ICAS 2026 Dorong Kepemimpinan Perempuan Muslim untuk Peradaban Berkelanjutan
Yogyakarta – Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyelenggarakan International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) ke-2 di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Milad ke-100 Suara ‘Aisyiyah, dan Milad ke-35 UNISA Yogyakarta.
Ketua Panitia, Alimatul Qibtiyah, menyampaikan bahwa selama lebih dari satu abad ‘Aisyiyah telah memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, filantropi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan intelektual. Berangkat dari warisan tersebut, Center of ‘Aisyiyah Studies bersama LPPA PP ‘Aisyiyah kembali menghadirkan ICAS sebagai ruang pengembangan gagasan dan penelitian.
Mengangkat tema “Memperkuat Solidaritas, Merawat Semesta, Kepemimpinan Perempuan Muslim Progresif untuk Peradaban yang Berkelanjutan”, konferensi ini bertujuan menggali peran kepemimpinan perempuan Muslim dalam membangun masa depan yang berkelanjutan melalui nilai solidaritas, kepedulian sosial, kasih sayang, dan komitmen terhadap lingkungan.
Alimatul mengungkapkan bahwa ICAS 2026 memperoleh sambutan yang sangat positif. Panitia menerima 135 abstrak dan 115 makalah penuh dari akademisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi dari berbagai daerah dan negara. Mayoritas peserta berasal dari Pulau Jawa, disusul Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, serta wilayah Nusa Tenggara. Selain itu, terdapat pula peserta dari Papua dan berbagai negara lain, yang menunjukkan semakin luasnya jaringan akademik dan praktisi yang terlibat dalam kajian-kajian ICAS.
Menurutnya, tingginya partisipasi tersebut mencerminkan bahwa studi tentang ‘Aisyiyah dan isu-isu terkait perempuan, kepemimpinan, serta pembangunan berkelanjutan semakin relevan dan berkembang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya konferensi ini, mulai dari panitia, narasumber, sponsor, hingga para peserta.
Lebih lanjut, Alimatul berharap ICAS 2026 dapat menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas, rekomendasi kebijakan strategis, serta jejaring kolaborasi yang berkelanjutan untuk mendukung terwujudnya keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Ia menegaskan bahwa ICAS bukan sekadar forum presentasi hasil penelitian, tetapi juga ruang intelektual untuk memperkuat kontribusi perempuan, khususnya perempuan Muslim, dalam pengembangan ilmu pengetahuan, transformasi sosial, dan pembangunan peradaban.
Sementara itu, Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti, menilai ICAS 2026 menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa gerakan perempuan berkemajuan tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan masyarakat, tetapi juga melalui penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan kerja sama global.
Ia menegaskan bahwa tantangan dunia saat ini, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan, membutuhkan kepemimpinan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas, memperkuat ketahanan masyarakat, serta menghadirkan berbagai solusi yang berpihak pada kemanusiaan.
Warsiti berharap berbagai makalah yang dipresentasikan dalam konferensi ini tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memperkaya perspektif keilmuan berbasis pengalaman dan kepemimpinan perempuan. Ia juga berharap ICAS menjadi wadah dialog, pertukaran gagasan, serta penguatan jejaring kolaborasi untuk menjawab berbagai tantangan global.
Menutup sambutannya, Warsiti menegaskan komitmen UNISA Yogyakarta untuk terus melanjutkan semangat pemberdayaan perempuan. Selama 35 tahun perjalanannya, UNISA tidak hanya mengembangkan pendidikan tinggi, tetapi juga aktif mendorong penguatan kepemimpinan perempuan dan mengambil peran strategis dalam berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, UNISA lahir dari gerakan perempuan, tumbuh bersama gerakan perempuan, dan akan terus berkontribusi bagi kemajuan perempuan serta masyarakat global.

“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
