Metode Hukuman bagi Anak Menurut Islam
Menjadi orang tua adalah dambaan setiap orang yang baru saja melangsungkan pernikahan. Bayangan akan hamil, melahirkan hingga merawatnya hingga tumbuh dewasa menjadi mimpi setiap pengantin baru. Tugas orang tua bukan hanya membesarkan buah hati dengan sepenuh hati. Melainkan juga mendidik dan mengarahkan anak untuk dapat mengenal Allah, menjadi pribadi yang mandiri, sopan, dapat menghargai sesama, dan senantiasa memiliki rasa cinta kasih.
Dalam proses menjadi orang tua tidaklah semudah yang dibayangkan ketika belum mengalaminya. Saat masih melajang terkadang seringkali kita menyalahkan orang tua yang memiliki anak hiperaktif, nakal. atau sangat usil. Anak lahir ke dunia bagaikan kertas putih. Orang tuanya akan menjadi pena untuk menggambarkan dan menuliskan berbagai hal dalam kertas tersebut.
Anak Adalah Imitasi Orang Tua
Kebiasaan, tingkah laku, dan beberapa tindakan yang anak lakukan terbentuk dari orang tua. Anak adalah makhluk imitasi, di mana ia selalu meniru orang-orang di sekitarnya. Satu ketika di sekolah saya anak laki-laki kelas 3 Sekolah Dasar sedang asik membuat rokok palsu. Dari kertas sobekan buku yang digulung dan diwarnai ujungnya sehingga menyerupai rokok. Saat saya masuk kelas mereka masih gusur membuat gulungan kertas tersebut.
Dengan lihainya mereka memperagakan seorang yang sedang merokok. Menghisap dan memegang puntung tersebut. Sesekali mereka meletakkan gulungan kertas tersebut di telinganya. Mengapa hal ini bisa terjadi? mereka meniru orang-orang di sekitarnya. Entah itu ayah kakek, paman, om,pakde, atau tetangga mereka yang merokok. Dalam benak mereka merokok menimbulkan sebuah kenikmatan tersendiri. Hingga mereka bermain dan membayangkan sedang merokok dengan gulungan kertas.
Itu merupakan salah satu contoh konkrit yang saya temui di tempat saya bekerja. Dari hal tersebut, kita dapat mengambil sebuah pelajaran. Tanyalah terlebih dahulu pada diri, kita ingin membentuk anak seperti apa. Apakah membentuk anak yang patuh, taat terhadap perintah agama, dapat menjaga shalatnya, tidak berbicara kasar atau seperti apa? Ketika kita telah memahami itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah berperilaku demikian.
Membentuk anak yang rajin beribadah, berarti orang tua harus memberikan contoh salat 5 waktu dan tepat waktu, mengaji dan beberapa aktivitas keagamaan lainnya. Dengan demikian akan terekam dalam ruang bawah sadar anak untuk meniru kebiasaan baik dari orang terdekatnya. Jadi intinya ketika kita ingin membentuk kebiasaan anak kita harus membiasakan hal tersebut terlebih dahulu. Dengan demikian akan terbentuk sebuah pola dalam diri anak.
Metode Hukuman Menurut Islam
Mendidik anak bukanlah hal mudah dan dapat dilakukan dengan instan. Nyatanya mendidik anak adalah sebuah proses dan pembelajaran bagi keduanya. Bagi si anak dan bagi orang tuanya. Orang tua harus belajar ilmu parenting, bagaimana cara mengarahkan anak dan bagaimana cara memberi efek jera terhadap anak.
Setiap anak pasti pernah melakukan kesalahan sebagai orang tua kita harus bisa mengambil langkah. Tidak hanya membiarkan anak ketika bersalah atau menghukumnya dengan keras untuk memberikan efek jera kepadanya. Sebelum mengambil tindakan hukuman pada anak orang tua harus memberikan konsekuensi atau membuat kesepakatan bersama. Misalnya ketika anak tidak melaksanakan shalat maka ia harus menanggung konsekuensi membersihkan kamar mandi.
Ketika kesepakatan telah dibuat antara orang tua dan anak, maka akan tertanam dalam alam bawah sadar mereka hukum sebab akibat. Orang tua tidak akan dengan sembarangan menghukum anak tanpa kesalahan yang jelas. Ketika kesepakatan mengenai hukuman telah terbentuk, ajak anak untuk konsekuen dengan kesepakatan tersebut. Ketika anak melanggar, orang tua harus tegas melaksanakan hukuman tersebut. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan efek jera pada anak.
Dikutip dari buku Mendidik Anak Seperti Rasulullah (Damlah, 2012) berikut adalah cara memberikan hukuman pada anak menurut Islam.
1. Bersikap lemah lembut
Lemah lembut dan kasih sayang adalah sebuah dasar pembenahan seorang anak. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari yang berbunyi: “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, hindarilah sikap keras serta keji”
Hal ini sebagai upaya supaya anak mendapat prioritas dengan arahan nabawi supaya mereka mendapat pemeliharaan, kelemah lembutan dan kasih sayang. Meskipun kita memberikan hukuman pada anak tetap selipkan rasa lemah lembut dan tunjukkan kasih sayang kita sebagai orang tua. Berikan pengertian bahwa orang tua memberi hukuman bukan membenci anak, melainkan karena sayang dan ingin anaknya lebih baik lagi dengan belajar dari kesalahan.
2. Menjaga tabiat kesalahan anak
Senantiasa menjaga tabiat kesalahan anak dalam menggunakan hukuman. Setiap anak memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda hal ini termasuk pembawaan emosi, tanggapan maupun respon. Hal tersebut berkaitan dari keturunan, faktor lingkungan, serta pendidikan pada anak. Ada anak yang ketika melihat orang tuanya cemberut sudah cukup untuk melarang dan dapat memperbaikinya. Namun, menerapkan cara itu tidak bisa kepada setiap anak. Ada yang harus mendapat kecaman terlebih dahulu. Atau ada yang harus mendapatkan hadiah tongkat untuk menimbulkan efek jera.
Ibnu Sina, Al-Abdari, dan Ibnu Khaldun sebagai seorang ahli pendidikan dalam Islam melarang metode hukuman kecuali dalam keadaan sangat darurat. Menurut Ibnu Khaldun pendidikan yang mengutamakan kekerasan pada anak maka akan menyempitkan jiwa dalam proses pendidikan, menghilangkan semangat, penyebab kemalasan, dan menyertakan dusta karena ketakutan tangan kecam mendarat di mukanya. Intinya pendidik atau orang tua harus bijaksana dalam menggunakan setiap teknik hukuman, jangan sampai mengganggu kecerdasan anak, pendidikan serta pembawaan.
3. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan
Ketiga, ketika dalam ranah pembinaan, lakukanlah secara bertahap. Dari yang paling ringan hingga paling keras. Rasulullah Saw. selalu mengajarkan tata cara bagi orang tua maupun pendidik untuk memperbaiki penyimpangan seorang anak, mendidik, meluruskan kebengkokan, membentuk moral serta spiritualnya. Ketika telah mengetahui ilmu demikian maka orang tua dan pendidik tahu hal yang harus diambil, langkah yang akan dipilih untuk mendidik dan memperbaiki anak.
Itu merupakan metode hukuman yang diajarkan dalam Islam, berilah hukuman pada anak sesuai usia dan jenis kesalahannya. Jangan pernah memukul anak dalam kondisi sangat marah karena hal tersebut akan melukainya, karena dalam kondisi puncak amarah kita akan sulit mengontrol emosi. Didiklah anugerah terindah yang telah Allah titipkan dengan cinta dan aturan yang telah Allah berikan.
Editor: Fitria Salsabila
Guru dan penggiat literasi pena aswaja STAINU Temanggung. IG: Anisa Rachma Agustina.
