyak orang bahwa arah pendidikan harus berorientasi futuristik yakni, edukasi 4.0.
Budi Trikorayanto, Pengamat Pendidikan mengatakan kita akan melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, yang memerdekakan belajar. Salah satu hikmah di balik musibah ini yaitu covid-19 telah memulai langkah awal dalam titik kisar perjalanan pendidikan baik di dunia maupun di Indonesia.
