f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pertandingan maroko

Dari Pertandingan Maroko, Belajar Mengikiskan Ego

Di atas sebuah kursi rotan di pekarangan indekos milik bu Rahmi terlihat seorang pemuda duduk, kakinya yang sebelah dinaikkan sedang yang satunya lagi dibiarkan menapak lantai. Posisinya ini persis layaknya bapak-bapak ketika nongkrong di warung kopi. Langit sore yang indah itu dilihatnya tenang-tenang, tetapi pikirannya melayang jauh ke mana-mana.

Ihsan, begitulah laki-laki yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah kedokterannya itu. Termenung seorang diri memikirkan banyak hal yang telah lama berlalu. Dia seorang mahasiswa tahun kelima jurusan kedokteran pada sebuah perguruan tinggi di Bandung. Karirnya meroket sejak ia menggeluti bidang public speaking. Ia banyak diundang di berbagai kegiatan internal maupun eksternal kampus, entah sebagai moderator acara, penyiar, ataupun pembicara utama pada acara tersebut. Relasinya bukan main, ia pandai menarik hati maka jadilah ia dikenal dan disegani banyak orang. Nilai akademiknya pun cenderung bagus dan stabil, keinginan belajarnya kuat. Orang yang melihatnya pun tahu bahwa ada harapan ia akan menjadi orang ternama kelak.

Namun, di balik segala topeng kelebihannya di hadapan manusia, nyatanya terdapat hubungan yang tak sempurna antara ia dan ibunya. Semenjak ibunya menikah lagi tepatnya dua tahun yang lalu, ia merasa semuanya berubah. Baginya tidak ada yang mampu menggantikan posisi bapak. Awalnya ia mencoba menepis ego demi kebahagiaan sang ibu, akan tetapi sekuat apapun ia mencoba tetaplah sulit menerima orang baru di keluarganya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberi jarak pada hubungannya dengan sang ibu dan ayah tirinya itu.

Jangankan menelpon untuk sekadar mengabari, ia bahkan sudah tak pernah pulang ke kampung halamannya walau libur semester telah tiba, jika ditanya alasannya mengapa? jawabannya selalu, “Aku pulang kalau sudah lulus, kalau sudah jadi orang.” Sejatinya itu hanyalah alasan klise yang dia buat semata-mata untuk menutupi rasa muak terhadap kampung halamannya.

Baca Juga  Adakah Ruang Aman Bagi Perempuan?

Yang direnungkannya sore itu ialah perihal kejadian semalam. Kejadian saat para penghuni kos sepakat menonton pertandingan Piala Dunia 2022 bersama. Semalam, laga pertandingan dimainkan oleh Portugal vs Maroko. Tidak disangka-sangka pertandingan tersebut membuahkan hasil yang tak terduga selama berlangsungnya Piala Dunia 2022. Ternyata tim Maroko lah yang berhasil lolos ke babak quarter final, sebuah tim biasa tetapi mampu mengalahkan negara besar seperti Portugal.

Sorak sorai kemenangan penghuni kos yang mendukung tim Maroko memenuhi ruang tengah. Di sisi lain kekalahan tim Portugal membuat sebagian penghuni kos merasa kecewa, beberapa menangis, sebagian pulang ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Ihsan, ia tim netral, dikarenakan tim jagoannya lebih dahulu pamit di babak sebelumnya.

Pada saat tim Maroko menang, ada satu hal yang sangat menarik perhatian Ihsan. Yaitu ketika para pemain merayakan kemenangan bersama orang tua mereka. Ada yang berlari lalu mencium kening ibunya, ada yang berpelukan erat, ada yang berjoget ria bersama. Pemandangan yang disiarkan stasiun televisi kala itu membuat hatinya tersentuh, matanya berkaca-kaca, ia merasa diingatkan kembali dengan wajah sang ibu dan hubungannya yang sedang retak itu.

***

Gamal, temannya yang berketurunan arab itu menyadarkan Ihsan dari lamunannya.

“DOR!! Wih, sedang mikirin apa sampai serius begitu?”

Ihsan sontak kaget, barulah ia tersadar dari lamunannya itu.

“Dasar, spot jantung tau! Loh, kok sudah pulang? Memang tidak ada rapat organisasi?”

Mengingat temannya yang satu ini hobi sekali pulang malam karena sibuk berorganisasi, jadilah asing melihat ia sudah sampai kos sore hari begini.

“Yeee…memangnya anak sibuk kayak aku ga boleh pulang sore? Kau saja boleh, masa aku ngga, aneh.” Jawab Gamal tidak terima.

Baca Juga  Pembunuhan Batal Terjadi

Tanpa disuruh, kaki Gamal sudah bergerak menuju satu kursi kosong di sebelah Ihsan. Di antara banyaknya penghuni kos, Gamal lah orang terdekat yang sering mengobrol dengan Ihsan. Hal itu terjadi karena ia dan Gamal berasal dari satu kampus yang sama, hanya berbeda pada jurusan yang diambilnya. Ia banyak bekerja, dermawan, pandai berniaga, berasal dari keluarga yang baik pula. Segala pekerjaan, apapun bentuknya, jika diserahkan padanya, tidak pernah ia lalaikan, selalu tuntas dikerjakan. Maka tidaklah aneh jika ia dipercaya sebagai ketua umum himpunan mahasiswa jurusannya.

Sejak pagi, ketika mereka berangkat bersama, dilihatnya Ihsan banyak terdiam, tidak sebagaimana biasanya. Ia pikir itu hanya perasaan saja, tetapi hingga sore hari ini sikapnya pun tak ada ubahnya, sebagai teman dekatnya di kos, ia tidak tahan melihat kelakuan temannya yang satu itu, “Lagi banyak masalah kali, San? Gaenak banget dari pagi dilihatnya murung terus. Kalau kata orang tua dulu, ga baik punya masalah dipendam.”

“Perasaanmu doang itu. Aku gak apa kok, baik aja,” tepis Ihsan.

“Sudahlah cerita saja. Rahasia dijamin aman. Kata ‘gak apa’ mu itu simpan saja dulu, dia membawa penyakit hati, pakailah dilain waktu” kata Gamal meyakinkan.

“Aku bingung harus cerita dari mana, panjang soalnya. Intinya ya setelah nonton bola semalam, perasaan bersalahku dengan ibu karena suatu masalah lama, semakin bertambah. Mau diselesaikan juga gak segampang itu,” tutur Ihsan sambil menarik napas.

“Rumit ya sepertinya. Sudah coba telepon? Mungkin bisa dimulai dari sana,”

“Belum.”

“Saranku, bicaralah dengan ibumu. Mula-mula kikis dahulu tembok gengsimu itu. Ibu itu nafas kita, pusatnya dunia. Kita mungkin boleh saja menjauh kepada orang yang tak kita sukai, tetapi jangan orang tua kita sebab cintanya selalu sempurna kepada anaknya. Bahkan tanpa kita minta, kita tetap akan menjadi prioritas pikirannya. Tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini, San. Jangan sampai kau menyesal,” kata Gamal sembari tersenyum.

Baca Juga  Muslimah Teladan Tak Pongah Gelar
***

Setelah selesai Salat Isya, dengan segera Ihsan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia butuh menyisihkan dirinya ke tempat sunyi, menenangkan pikirannya. Namun, semakin ia renungkan perkataan temannya itu, semakin tidak tenanglah dia. Ihsan merasa apa yang dikatakan Gamal adalah sebuah kebenaran dan ia telah melanggar kebenaran tersebut. Sebenarnya ia juga sudah lelah dengan segala boikot yang merugikan dirinya sendiri. Ia rindu Ibu, tempat pulang bagi jiwanya.

Diambilnya gawai yang terletak di atas meja, kemudian ia tekan nomor yang amat dikenalinya itu. Nada dering tersambung. Sembari menunggu, ia memikirkan kalimat pembuka seperti apa yang akan diutarakannya nanti.

Akan tetapi, segala skenario yang sudah ia siapkan itu menjadi hilang saat mendengar suara ibunya menangis. Ihsan pun ikut menangis. Lalu ditenangkannya sang anak, dengan berkata, “Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu yang salah. Jangan menjauh lagi,” kata Ibu sembari menangis. Saat itu terasa benar kasih sayang ibu kepadanya dan betapa egois dirinya ini. Ihsan mengetahui bahwa ternyata kesempatan saling berbincang dan saling mendengar adalah sebuah kemewahan yang tak semua orang miliki. Seharusnya ia wajib menyukuri itu.

Bagikan
Post a Comment