f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pembaca yang kolot

Pembaca yang Kolot

Di tengah kecepatan akses dan berlimpahnya informasi tradisi membaca mengalami proses penggerusan. Penggerusan ini mengakibatkan munculnya pertanyaan; bagaimana kita menjaga aktivitas dan tradisi membaca yang membutuhkan investasi waktu yang lebih banyak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, muncul di lini media sosial terkait dengan sejumlah pelatihan membaca secara cepat dengan teknik-teknik tertentu yang diterapkan. Sebagai pembaca yang kolot, saya merasa kecepatan membaca rasanya tidak mungkin. Ini karena, hal itu tidak bisa diiringi dengan pemahaman isi buku yang ingin kita dapatkan.

Dengan kata lain, dalam proses menangkap intisari bacaan, saya memerlukan semacam ruang permenenungan terkait dengan gagasan yang disampaikan oleh penulisnya. Terkait dengan tips membaca buku secara cepat, alih-alih membaca secara garis besar dan menangkap poin utama yang dimaksud oleh penulis dalam sebuah buku, saya justru membaca kalimat perkalimat hingga titik terakhir dalam sebuah kesimpulan. Saya mengulangi satu paragraf yang ditulis berkali-kali. Bahkan, saya bisa membaca secara agak keras. Tujuannya ingin mendapatkan artikulasi gagasan dari penulisnya.

Tidak berhenti di situ, saya kerapkali menelusuri sumber bacaan yang digunakan oleh penulis dan mengapa sumber bacaan itu penting untuknya. Apabila tulisan itu dicetak, saya akan memberikan semacam coretan pada paragraf yang saya anggap penting. Bagi banyak orang, aktivitas yang saya lakukan menghabiskan waktu dan sia-sia. Saya tidak peduli. Dengan melakukan aktivitas itu, saya sedang menghayati dan membayangkan bagaimana seorang penulis memproduksi gagasan dan dalam situasi apa sebenarnya ia menuliskan.

Harus diakui, dengan cara semacam ini, saya bisa menghabiskan waktu untuk membaca sampai 1 bulan secara intensif, hanya untuk membuat satu makalah. Disebut intensif, ini karena bukunya saya bawa kemana-mana bahkan sampai ke toilet untuk buang air besar. Intensitas semacam ini seringkali bikin istri saya jengkel, khususnya  saat kami bepergian. Alih-alih pakaian dan mainan anak-anak, di tas ransel saya isinya kebanyakan cuma buku. Kalau istri sudah marah begini, saya saya cuma nyengir dan minta maaf. Setelah meminta maaf tersebut, saya tentu saja masih menyelipkan buku lain.

Baca Juga  Menulis sebagai Bentuk Detoksifikasi

Saya tipikal orang yang tidak bisa membaca sambil menulis. Sebelum menulis saya harus membaca seluruh referensi yang terkait dengan isu yang saya angkat untuk membangun apa yang saya sebut imajinasi sosiologis. Imajinasi sosiologis ini merupakan semacam kemampuan perspektif untuk membandingkan satu isu dengan isu yang lain. Satu perspektif dengan perspektif yang lain. Kontekstualisasi isu satu dengan isu yang lainnya. Struktur sosial yang menghubungkan satu faktor dengan faktor lainnya. Dengan cara komparatif dan mengetahui struktur sosial masyarakat semacam ini, saya bisa membangun sebuah tulisan yagn saya anggap kokoh.  Jika aktivitas membaca pungkas, waktu yang saya habiskan untuk menulis rentangnya bisa sangat pendek, antara 4-7 hari. Ini karena, semua struktur tulisan dan informasi sudah ada di kepala saya. Seperti bermain dengan puzzle, saya hanya menyusun ulang hasil bacaan itu dengan ekstraksi pengetahuan yang saya dapatkan.

Dengan cara ini, saya sedang membangun batu-bata pengetahuan dalam kepala saya. Batu-bata ini yang memungkinkan keluar kembali saat saya menulis tema lain tapi memiliki keteririsan yagn kuat dengan buku, bagian buku, artikel jurnal, opini yang sebelumnya pernah say abaca. Jika irisannya sangat kuat dan saling terhubung, durasi waktu saya menuliskannya menjadi bisa lebih cepat. Ini karena, saya tinggal menghubungkan fenomena yang ada dengan referensi bacaan yang sudah mengendap dalam kepala saya.

Perihal kecepatan menulis inilah yang kerapkali membuat saya dicibir oleh peneliti senior di Lembaga tempat saya bekerja. Di mana saya dianggap sebagai peneliti yang sedang menulis karya yang tidak bermutu, alias karya seperti sampah. Jika direnungkan cibiran tersebut, saya mengakui bahwasanya sejumlah karya yang saya tulis memang sejenis sampah. Namun, saya tidak pernah tahu, sampah semacam apa yang kemudian bisa didaur ulang oleh pembaca sehingga menjadi karya tulisan lain yang jauh lebih baik.

Baca Juga  Hati yang Lembut, Terbalut Luka Tak Kasat Mata

Terkait dengan berlimpahnya informasi dan kecepatan akses informasi yang jauh lebih massif, bagi saya, menjadi pembaca kolot dengan berusaha untuk membekukan waktu lebih lama tampaknya bukan satu hal yang sia-sia. Ini karena, saya tidak pernah tahu ide apa yang akan muncul menjadi perspektif yang baik saat ada isu sosial dan politik yang terjadi di Indonesia untuk dianalisis. Pragmatisme membaca pada poin-poin yang diinginkan dan menginterpretasikan bahan bacaan tanpa adanya meresapi lebih mendalam dengan melakukan permenungan yang niat awalnya untuk melakukan efektivitas waktu, justru menjadi hal yang sangat sia-sia.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment