Bayangkan Wajah Walid: Antara Taat dan Khurafat

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Serial Bidaah belakangan ini ramai jadi bahan obrolan. Bukan cuma karena ceritanya yang dramatis, tapi karena tokoh utamanya, Walid, mewakili realita yang terasa dekat—terlalu dekat malah. Walid adalah gambaran orang yang kelihatannya saleh, bicara agama, pakai jubah, sering memberikan ceramah, tapi ternyata dia menggunakan agama untuk membungkam, menindas, dan menguasai. Dan yang paling disayangkan, semua itu ditujukan pada perempuan.

Minum Air Kaki Walid dan Kekuasaan yang Didewakan

Salah satu adegan yang bikin banyak orang geram dan “ngelus dada” adalah ketika seorang perempuan meminum air bekas cucian kaki Walid. Ya, kamu nggak salah baca. Air kaki. Bukan karena darurat, bukan karena haus, tapi karena dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada ulil amri atau pemimpin spiritual. Ini bukan sekadar dramatisasi sinetron. Ini sindiran keras untuk kondisi nyata, di mana banyak orang, terutama perempuan, didorong untuk taat secara buta. Bahkan rela merendahkan dirinya sampai ke titik yang jauh dari akal sehat.

Padahal, dalam Islam, ketaatan itu punya arah yang jelas. Allah berfirman:
“Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)
Tapi ayat tersebut juga memberikan catatan: kalau ada perbedaan atau keraguan, kembalikan lagi ke Allah dan Rasul. Artinya, taat boleh—asal bukan taat yang menabrak kebenaran. Kalau pemimpin (termasuk suami) mengajarkan hal yang salah, kita nggak wajib nurut. Bahkan harus berani menyampaikan: “Maaf, ini tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul”

Poligami Bukan sebuah Solusi

Serial Bidaah juga secara gamblang menunjukkan bagaimana Walid melegitimasi poligami. Bukan karena keadilan, bukan karena alasan yang bijak, tapi karena ego dan nafsu kuasa. Ia menjadikan poligami sebagai simbol kekuatan, pembuktian bahwa dirinya bisa punya banyak istri dan semua harus menaati perintahnya. Masalahnya, ini bukan fiksi semata. Dalam kehidupan nyata, masih banyak yang menjadikan poligami semacam “tiket ke surga” bagi laki-laki, dan “ujian kesabaran” bagi perempuan. Padahal, itu jelas tafsir yang berat sebelah. Masih ada banyak sunnah lainnya yang bisa dilakukan tanpa merugikan anggota keluarga lainnya, tidak perlu terburu-buru memutuskan bahwa poligami adalah tahta tertinggi dari tiket menuju surga.

Perlu ditegaskan bahwa poligami bukan Solusi, terlebih jika dasarnya hanya hawa nafsu dan pembenaran sepihak. Islam memang membuka ruang poligami, tapi dengan syarat super ketat: harus adil, tidak menyakiti, dan tidak menimbulkan penderitaan. Kalau syarat itu tidak bisa dipenuhi, maka monogami justru lebih dianjurkan. Jadi, kalau ada yang bilang “istri harus rela dipoligami karena surga istri ada di suami”, kembalilah mempertanyakan “Apa benar surga datang dari penderitaan batin seorang istri?”

Surga Yang Dirindukan

Selama ini perempuan sering dikondisikan untuk taat, diam, sabar, tidak banyak bertanya. Seolah-olah kaum Perempuan tidak memiliki hak untuk berdiskusi dan andil dalam pengambilan Keputusan dalam sebuah forum, baik rumah tangga maupun kondisi lainnya. Bahkan saat suaminya mulai bertingkah aneh, banyak yang memilih menunduk daripada menyuarakan kebenaran. Serial Bidaah jadi pengingat, bahwa kita butuh lebih banyak perempuan yang bisa speak up. Bukan karena tidak taat, tapi justru karena ingin menyelamatkan rumah tangga dari yang salah arah.

Kita bisa belajar dari sosok Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, yang cerdas, kritis, dan berani menyampaikan pendapat. Beliau bahkan menjadi salah satu rujukan ilmu agama terbesar dalam sejarah Islam. Kalau Aisyah bisa bersuara, mengapa hari ini masih ada perempuan yang dianggap “durhaka” hanya karena mengingatkan suaminya?

Jadi perempuan itu tugasnya bukan cuma nurut. Kita juga punya tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebaikan. Kalau ada yang salah, kita boleh, bahkan harus bicara. Karena Allah tidak menciptakan perempuan untuk diam. Tapi untuk berpikir, memilih, dan menyuarakan yang benar.

Banyak yang masih percaya bahwa “surga istri ada di telapak kaki suami.” Tapi penting untuk diingat: itu bukan hadis yang sahih, dan konteksnya sering disalahpahami. Surga seorang istri itu ada ketika ia menjalankan perannya dengan ikhlas, bertanggung jawab, dan tetap menjaga kebaikan, termasuk menjaga suaminya agar tidak tersesat.

Kalau suami mulai manipulatif, memakai agama untuk menekan, dan menjadikan istri sebagai alat kekuasaan, maka tugas istri bukan diam. Justru saat itulah suara kebenaran perlu terdengar.

Perempuan Berkemajuan: Antara Taat dan Mampu Mengutarakan Berpendapat

Serial Bidaah bukan hanya tontonan, tapi peringatan untuk kita semua. Bahwa di luar sana, masih banyak orang-orang seperti Walid. Berkedok ustadz, bicara agama, tapi ujung-ujungnya hanya ingin dikultuskan. Mereka menciptakan tafsir yang menguntungkan dirinya, dan meminta orang lain, terutama Perempuan, untuk menelan semuanya mentah-mentah.

Sudah waktunya kita belajar membedakan mana ketaatan yang sehat, dan mana ketaatan yang sesat. Karena taat itu indah, kalau dijalankan dengan hati dan akal. Tapi taat yang buta, bisa berubah jadi kufarat, menyimpang dari ajaran sejati, tapi dibungkus dengan dalih berkhidmat pada Ilahi. Semoga Allah senantiasa menjaga kita, memberikan nikmat berupa iman dan ilmu pengetahuan untuk menjadi perempuan yang taat namun tetap mampu mengutarakan pendapat, bukan menjadi pelaku hal yang kufarat tanpa mampu mendebat. Wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan:
Penulis 5 Tulisan

Rahmania Santoso

Sarjana Ilmu Komunikasi yang hobi jalan-jalan. Saat ini sedang sibuk mengurus bisnis barunya.

Leave a Comment