f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekerasan anak

Menyoal Perbuatan Kriminal Anak

Rasanya tidaklah mungkin kata ‘kriminal’ dilekatkan pada seorang anak. Apalagi disamakan dengan kriminal yang pelakunya adalah orang dewasa.

Betapa anak itu adalah kertas putih, bila ia sampai berani berbuat kriminal, maka patut ditelusuri apa dan siapa yang mencoreng kertas putih itu sedemikian rusak. Sampai di sini, apakah kita masih menyangka bahwa anak melakukannya dengan natural tanpa pengaruh apapun dan siapapun?

Seorang anak identik dengan kepandaiannya dalam meniru segala yang terjadi di sekitarnya. Bila ia tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa dengan kekerasan misalnya, boleh jadi ia memiliki pengertian bahwa kekerasan itu adalah hal yang lumrah dan dibolehkan.

Apalagi bila anak sering hingga ‘biasa’ menjadi korban dari kekerasan tersebut. Semakin kokoh lah pandangannya bahwa kekerasan itu boleh, di samping dirinya pun adalah korban; keburukan yang terbiasa dilihat dan dirasakannya lambat laun dapat melekat kuat hingga terbentuklah warisan-warisan buruk di kepalanya.

Kemungkinan lainnya adalah longgarnya pengawasan dari orang dewasa. Entah itu keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Semisal membebaskan anak menggunakan gadget sebebas-bebasnya tanpa pengawasan sama sekali. Bahkan anak tidak diedukasi sedikitpun mengenai penggunaannya.

Sedangkan yang ada di dunia digital tak semuanya pro dengan edukasi anak. Inilah kenyataan yang menampar kita semua tentang betapa banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari anak lewat gadgetnya. Sayangnya, yang mereka pelajari sangat mungkin tersesat, dan akan semakin tersesat bila tak ada sedikitpun arahan dan bimbingan dari orang terdekat.

Media akhir-akhir ini membuat kita terus mengucap istighfar, seperti kasus yang terjadi di Lampung dan Magelang beberapa akhir ini, tentang pembunuhan yang pelakunya adalah anak-anak. Meski mereka tak ada hubungan darah dengan kita, tapi mereka adalah anak bangsa yang tetap saudara kita.

Baca Juga  Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar

Wajarkah beristighfar? Kita sebagai orang dewasa harus merasa bersalah, bukan karena sangkut paut kasus, bukan itu. Tapi apa ada dengan orang dewasa di negara kita?

Sebagai saudara setanah air, ini adalah bencana moral yang harus segera ditangani, sisi kemanusiaan kita mana mungkin jika sampai tidak terusik, apalagi ini menyangkut generasi bangsa yang kelak menjadi penerus hidup kita.

Anak tak berdosa, masih belasan tahun pula, berani membunuh teman sebayanya sendiri? Sulit sekali akal sehat mencerna semua ini. Karena pada hakikatnya, tidak ada seorang anak yang terlahir jahat.

Pendidikan karakter menjadi catatan merah. Peran orang tua dipertanyakan. Mungkinkah pemerintah perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pembatasan gadget untuk anak. Perlukah headline darurat pembatasan gadget misalnya.

Atau perlukah pembinaan parenting di zaman serba digital ini. Coba perhatikan lingkungan kita, setiap anak merengek dikasih gadget, tangisnya memang hilang, tapi ada kekeliruan di sini. Anak menjadi candu misalnya, maupun efek negatif lainnya. Saat memberikan gadget pada anak, orang tua sibuk sendiri dan tak melakukan pengawasan? Sadarkah bahwa ia telah lalai dalam tugas mengedukasi anak.

Padahal, bila diawasi dengan baik, sesungguhnya gadget tak seburuk yang dipikirkan. Ia bisa menjadi fasilitas dan wasilah tempat belajar anak dengan lebih mudah. Selama penggunaan gadget dibatasi dan diawasi, sesungguhnya ia justru memiliki sejuta manfaat untuk ruang belajar anak.

Yang jelas, harus ada tindakan nyata, jangan sampai dibiarkan atau generasi muda menjadi taruhannya. Lantas, apa solusinya?

Mensalehkan Diri Sendiri Sebelum Anak

Pendidikan agama dan moral selalu menjadi solusi tak terbantahkan. Tetapi apa yang salah dengan realisasinya?

Rupanya, sebelum mensalehkan anak, orang dewasa perlu mensalehkan diri mereka. Bagaimanapun, metode keteladanan selalu terdepan dan paling ampuh merajai keberhasilan pendidikan.

Baca Juga  Para Kartini di Pabrik-Pabrik Mayong

Teori pendidikan dari para ahli saja seolah selalu menyatakan urgensi keteladanan. Ini menunjukan betapa sikap orang tua akan turut mempengaruhi pembentukan karakter anak. Ada pengaruh dari keshalihan orang tua terhadap anak.

Tuntutan Menguasai IT

Tantangan zaman dari waktu ke waktu tak pernah sama, itulah yang harus kita pelajari karena berpengaruh terhadap cara mendidik.

Anak-anak zaman sekarang sangat pintar sekali memahami dunia digital. Demi realisasi pendidikan terbaik, maka orang dewasa dituntut memahami apa yang dikuasai anak-anak sekarang karena mesti berperan sebagai pembimbing dan yang melakukan filter, inilah salah satu contoh pendidikan zaman sekarang yang tidak bisa disepelekan.

Sepintar apapun anak-anak dengan gadget misalnya, ia tetap butuh bimbingan orang dewasa. Pemahamannya belum matang, ini yang harus ditekankan.

Kembali pada pesan kasus kriminal anak, agar jangan sampai teori dan solusi bermunculan, tapi minim tindakan.

Semua pihak, siapapun kita, jadi apapun kita, siapapun yang berpredikat ‘orang dewasa’, sudah saatnya membuka mata.

Kita tidak bisa terus-terusan berlengah-lengah, bagaimana jadinya negara kita di masa depan, siapa lagi yang memedulikan anak bangsa kalau bukan kita.

Lebih khusus lagi, siapa yang menggambar kepribadian anak kita sendiri kalau bukan kita.

Bagikan
Post a Comment