Darurat Pendidikan Keluarga
Kita ini hidup di zaman apa? Mulai dari segi lembaga, betapa banyak kabar memprihatinkan dan sukar dipercaya. Sebab, lingkungan sereligius dan seakademis apapun rupanya bisa menjadi tempat melakukan kejahatan yang amat mengejutkan publik, meski tampaknya mustahil.
Demikian pula kasus korupsi yang biasa menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat, kini tak hanya menjerat elite pejabat, bahkan merembet sampai ke ranah akademisi dan aparat pengadilan. Seorang guru besar, juga seorang hakim agung, dua-duanya sangat terhormat dan tentu mendapat kepercayaan besar dari masyarakat.
Itu baru persoalan negara, sebelum ke ranah yang lebih luas, di lingkungan kita saja banyak kasus-kasus tidak manusiawi, semisal ibu bunuh anak, suami bunuh istri, bahkan pelaku pembunuhan oleh anak-anak. Kabar terakhir yang terdengar, bahkan ada pembunuhan satu keluarga hanya karena mempersoalkan warisan.
Tidakah semua kejadian di atas membuat kita berpikir. Bahwa di zaman sekarang tantangan orang tua itu sangat berat. Bila tak pernah mendidik anak sama sekali dan hanya menitipkan pendidikannya pada lembaga, maka sama dengan tidak mempersiapkan pendidikan anak dengan baik. Karena kita hidup di zaman yang mengandalkan lembaga pendidikan saja tidaklah cukup.
Krisis Integritas
Korupsi yang seringkali melibatkan elite pejabat, sudah menjadi konsumsi harian yang sudah terlampau sering melukai hati masyarakat. Namun publik dibuat tak habis pikir dengan merambatnya praktik culas hingga ke ranah akademisi bahkan aparat pengadilan selevel hakim.
Ini bukan hal yang harus masyarakat maklumi . Ini adalah bencana besar, yang jika dibiarkan, budaya korupsi akan terus membudaya sampai kapanpun.
Mungkinkah prosedur pemilihan guru besar dan hakim tidak melewati proses yang ketat. Jika memang tidak mungkin, apakah bisa seorang yang berintegritas tinggi kemudian melanggar integritasnya sendiri.
Kaidah “manusia biasa” memang bisa menjadi tempat pembenaran. Gaya hidup yang hedon, sangat mungkin menjadi ajang pemanfaatan terselubung. Pribadi yang ‘rakus’ dapat menyebabkan seseorang mengesampingkan integritasnya demi kepentingan sesaat.
Ini mungkin karena kegagalan pola asuh keluarga, tidak tertanamnya integritas sejak dini dan tidak kuatnya ajaran agama hingga kepribadian yang mendominasinya jauh dari pada kejujuran. Meski di awal sebelum menjadi guru besar dan hakim berintegritas, namun itulah godaan yang tak bisa dimungkiri.
Pemicu lain kemungkinannya adalah lingkungan. Sebagus apapun integritas seseorang, saat ia harus hidup di tengah sistem yang rusak dan lingkungan yang korup, sungguh ia berada di masa genting sebab sangat sedikit mereka yang bisa bertahan dengan integritasnya di tengah situasi tersebut.
Mata rantai oleh sebab lingkungan yang rusak harus segera diputus, itulah pentingnya lingkungan akademik dan mahkamah peradilan berbenah, agar yang mengambil peranan hanyalah mereka yang berintegritas saja.
Demam Parenting
Anak butuh sentuhan orang tua, dan itu wajib. Pendidikan moral dan agama, dari mana lagi didapatkan seorang anak jika bukan dari orang tua sebagai pendidikan pertama dan utama. Dan yang paling utama, pendidikan adalah hak anak. Bahkan inilah yang sangat wajib, mengingat akan berpengaruh pada kepribadiannya di masa mendatang.
Itulah mengapa, pola asuh yang salah yang tidak mengutamakan pendidikan hanya akan membuat para orang tua menyesal. Mulai sekarang, berhentilah berpikir bahwa membesarkan anak adalah persoalan materi semata. Lebih dari itu, orang tua bertanggung jawab untuk memberi hak pendidikan anak yang tidak boleh terlewatkan.
Andaikata semua orang tua menyadari hal ini, mungkin aspek parenting ini dapat menjadi pembenahan paling mendasar akan semrawutnya wajah pendidikan kita saat ini.
Hal yang mengherankan di zaman sekarang adalah soal meningkatnya popularitas ilmu parenting. Satu sisi, hal ini sebagai isyarat kesadaran setiap orang tua tentang pentingnya pola asuh yang baik.
Di sisi lain, parenting yang menjamur di zaman milenial ini menandakan bahwa masyarakat banyak yang membutuhkan ilmu ini. Itu artinya, beberapa di antara mereka semacam berada dalam posisi menikah tanpa membekali diri dengan ilmu.
Pun yang mereka sudah berilmu tak akan pernah cukup belajar. Maka sebagai orang tua yang baik, kemudahan akses ilmu parenting di zaman ini seharusnya menjadi fasilitas yang tidak boleh terlewatkan.
Tak hanya itu, gebrakan parenting juga mempersoalkan mental pernikahan juga mental menjadi orang tua yang selalu disoroti di setiap materinya. Itu artinya, haruslah membekali pernikahan dengan ilmu yang mempuni dan mental yang baik.
Tanpa keduanya, maka bagaimana mungkin suami istri dapat menerapkan pola asuh yang baik. Jika dalam banyak kasus saja, justru malah lebih banyak anak yang menjadi tumbal keegoisan orang tuanya.
Sesungguhnya anak tidak berdosa, bahkan tidak bijak melibatkannya dalam permasalahan rumah tangga. Itulah mengapa, seni berumah tangga sangat penting. Saat suami istri mau mengarungi masa-masa sulit dengan kedewasaan, itulah seninya.
Kesuksesan parenting, dimulai dari bagaimana suami istri hendak melandasi pernikahannya. Selama pasangan menyikapi pernikahan dengan dewasa, maka kesadaran untuk mendidik anak pun dapat terealisasi karena support system (dalam hal ini suami istri) telah memahami tujuan berumah tangga dengan baik.
Bangsa ini sudah begitu hancur dengan semrawutnya wajah pendidikan dari waktu ke waktu. Pembenahan pendidikan seharusnya menjadi prioritas. Bukan sekedar merasa sudah membesarkan anak namun tidak memberikan sedikutpun bekal pada pembentukan karakter.
Adapun pendidikan kita yang menghasilkan orang pintar itu banyak. Tapi pendidikan kita untuk menghasilkan masyarakat bermoral dan bermental sehat, itulah PR besarnya.
Mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Penulis adalah seorang guru. Facebook: Shopiah Syafaatunnisa Twitter: @shopiahsyafnis.
