f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Yang Terdampak Pandemi Covid-19 Bisa menjadi Donatur, Why Not? (1)

Oleh: Feb Azimatus Sauvia

Sejak pemerintah pertama kali mengumumkan secara resmi adanya dua pasien positif Covid-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, masyarakat berbondong-bondong melakukan penggalangan dana.

Tentu sikap masyarakat ini wajar sebagai respon dan wujud kepedulian terhadap pandemi Covid-19 di Indonesia. Diantaranya karena minimnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis di berbagai rumah sakit, termasuk rumah sakit rujukan.

Satu per satu flyer penggalangan dana yang dimunculkan oleh lembaga besar hingga komunitas kecil tak henti memenuhi notifikasi HP dan time line di media sosial saya.

Saya menangkap ini sebagai sesuatu yang perlu kita apresiasi, bahwa kepedulian dan rasa gotong royong bangsa Indonesia masih tinggi. Tak diragukan jika sampai pada tahun 2019, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan sejagat oleh Lembaga amal Inggris, Charities Aid Foundation (CAF).

Pada minggu pertama pandemi menyapa Indonesia, saya melihat masyarakat berbondong-bondong memprioritaskan dananya untuk berdonasi dalam jumlah besar. Namun ternyata wabah tak kunjung teratasi hingga kini, dan mulai menimbulkan dampak sosial ekonomi.

Dampak tersebut melanda hampir semua lapisan masyarakat, mungkin juga usaha yang Rahmania punya. Warung-warung sepi, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) banyak yang mulai gulung tikar, bahkan pasar tanah abang yang merupakan pusat grosir pakaian terbesar di Indonesia terpaksa tutup.

Termasuk juga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) satu per satu tak dapat dihindarkan.

Pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh lapisan masyarakat, baik kaya maupun miskin. Baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Bahkan bisa saja berdampak pada orang yang tadinya menjadi donatur.

Setiap orang mulai terdampak dan menjadi lebih berhati-hati memprioritaskan penggunaan dana. Karenanya, perlu ada upaya kreatif agar masyarakat tetap berkontribusi dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19 meski dalam upaya sekecil apapun.

Baca Juga  Membuka Pendidikan Darurat di Masa Pandemi

Saya yakin Rahmania pun juga menjadi salah satu yang bergerilya mengumpulkan dana bagi yang membutuhkan.

Belajar dari pengalaman aktivitas sejenis dari tempat atau negara lain dapat kita pertimbangkan. Ada pengalaman menarik dan kreatif dalam penggalangan donasi yang saya peroleh selama hampir enam tahun lebih tinggal di Adelaide, Australia saat menemani suami tugas belajar.

Dalam periode waktu tersebut, saya mencatat dalam ingatan cara-cara kreatif masyarakat Adelaide dalam penggalangan dana.

Antara lain, mereka memanfaatkan budaya lokal berkumpul di taman dengan mengadakan barbeque bersama komunitasnya namun setiap peserta didorong untuk ikut berdonasi. Atau pertunjukan siswa yang ditonton oleh orang tua siswa dengan membayar cukup dengan gold coin yaitu 1 hingga 2 dolar saja.

Meskipun sebagian cara kreatif dalam menggalang donasi tersebut dilakukan pada kondisi normal dan bukan pada kondisi pandemi yang menuntut disiplin dan social distancing namun bisa memperkaya ide dalam melakukan penggalangan donasi.

Berbeda dengan sebelumnya, upaya kreatif lain dilakukan teman SD anak saya, Saujana, saat dirinya mengumpulkan dana untuk operasi cerebral palsy. Alih-alih meminta bantuan uang, keluarganya membuat film dokumenter yang didukung pihak sekolah dengan menjual tiket pemutaran film dokumenter tentang profil murid itu sendiri.

Ragam penggalangan dana secara kreatif juga dilakukan beberapa komunitas dengan mendirikan toko untuk menjual baik barang bekas (second hand), hasil kerajinan (craft), makanan maupun unwanted gift yang merupakan sumbangan dari masyarakat juga.

Tentu, apabila cara-cara kreatif tersebut diaplikasikan harus tetap mempertimbangkan protokol pencegahan penularan Covid-19.

Contoh kreatif menarik lainnya seperti yang dilakukan warga Indonesia di Adelaide yang bergabung pada komunitas Indopeduli. Mengapa dapat dikatakan unik dalam menggalang dana? Mereka menggunakan prinsip atau misi utama yaitu barter, take and give.

Jadi penggalangan dana yang dilakukan tidak selalu meminta sumbangan berupa uang. Mereka terbuka menerima siapa saja untuk bisa ikut berdonasi sesuai dengan kemampuan dan sumber daya masing-masing. Dari gerakan mereka yang kreatif ini, sumbangan yang masuk beraneka ragam.

Baca Juga  Pembunuhan Batal Terjadi

Ada donatur yang menyumbangkan telur ayam hasil ternak sendiri. Ada donatur yang menyumbangkan daun jeruk yang dipetik dari halaman rumah. Ada pula donatur lain menyumbang kemampuannya menjahit kerajinan dari kain batik, dimana kain batik tersebut adalah sumbangan dari donatur lainnya.

Atau sumbangan berupa olahan kentang dan jamu juga ikut didonasikan. Sumbangan-sumbangan ini kemudian dijual, dan hasilnya digunakan untuk memenuhi keperluan donasi.

Bersambung….

*Penulis adalah Entrepreneur muda, pemilik brand Sauvia

Bagikan
Post a Comment