Esensi Menikah Selain Seks dan Agama
Apa esensi dari menikah? Pertanyaan singkat yang sering kali saya tanyakan pada diri saya sendiri. Agar dapat menjawab keresahan perihal esensi menikah, saya coba bertanya pada teman yang sudah menikah. Setidaknya, terdapat dua esensi menikah bagi teman saya.
Pertama, esensi menikah karena tuntutan agama. “Kiai saya pernah menjelaskan bahwa jangan lupa menikah ketika beranjak dewasa dan sudah mampu memberikan nafkah. Mulia bagi umat Islam yang menyegerakan pernikahan,” argumen dari teman saya perihal alasannya menikah.
Dalam Islam, pernikahan memang memiliki kemuliaan. Sebab, Islam memandang pernikahan sebagai sebuah ibadah. Pernikahan sebagai ibadah bisa dilihat dalam hadis riwayat Ibnu Majah yang menjelaskan bahwa pernikahan menjadi sunnah dari Rasulullah. Bahkan, dalam hadis riwayat Al Baihaqi, Rasulullah menjelaskan pernikahan sebagai penyempurna agama.
Kedua, esensi menikah sebagai legalitas persetubuhan. Banyak teman saya yang memilih menikah untuk bisa segera menyegerakan pemuasan hasrat seks. Menjadi kewajaran di usia yang menginjak dewasa terjadi peningkatan hasrat seks, sehingga membutuhkan pelampiasan untuk menyalurkannya. Peningkatan hasrat seks di usia dewasa terjadi karena adanya peningkatan hormon.
Dengan begitu, banyak yang memilih menikah sebagai jalan utama melegalkan persetubuhan. Legalitas persetubuhan menjadi normatif di Indonesia, lantaran seks di luar nikah dianggap sebagai maksiat dan terlarang.
Dari kedua esensi pernikahan tersebut, saya menolak keduanya. Sebab, jika menikah hanya karena tuntutan agama, maka pernikahannya menjadi hampa. Kenapa? Secara sosiologis, pernikahan karena tuntutan agama menyebabkan orientasinya instrumental.
Orientasi instrumental akan membuat tindakan menjadi tidak humanis. Sebab, orientasinya untuk mengejar keuntungan. Dalam hal ini mengejar pahala. Padahal, pernikahan merupakan arena cinta, bukan menjadi alat mencapai tujuan. Ini serupa dengan perkataan Habib Ja’far tentang salat yang sifatnya instrumental, sehingga hanya menjadi alat untuk mendapat pahala. Alhasil, salatnya tidak tulus dari hati.
Kemudian, apabila esensi menikah sebagai legalitas persetubuhan untuk menyalurkan hasrat seks, bisa menjadikan pernikahan tidak berlangsung lama. Dengan orientasi pada seks, artinya sekadar menyembah fisik pasangan. Padahal, fisik pasangan tidak abadi, seiring berjalannya waktu akan mengalami perubahan.
Di sisi lain, seks lambat laun akan berjalan membosankan saat bertambahnya usia. Penyebabnya adalah terjadinya penurunan hormon.
Oleh sebab itu, saya coba merefleksikan kembali perihal apa esensi dari menikah? Kali ini, saya tidak mencari jawaban pada orang lain. Saya mencari jawaban dengan merefleksikan diri dari hasil bacaan dan pengalaman hidup.
Setelah lama tidak menemukan jawaban. Akhirnya, sedikit demi sedikit mulai menemukan jawaban perihal esensi menikah selain seks dan agama.
Esensi utama menikah bagi saya adalah ruang untuk mempertahankan idealisme. Mempertahankan idealisme bukan perkara mudah. Kata Tan Malaka, idealisme menjadi harta terakhir yang hanya dimiliki oleh anak muda. Awalnya, saya bertanya-tanya tentang kalimat yang diucapkan oleh Tan Malaka.
Hingga lulus kuliah, saya menemukan maknanya. Memang untuk mempertahankan idealisme begitu sulit. Sebab, butuh keteguhan hati. Sekarang saja, saya mengalami gejolak antara mempertahankan idealisme kritis, atau mengejar uang besar dengan menghilangkan sikap kritis.
Maka, agar idealisme masih bisa bertahan hingga usia senja, dibutuhkan pasangan yang memiliki kesamaan idealisme. Sebagaimana Karl Marx yang memiliki sepemikiran dengan Jenny, selaku istrinya. Dalam buku Gagasan Tentang Manusia, digambarkan Marx dan Jenny lebih memilih hidup miskin, tetapi masih mampu menyuarakan pemikiran kritis untuk menghapuskan penindasan.
Bahkan, Jenny tidak menyesal hidup melarat dengan Marx. Justru, mendukung dan membantu Marx untuk menyusun gagasannya menjadi sebuah buku.
Dengan kata lain, pasangan yang memiliki kesamaan idealisme akan membantu untuk memberikan semangat agar tetap mempertahankan idealisme. Sokongan semangat itu yang akhirnya menjadi “pecut” untuk tidak keluar dari idealisme.
Bukan hanya menjadi pecut mempertahankan idealisme, esensi menikah lainnya bagi saya adalah sebagai teman kehidupan. Saya menyadari bahwa semakin tua usia kita, lingkungan pertemanan semakin sempit. Dulu saja saat SD, saya memiliki puluhan teman. Namun, ketika lulus kuliah, jumlah teman bisa dihitung jari.
Berkurangnya jumlah pertemanan, bisa disebabkan oleh kesibukan hidup masing-masing individu. Setiap individu sudah memiliki pekerjaan dan persoalan hidup, sehingga sulit bertemu untuk bercerita dan bermain bersama.
Dengan begitu, siapa lagi yang lebih pantas untuk menjadi teman bermain dan bercerita kalau bukan dengan pasangan? Saya saja yang belum menikah, namun punya kekasih merasakan betul perbedaan pasangan dan teman saat ini. Pasangan lebih bersifat terbuka untuk menerima keluhan dan curahan, serta diajak bermain untuk menghilangkan penat kehidupan dengan tidak mengenal batas waktu.
Saya setuju dengan perkataan kawan diskusi saya, “Kalau tak pikir-pikir, keberadaan pasangan lebih membuat hidup menjadi ringan. Soalnya, di tengah usia yang semakin bertambah, kehidupan semakin terasa sepi, tetapi keberadaan pasangan bisa menjadi teman abadi.”
Oleh sebab itu, tidak boleh sembarangan memilih pasangan dalam pernikahan. Pilihlah pasangan yang mau terbuka sebagai tempat curahan hati dan keluh kesah. Dan pilih pasangan yang mau diajak untuk bermain bersama. Jika pasangan tidak mau menjadi tempat curahan hati, keluh kesah, dan bermain, justru akan membuat hidup semakin nestapa.
Jangan hanya tergiur dengan jabatan, karena jabatan tidak menjamin kenyamanan. Saya teringat dengan cerita adik tingkat. Dia bercerita kalau tetangganya punya suami yang mempunyai jabatan tinggi, namun istrinya selalu merasa sepi karena suaminya tidak mau mendengarkan curhatannya.
Dengan kata lain, pernikahan menjadi lebih indah jika pasangan bisa terbuka untuk menjadi teman hidup. Dan keindahan pernikahan akan menjadi bertambah jika menemukan pasangan yang memiliki kesamaan idealisme. Lantaran, bisa saling memperjuangkan cita-cita secara bersama. Jika demikian, yang sulit dari pernikahan adalah menemukan pasangan yang tepat, bukankah begitu?

Mahasiswa Sosiologi dan penulis konten Arena Sosial
