f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
idulfitri dan semangat kartini

Hari Bumi, Idulfitri, dan Semangat Kartini

Hari Bumi, Idulfitri, dan Hari Kartini. Sekilas memang tidak ada keterkaitan pada ketiga peringatan tersebut, selain dirayakan dalam waktu berdekatan. Hari Bumi, diperingati setiap tanggal 22 April sebagai salah satu upaya masyarakat dunia dalam menjaga kelestarian Bumi yang kita tempati. Idulfitri tahun ini jatuh pada tanggal 21/22 April 2022, merupakan peringatan “Hari Raya” setelah umat Islam menjalankan ibadah Ramadan. Hari Kartini, diperingati di Indonesia setiap tanggal 22 April, sebagai bentuk apresiasi semangat Ibu Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Terutama dalam pendidikan. Di antara ketiga peringatan tersebut terdapat benang merah yang dapat ditarik ketika direnungkan lebih dalam.

Pertama, Hari Bumi. DIlansir dari laman earthday.org, tema peringatan Hari Bumi tahun 2023 adalah “Invest in Our Planet: Everyone accounted for, and everyone accountable”. Manusia sebagai bagian dari penduduk dunia mengetahui bahwa Bumi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penemaran terjadi di mana-mana, contohnya pencemaran perairan akibat plastik dan limbah industri, pencemaran tanah oleh industri pestisida, pencemaran udara oleh partikel berukuran 2,5 mikrometer (PM2,5). Beberapa contoh umum di atas merupakan permasalahan lingkungan yang kita sadari telah terjadi di sekitar kita akibat aktivitas manusia yang berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam, tanpa mengelola limbah yang dihasilkan dengan baik.

Berbagai upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat luas telah dilakukan terus-menerus oleh berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi, bahkan di skala individu melalui ajakan di media sosial, media cetak ataupun elektronik. Namun, sejauh ini upaya tersebut masih belum dapat menghentikan dampak dari kerusakan lingkungan secara signifikan. Terlebih lagi, dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh manusia, namun juga makhluk hidup yang lain, seperti hilangnya habitat hewan.

Baca Juga  Ibu, Pelukis Pelangi Toleransi Keluarga

Oleh karena itu, peringatan Hari Bumi Tahun ini merupakan momen refleksi bagi manusia. Apakah kita sudah berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi yang kita tempati? Sudah saatnya kita sadar, bahwa masing-masing manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam. Dan sudah seharusnya ikut terlibat langsung dengan melalukan kegiatan-kegiatan pelestarian alam, dimulai dari kegiatan sederhana yang kita bisa. Misalnya menambah vegetasi di sekitar dengan menanam pohon untuk meningkatkan pasokan oksigen, menggunakan plastik dengan bijak untuk mereduksi timbulan sampah plastik di lingkungan, mencegah kebocoran sampah dari darat ke perairan dengan tidak membuang sampah ke sungai, dan lain sebagainya.   

Kedua, Idulfitri. Idulfitri yang dimaknai sebagai “Hari Kemenangan” umat islam setelah menundukkan hawa nafsu dengan beribadah di bulan Ramadan. Semangat Ramadan dan Hari Kemenangan hendaknya tidak hilang begitu saja ketika Ramadan usai. Salah satu contoh yang harus dijaga keberlanjutannya adalah hikmah berpuasa dalam menghargai makanan. Selama berpuasa kita dapat merasakan kondisi ketika seseorang mengalami kelaparan, sehingga kita dapat menghargai makanan dengan tidak berlebihan mengkonsumi makanan. Jika semangat ini terus dijaga, besar kemungkinan bahwa timbulan sampah sisa makanan di lingkungan akan menurun.

Berdasarkan data dari Sistem Persampahan Nasional per tanggal 21 April 2023, sampah sisa makanan di Indonesia menempati urutan terbanyak pertama, yaitu sebesar 40,5%. Disusul oleh sampah plastik (18,2 %), sisanya adalah sampah kertas, kain, logam, kaca dan lain-lain. Data ini harus menjadi refleksi bagi penduduk Indonesia, bahwa ketersediaan bahan pangan yang melimpah harus dapat dimanfaatkan dengan bijak. Contoh sederhananya adalah dengan menghabiskan makanan yang telah diambil, mengolah atau memasak makanan secukupnya (tidak berlebihan), mengolah sisa sayur dan buah melalui pengomposan (komposting), dan lain-lain. Dan yang tidak kalah penting adalah menghadirkan kesadaran bahwa masih banyak di luar sana yang sedang kelaparan serta sulit mendapatkan makanan.    

Baca Juga  Tren Fashion dan Kecantikan di Hari Raya Idulfitri Tahun Ini

Ketiga, Hari Kartini. Dari Ibu Kartini kita belajar bahwa perempuan harus cerdas, pantang menyerah dan terus berjuang agar tidak ditindas. Senada dengan hal tersebut, “Ibu adalah Sekolah (Madarasah) Pertama Bagi Anaknya”. Oleh karena itu, perempuan harus mengenyam pendidikan agar menjadi cerdas dan menghasilkan generasi yang cerdas serta berkualitas. Semangat R.A Kartini tersebut hendaknya tidak hanya sebatas diperingati saja, namun juga diterapkan dalam kehidupan, termasuk dalam menghargai alam. Cerdas menghargai alam berarti dengan sepenuhnya kita sadar bahwa alam beserta isinya adalah titipan yang harus dilestarikan.

Manusia boleh saja memanfaatkan sumberdaya alam, namun tetap pada batas-batas yang tidak mengarah kepada “kerusakan alam”. Tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi/golongan dari sisi antropogenik (manusia), tapi juga mempertimbangkan mahkluk hidup lain yang menempati bumi. Cara berpikir seperti ini sangat penting diterapkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Agar nantinya terlahir pemangku kepentingan yang bijaksana dalam mengelola sumber daya alam.   

Sejatinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Manusia sejak awal telah diragukan dapat membawa kebaikan di dunia, seperti yang dijelaskan pada Surat Al-Baqarah (30),

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Namun, manusia diberikan akal sebagai pembeda dengan makhluk yang lain. Sehingga sudah sepatutnya mampu menyelesaikan permasalahan yang telah diperbuat, termasuk dalam menjaga kelestarian alam. Peringatan Hari Kartini, Hari Bumi, dan Perayaan Idulfitri yang saling berdekatan menyiratkan bahwa semua itu tidak ada artinya jika hanya sebatas diperingati. Tapi, lebih dari itu, Bumi membutuhkan aksi nyata dari penduduk dunia untuk langsung terlibat dalam mengatasi permasalahan lingkungan akibat ulah manusia sendiri.

Baca Juga  Air, Politik, Kebudayaan dan Kehidupan

Oleh karena itu, makna Ramadan dan Idulfitri dalam menundukkan nafsu, termasuk nafsu dalam memanfaatkan alam demi kepentingan manusia semata. Serta semangat Raden Ajeng Kartini yang selalu berjuang untuk menjadi pribadi terdidik harus senantiasa dipupuk agar terbentuk pemikiran dan diterapkasi dalam aksi nyata bahwa manusia bukanlah spesies penguasa bumi, melainkan harus dapat hidup berdampingan dengan makhluk hidup lain yang menempati bumi.

Bagikan
Post a Comment