f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu circle

Growing Up Be Like: Circle Menyempit, Sepi Tapi Penuh Arti

Salah satu grup di aplikasi percakapan hijau saya berisik sekali hari ini. Grup ibu-ibu yang saling kenal karena anak-anaknya pernah bersekolah di TK yang sama. Kami bukan ibu-ibu arisan, bukan pula ibu-ibu sosialita, tetapi hanya para ibu yang berkumpul sejenak untuk tertawa, bercerita dan makan nasi pecel bersama. (Haha, semoga awet)

Sejujurnya, grup ini adalah satu-satunya, yang bagi saya masih ‘aktif’ di luar urusan pekerjaan, karena selebihnya lebih sering sebatas hadir sebagai penyimak. Grup satu ini saya pertahankan karena menurut saya grup ini unik, seru dan apa adanya. Kami bertujuh, semuanya adalah ibu rumah tangga dengan latar belakang pekerjaan berbeda. Bahkan, usia, kesukaan, dan life style kami juga berbeda-beda. Tapi sejauh ini, semua nyambung dan berjalan apa adanya. Pertemuan yang tidak dipaksakan harus kapan dan di mana, bahkan tidak apa-apa juga jika memang tidak ada waktu untuk bertemu.

Tanpa saya sadari, beranjak dewasa, membawa satu perubahan yang pelan-pelan membuat hidup terasa ‘sunyi’ namun tak membuat hidup sepi. Salah satunya adalah circle pertemanan yang perlahan menyempit. Jika masa kanak-kanak dan remaja dipenuhi tawa bersama banyak teman, obrolan tanpa tujuan, dan kebersamaan yang nyaris tanpa syarat, maka usia dewasa menghadirkan seleksi pertemanan alami yang tak terhindarkan. Hal ini terjadi bukan karena kita menjadi antisosial, melainkan karena ternyata hidup dalam usia dewasa menuntut prioritas yang berbeda.

Di usia muda, pertemanan sering terbentuk karena kedekatan fisik dan rutinitas yang sama. Lingkar pertemanan di sekolah, teman bermain, teman berkegiatan, semuanya hadir hampir tanpa usaha. Waktu terasa panjang, energi melimpah, dan perbedaan jarang menjadi masalah besar. Kita bisa berteman dengan siapa saja. Mungkin hanya karena duduk sebangku, satu sekolah, sama-sama menyukai hal yang serupa atau bahkan hanya kebetulan berada di lokasi yang sama pada saat yang sama. Pada fase ini, kuantitas sering kali lebih menonjol daripada kualitas.

Baca Juga  Perang dan Pemilihan

Memasuki usia dewasa, hidup mulai dipenuhi tanggung jawab. Pendidikan berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi, pekerjaan menuntut fokus, dan akhirnya keluarga menjadi pusat perhatian baru. Waktu yang dulu banyak luangnya, kini harus terbagi-bagi, bahkan sering terasa sangat kurang. So, bertemu teman tidak lagi menjadi prioritas, tidak bisa dilakukan setiap hari, bahkan harus dijadwalkan, disesuaikan, atau malah kadang dibatalkan. Pada akhirnya, dengan perjalanan seperti ini, hubungan pertemanan diuji, siapa yang tetap bertahan meski jarang bertemu, dan siapa yang perlahan menghilang, bahkan tanpa konflik apa pun.

Masih seperti yang yang terjadi di grup pertemanan saya ini. Semula kami ber-sembilan. Tetapi tak lama, satu orang mundur karena kesibukan pekerjaan dan memiliki anak balita. Tak lama kemudian mundur satu orang lagi, juga karena kesibukan kerja yang tak lagi bisa ditawar waktunya. Jadi, sewajar itu menghilangnya.

Penyempitan circle pertemanan juga dipengaruhi oleh perubahan nilai dan cara pandang. Seiring bertambahnya usia, seseorang semakin mengenal dirinya sendiri ; apa yang ia anggap penting, apa yang ingin ia jaga, dan batas-batas apa yang tidak ingin ia langgar. Hal-hal yang dulu ditoleransi demi kebersamaan, kini mulai dipertimbangkan ulang. Bukan karena menjadi lebih egois, melainkan karena kedewasaan mengajarkan pentingnya kesehatan mental dan emosional. Kita mulai memilih lingkungan yang aman, suportif, dan sejalan dengan nilai hidup kita.

Selain itu, kedewasaan membuat kita menyadari bahwa tidak semua orang harus selalu bersama kita. Beberapa pertemanan memang hanya relevan pada satu fase kehidupan. Mereka hadir untuk mengajarkan sesuatu, bersama menjalani proses tertentu, lalu berakhir dengan wajar. Akhir dari pertemanan semacam ini bukanlah kegagalan, melainkan tanda bahwa kita bertumbuh, berproses, dan akhirnya menemukan. Melepaskan tidak selalu berarti bermusuhan, kadang hanya berarti saling memberi ruang untuk berkembang ke arah yang berbeda.

Baca Juga  Milenial, Kreativitas, dan Masa Depan Bangsa

Menariknya, sering kali ketika jumlah teman berkurang, kedalaman hubungan justru meningkat. Circle yang lebih kecil sering kali diisi oleh orang-orang yang benar-benar memahami kita, yang tetap ada saat keadaan tidak ideal, dan yang bisa diajak berbicara apa adanya, tanpa sekat, tanpa topeng., tanpa harus menjadi ‘dia’. Percakapan menjadi lebih bermakna, dukungan terasa lebih tulus, dan kehadiran mereka lebih bernilai. Dalam lingkaran kecil ini, kualitas menggantikan kuantitas.

Penyempitan pertemanan juga berkaitan dengan kejujuran terhadap diri sendiri. Kita belajar berkata “tidak” tanpa merasa bersalah. Kita tidak meletakkan diri dalam jerat people pleasure. Hal ini berarti kita berhasil menjaga jarak dari hubungan yang melelahkan, dan tidak memaksakan diri untuk selalu hadir demi validasi sosial. Kedewasaan membantu kita memahami bahwa perubahan adalah bagian dari hidup. Kita tidak kehilangan kemampuan untuk berteman,  hanya menjadi lebih selektif dalam membuka ruang.

Pada akhirnya, circle pertemanan yang menyempit bukanlah tanda kesepian, melainkan tanda kedewasaan. Ia mencerminkan keberanian untuk memilih, kebijaksanaan untuk menjaga diri, dan ketulusan untuk membangun hubungan yang bermakna. Dalam lingkaran yang lebih kecil itu, kita belajar bahwa sedikit orang yang tepat jauh lebih berharga daripada banyak orang yang hadir tanpa makna. Dan di sanalah, sering kali, kita menemukan versi hidup yang lebih tenang, jujur, dan utuh. Kedewasaan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa ramai hidup kita, melainkan oleh seberapa damai kita menjalaninya.

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Nania

    Bener sekali….bertumbuh tidak selalu bertambah terkadang malah berkurang….sangat inspiratif dan untuk kita yang menginjak dewasa mendekati tua ini bener bgt, thx kk masukannya

    Februari 2, 2026
Post a Comment