f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Harga

Harga yang Sepadan

Sudah lebih dari tiga puluh menit kami menunggu si bungsu menyusuri rak demi rak yang memajang aneka komik edisi terbaru, tapi belum ada satupun yang dipilihnya. Kami datang bukan di jam sibuk toko sehingga pengunjung tidak terlalu banyak. Hal ini memungkinkan kami untuk menjelajah toko buku ini dengan cukup leluasa. Toko ini tidak terlalu besar, tetapi koleksi komik dan novelnya cukup bisa membuat isi dompet para penyuka buku terkuras. Saya rasa, pemilik atau pengelola toko ini adalah seorang penikmat buku juga. Terbukti dari buku yang dipajang sangat variatif dan up to date.

Sebenarnya, keinginan membeli komik lagi sudah diutarakan anak saya sejak lama. Tetapi kami memintanya bersabar, dan berjanji akan memenuhi keinginannya jika nilai raportnya semester ini mengalami perbaikan. Kami terbiasa mengajarkan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap keinginan yang terwujud. Dan, ada ‘harga’ yang berbeda yang kami tetapkan untuk setiap keinginan yang berbeda pula. Jika keinginan mereka ‘mahal’ maka harga yang harus mereka bayar juga mahal, begitupun sebaliknya.  

Saya ingat sekali momen yang akhirnya menyadarkan anak anak kami bahwa orang tuanya ternyata menghargai kerja keras mereka selama ini. Saat itu masih pandemi, saat ketika kegiatan belajar daring terasa sangat membosankan. Tak ada perjanjian apapun yang membuat mereka tetap mengikuti kegiatan pembelajaran daring dengan baik. Tetapi ketika penerimaan raport menunjukkan hasil belajar mereka tetap baik baik saja, kami memberikan hadiah yang sangat tidak mereka sangka. Suami saya menggeser set Play Station lama di rumah dan menggantinya dengan yang baru. Sejak saat itu mereka menyadari bahwa jika hasil kerja mereka bagus, rewardnya juga akan sepadan.

Ada kesepakatan terlebih dahulu

Tidak bisa dipungkiri, saat memberikan reward atas hasil kerja mereka, hal itu akan menjadi celah untuk bisa membelokkan tujuan kerja. Kemungkinan buruk yang akan timbul adalah, anak jadi berpikir bahwa melakukan ‘sesuatu’ demi ‘sesuatu’, akhirnya mereka berpamrih saat melakukan kegiatan tersebut.

Baca Juga  Rida Kepada Orang Tua Mendatangkan Rida Allah

Tetapi, bukankah memang hukum pasar seperti itu? Ada harga, ada barang. Ingin memiliki barang baru, ya harus beli. Membeli sesuatu, ya harus punya uang untuk membayarnya. Memang tidak semua hal harus dibayar dengan uang, tetapi tetap saja ada pertukaran yang sepadan untuk setiap hal. 

Sebenarnya konsep ada harga ada barang, tanpa sadar telah kita tanamkan kepada anak anak sejak kecil. Mari kita flashback ketika ayah pulang kerja, misalnya. 

“Ayah bawa pizza nih”

“Horeee!!!”, seru si anak sambil menyambut ayahnya. “ Pizzanya mana, Yah?”

“Ni”, ayah mengeluarkan pizza, tapi masih ditahan di tangannya. “ Cium dulu dong”

Cup. Baru deh, pizza berpindah tangan dari ayah kepada anaknya.

Dalam bentuk dan contoh yang sederhana sebenarnya kita telah menjelaskan kepada anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu mereka juga harus melakukan sesuatu.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua. Peran orang tua untuk menjelaskan dengan baik, menjadi sangat penting karena setiap keluarga memiliki kebijakan dan pengaturannya sendiri. Anak perlu memahami bahwa aturan ‘harga’ di keluarganya berbeda dengan aturan ‘harga’ di keluarga orang lain. Kok begitu? Iyalah, harga kopi di Starbucks aja jauh berbeda dengan harga kopi di warung sebelah rumah. Ha ha.

Tetapi, ketika anak telah memahami aturan ada harga ada barang, orang tua juga tidak bisa seenaknya saja mematok harga. Kesepakatan ‘harga’ yang ditetapkan sebaiknya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan seorang anak. 

Beberapa hari sebelum kami memenuhi keinginan si bungsu untuk ke toko buku, dia sempat bertanya. Mengapa untuk komik baru kali ini, dia harus kembali mendapatkan peringkat kelas, sedangkan kakaknya tidak pernah kami minta untuk mendapatkan peringkat kelas.

Baca Juga  Hidayah dan Petunjuk

“Sebelum ini kamu pernah juara kelas apa tidak?”, tanya saya.

“Sering. Hanya semester kemarin aja yang turun”

“Berarti kamu mampu jadi juara lagi, asal berusaha. Kakak, tidak diminta juara kelas, karena saat itu, dia tidak menguasai semua mata pelajaran sebaik kamu. Kakak paling jago bahasa Inggris, jadi nilai sempurna yang bisa dikejar kakak ya bahasa Inggris. Yang lain, cukup dengan peningkatan semampunya”

Kami menjelaskan kepadanya bahwa harga yang kami tetapkan padanya, sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Meskipun sebenarnya kami tidak sepenuhnya menuntut keharusan menjadi juara kelas, tetapi paling tidak si bungsu mengerti bahwa dia pernah berhasil sampai di titik itu, jadi kemungkinan untuk meraihnya kembali sangatlah bisa, dengan berusaha dan belajar lagi seperti semester sebelumnya.

Hal seperti ini, kemampuan dan kapasitas yang bisa dicapai seorang anak, hanya orang tua yang paham. Kembali lagi, harus dikomunikasikan dengan sangat baik juga kepada anak. Tidak bisa diputuskan secara sepihak. Anak juga memiliki hak untuk menawar ‘harga’ yang diajukan orang tuanya.

Tidak mudah memang untuk menerapkan kesepakatan baru. Tidak mudah juga menerapkan kesepakatan yang memuaskan semua pihak. Tetapi paling tidak, ketika semua dibicarakan dengan saling menghargai pendapat, keinginan dan kemampuan yang dimiliki, baik orang tua maupun anak akan memahami dan saling menghargai keinginan dan peran masing masing. Harapannya begitu ya bu, pak.  

Semoga menemukan harga yang pas.

Bagikan
Post a Comment