Menyelami Media Baru Bersama Crystal Abidin

7 menit baca
Teks:
WhatsApp

Dalam studi Ilmu Sosial dan Humaniora, kutipan menjadi bagian penting. Selain menunjukkan bentuk rendah hati bahwasanya di bawah langit tidak ada yang baru, kutipan itu menunjukkan bahwasanya di balik sebuah karya yang keren, ada semacam penelusuran panjang sebelumnya yang dilakukan oleh para sarjana terdahulu, membentuk patok-patok peradaban. Dalam esai singkat ini, saya menelusuri lebih jauh figur Profesor Muda dari Singapura; Crystal Abidin, khususnya bagaimana ia bisa membangun karir akademik hingga sampai menjadi bagian dari papan atas sarjana yang mendalami Studi Media Baru di Asia.

Terkait dengan langgam kutipan, saya menemukan karya-karya yang selalu menjadi rujukan dan dominan di bidang tertentu. Tanpa rujukan dari karya seorang sarjana tersebut, tulisan yang kita hasilkan tampak mengalami kekurangan. Rujukan karya dari sarjana otoritatif ini biasanya disebut dengan karya babon; karya penting yang kebanyakan sarjana harus mengutipnya saat menulis saat isu tertentu. Memang, tidak ada kesepakatan tertulis apa yang disebut dengan karya-karya babon (Canon).

Selain itu, adanya gelombang dekolonisasi dari negara-negara Dunia Ketiga telah mengintervensi dan mendefinisikan ulang apa yang disebut dengan karya-karya babon tersebut. Ini terlihat dengan adanya kritik sekaligus memberikan alternatif di luar karya-karya disebut dengan babon. Syed Farid Alatas adalah sedikit dari sarjana dekolonisasi yang mengkritik keras karya-karya babon tersebut. Namun, ia tidak hanya berhenti kritik tetapi juga memberikan alternatif dengan menawarkan khazanah perspektif dari tokoh Intelektual Asia Tenggara.

Terlepas dari kritik tersebut yang harus menjadi pertimbangan utama, menurut amatan sederhana saya, ada tiga kategori mengapa karya seorang sarjana disebut dengan babon. Pertama, karya tersebut menjadi rujukan oleh para sarjana lain dengan waktu yang lama. Ini karena, karya tersebut dianggap yang paling awal dalam membicarakan isu tertentu. Untuk Sosiologi, misalnya, tiga ilmuwan ini harus masuk dalam rujukan, baik dalam kurikulum akademik maupun karya tulis. Mereka adalah Max Weber, Karl Marx, dan Emile Durkheim. Kedua, karya tersebut menjadi rujukan para sarjana untuk mendalami satu isu. 

Karya yang menjadi rujukan ini biasanya merupakan pengembangan lanjutan dari karya babon yang seringkali dikutip oleh para sarjana terkini. Dalam konteks ini, bentuk-bentuk sekaligus variasinya sangat banyak. Ketiga, karya-karya terkini yang seringkali dikutip oleh para sarjana terbaru. Selain karena intensitas menerbitkan dengan tingkat kefokusan pada studi tertentu, seorang sarjana dalam kategori ketiga ini biasanya memang memiliki semacam perbendaharaan kata tertentu yang membentuk perspektif baru dalam merespon fenomena kekinian.

Dalam studi media baru, variasi bidang dan ceruk akademik ini semakin luas sekaligus menyempit. Dalam konteks media baru dan agama, misalnya, Heidi Campbell merupakan sarjana Antropologi dalam kategori ketiga yang tidak boleh diabaikan setiap kali seseorang ingin menulis. Terkait dengan studi Islam dan Digital, Gary R. Bunt merupakan sarjana asal Inggris yang tidak boleh luput untuk menjadi bahan perbincangan dalam tulisan. Untuk Gerakan Sosial dan Penggunaan Media Baru, khususnya di Asia dan Timur Tengah, Merlyna Lim, sarjana media yang mengajar di kampus Kanada, asal Indonesia, merupakan figur penting yang memfokuskan pada isu-isu keterlibatan masyarakat sipil di tengah perkembangan media sosial yang wajib dikutip oleh sarjana Indonesia yang menekuni Gerakan Sosial dan Media Baru.

Sementara itu, Crystal Abidin merupakan sarjana asal Singapura yang mengamati perkembangan media baru secara lebih personal sekaligus lebih intim. Selain karena tumbuh menjadi bagian dari “anak digital” (digital native), rekan-rekannya menjadi bagian dari informan risetnya, dunia media baru merupakan bagian dari kehidupan sekaligus penghidupannya dengan menempuh karir profesional sebagai dosen di Universitas Curtin, Australia. Tidak sedikit istilah-istilah yang memiliki makna baru dihasilkan dari studi yang dilakukan Abidin. Istilah ini merupakan hasil pembacaannnya terhadap fenomena selebriti di Media Baru dan dinamika yang terhubung dengan anak-anak muda. Di antara istilah-istilah tersebut, misalnya, Calibrated amateurism, Eyewitness virality, Porous authenticity,  dan Spectrums of conspicuousness.

Interaksi Pribadi dengan Crystal Abidin

Saya pribadi pernah berinteraksi dengannya pada dua kesempatan. Pertama, Master Class yang diadakan oleh Departemen Media Baru dan Kajian Budaya, Universitas Negeri Singapura (National University of Singapore). Melalui Master Class tersebut, ia menjelaskan lebih detail bagaiman cara melakukan riset etnografi digital di platform media sosial. Kedua, undangan menulis artikel jurnal secara terbuka melalui volume edisi khusus yang akan diedit olehnya. Saat ada undangan terbuka itu, saya mengajukan abstrak sesuai tema yang diminta tapi akhirnya gagal saat proses seleksi penerimaan. Bertolak dari dua interaksi tidak langsung ini, saya menelusuri lebih jauh karya-karyanya dan bagaimana ia menempuh jalur kesarjanaan di Australia hingga mendapatkan gelar Profesor termuda dengan usia yang belum genap 40 tahun.

Sebagaimana diketahui, mendapatkan gelar Profesor di kampus luar negeri itu bukanlah jalan yang mudah. Namun, itu bisa diraih olehnya dengan usia yang cukup muda. Jika melihat Google Cendikia yang dimiliki, karyanya yang terdiri dari buku, bagian buku, artikel jurnal, itu sudah dikutip oleh 7.846 kali. Dengan karya kutipan dari karya yang begitu banyak, ia diganjar oleh sejumlah penghargaan sekaligus mendapatkan riset bergengsi pada taraf internasional. Namun, itu semua diraihnya dengan jalan yang tidak mudah. Bahkan, untuk mendapatkan jabatan sebagai dosen tetap (tenure track), ia kerapkali mendapatkan kritik yang tajam dan sejumlah penolakan. Ini dilakukan saat ia selesai PhD dari kampus Universitas Western Australia pada tahun 2016.

Tantangan dan Kritik dalam Karir Akademik Crystal Abidin

Saat melamar dosen, ada dua kritik yang kerapkali didapatkan. Kritik ini biasanya diberitahu setelah ia gagal setelah melalui proses wawancara. Pertama, purifikasi disiplin kajian. Alih-alih memfokuskan studi Antropologi dengan melakukan pendekatan etnografi digital sebagaimana itu menjadi bagian dari karya disertasinya, saat menempuh karir posdoktoral, ia justru melakukan studi lintas disiplin, terhubung dengan pelbagai kajian, mulai dari kajian media dengan beragam ikutannya, politik, psikologi, dan etnisitas. Akibatnya, ia dianggap tidak memiliki kedisplinan kepada bidang tertentu yang itu seharusnya ada bagi profesionalitas seorang dosen tetap yang ingin berkarir di sebuah Perguruan Tinggi di luar negeri. 

Kedua, tidak adanya kekuatan teoritik. Tidak sedikit yang memujinya karena dianggap telah berhasil dalam memotret fenomena yang terjadi di media baru. Namun, ada yang sangsi terkait dengan karya-karya yang dihasilkan oleh Abidin. Ini karena, ia dianggap tidak memiliki semacam tingkat menulis yang ketat soal tekun menelusuri sebuah kontribusi teori dalam karya-karyanya.

Di tengah dua kritik itu, ia kemudian mengambil dua jalan saat berkarya; menguatkan disiplin dengan mengirimkan karya-karya ke jurnal tertentu dan melakukan kolaborasi dengan para sarjana yang lain terkait dengan studi lintas disiplin. Hasilnya? Jalan yang tempuh ini kemudian mendapatkan semacam rumah di mana ia berkarya; ia menjadi Editor kunci di Jurnal Social Media + Society sekaligus mendapatkan tempat terbaik di Asosiasi Peneliti Internet (Association of Internet Researchers) sebagai Komite Eksekutif sekaligus menjadi Editor Kunci di sejumlah jurnal internasional bergengsi yang terhubung dengan Kajian Media Baru. Sejumlah penghargaan riset grant internasioanal juga telah ia dapatkan yang membuatnya menjadi seorang Profesor penting di kampus tersebut, karena dianggap bisa mendatangkan uang. 

Perjalanan Akademik: Dari Ketidaknyamanan hingga Pencapaian

Namun, bukan hanya dua kritik itu yang didapatkan. Saat menempuh S3, dari tahun pertama hingga ketiga, ia merasa tidak nyaman. Ini karena, proses belajar yang didapatkan lebih menekankan studi Antropologi dengan pendekatan yang lebih tradisional. Akibatnya, ia merasa apa yang sedang ditekuni dan yang diinginkan menulis disertasinya tidak terhubung. Karena itu, saat tahun keempat dan mengikuti workshop interdisciplinary winter school mengenai Budaya Digital dan dimentori oleh beberapa sarjana di bidang Media dan Komunikasi, ia mendapatkan motivasi baru yang terhubung dengan metodologi riset yang diinginkan dan masih terhubung dengan studi Antropologi.

Ia kemudian dibimbing oleh Greg Acciaoli, Antropolog Ahli Indonesia, yang kerapkali membimbing Mahasiswa dan Mahasiswi Indonesia dan Rob Cover, Ahli Komunikasi Digital, yang sekarang menjadi Profesor di The Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT Universiy). Disertasinya yang berjudul Please Subcribe!: Influencers, Social Media, and Commodification of Everyday Life, sedang proses dalam penerbitan.

Sebagai sarjana pemula yang berusaha disiplin terhadap kajian Islam dan Media Baru, saya menjadikan Crystal Abidin sebagai figur akademisi yang patut saya diteladani. Ia memiliki daya ketekunan yang luar biasa untuk terus berkarya, membawanya ke dalam level akademik lebih jauh dengan tingkat apresiasi yang tinggi dengan sejumlah penghargaan yang didapatkan. Sementara itu, usia muda justru bukan menjadi semacam sikap apologetik resisten bahwasanya yang muda lebih berenergi, lebih pintar, sekaligus lebih baik dari segala hal dibandingkan sarjana yang lebih senior. Sebaliknya, dengan prinsip kesetaraan yang selalu ditekankan, ia justru lebih memilih melakukan kolaborasi dengan sarjana lain, baik itu muda dan senior dalam rimba dunia akademik yang terus menekankan kerja-kerja industri melalui kewajiban publikasi dan pencarian dana riset.   

Bagikan:
Penulis 26 Tulisan

Wahyudi Akmaliah

Peneliti PMB-BRIN dan Mahasiswa S3 Kajian Melayu, National University of Singapore IG w. akmaliah

Leave a Comment