f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
doa

Hakikat Doa dalam Perspektif Hikam

Dewasa ini mayoritas manusia tidak bisa menerima pahitnya kenyataan hidup yang mereka hadapi. Alih-alih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan peningkatan kualitas ibadah, mayoritas manusia malah abai serta merasa doa yang mereka panjatkan tak ubahnya pesan singkat yang mereka kirim ke nomor yang mereka sendiri tak yakin akan adanya jawabannya. Semua ini merupakan muara dari dangkalnya pemahaman akan makna dan hakikat dari doa.

Lalu, apa itu doa ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti permohonan, harapan, permintaan, pujian kepada Tuhan. Islam memaknainya sebagai senjata setiap pribadi muslim (ad-Dua’ shilahul mukmini). Doa juga berarti sebagai ruh dari seluruh ibadah seorang muslim (ad-Dua’ ruhul ibadah). Ada juga yang mengartikan doa sebagai salat, karena mayoritas ulama mendefinisikan salat sebagai doa. Pada dasarnya salat adalah dialog antara hamba dengan Allah SWT untuk mendapatkan ridanya.

Maka, kesimpulannya adalah doa menjadi dialog yang dilakukan seorang hamba terhadap Tuhannya sebagai sarana bertaqarrub dan bermunajat. Selain menjadi metode untuk meminta, juga sebagai senjata dan fondasi penopang terkuat dalam mengarungi kehidupan.  

Meredefenisi tentang Doa

Kemudian apa yang menjadikan manusia tidak bisa menerima pahitnya kehidupan yang dia jalani seraya menjauh dari rasa ketergantungannya akan zat Tuhan? Terdapat banyak hal yang menjadi penyebab semua ini. Salah satunya yang akan penulis bahas ialah Ketika seseorang menghadapi suatu masalah tertentu, dia melakukan ikhtiar-ikhtiar manusiawi, termasuk salah satunya adalah berdoa kepada Allah SWT. Celakanya, ia menganggap ikhtiarnya atau doanya sebagai sebab atas pemenuhan hajat atau keberhasilan dia dalam melewati masalah tersebut.

Hal ini tentunya merupakan kekeliruan cara pandang atau berpikir kita terhadap ikhtiar manusiawi termasuk doa dalam kaitannya dengan pertolongan Allah. Sebab, pertolongan Allah merupakan relasi sebab akibat atau kausalitas. Kekeliruan cara pandangan ini kiranya perlu diluruskan sebagai disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini:

Baca Juga  Anak dan Pilihan Karir Masa Depan

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Artinya: “Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurangan pengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak keTuhanan”.  

Salah satu pernyataan Syekh Ibnu Athaillah di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa doa sangat berpengaruh pada psikis seorang manusia. Kesalahan dalam memaknai hakikat sebuah doa akan menjadikan ketenangan jiwa manusia terganggu. Bahkan, sampai membuatnya lalai dan abai akan ketergantungannya terhadap zat Tuhan. Apabila manusia mengartikan segala pencapaian yang dianugerahkan kepadanya merupakan kausalitas dari doa yang ia munajatkan, maka di saat itu pula ia menunjukkan betapa dangkalnya pemahamannya akan Tuhan.

Esensi sebuah doa

Sebaliknya, manusia harusnya memahami bahwa semua munajat yang ia panjatkan hanyalah bentuk pernyataan penghambaan dan pemenuhan atas hak-hak keTuhanan. Sebagai contoh, kalau kita beranggapan bahwa kita kaya, bisa makan, punya banyak harta, hidup penuh dengan kecukupan akibat doa yang kita munajatkan selama ini.

Lalu muncul pertanyaan, “waktu kita kecil bahkan bayi dulu, kita belum bisa berdoa. Mengapa kita bisa makan dan punya rezeki?” pernyataan awal secara implisit mengutarakan bahwa Tuhan membutuhkan sebab untuk memberikan sesuatu kepada hambanya, tapi itu pernyataan yang salah. Pada hakikatnya, Tuhan tidak membutuhkan sebab untuk memberikan apa pun pada hambanya. Dengan kata lain, apabila kita mendapatkan hal yang kita harapkan, maka itu murni berkat rahmat Tuhan.

Lebih lajut Syekh Ibnu Athaillah menegaskan dalam pernyataannya yang berbunyi:

كيف يكون طلبك اللاحق سببا في عطائه السابق ، جل حكم الأزل أن ينظاف إلى العلل

Baca Juga  Kami Hanya Menggunakan Hijab, Mengapa Dilarang?

Artinya: “bagaimana bisa doa (permohonan/permintaan) yang engkau mintakan saat ini (atau yang datang kemudian) dapat mengubah ketentuan yang telah Tuhan putuskan jauh sebelum segala sesuatu ini ada (zaman azali).

Pernyataan Syekh Ibnu Athaillah di atas lebih mempertegas lagi bahwa  keimaman terhadap qada dan qadar Tuhan sangat menentukan ketenangan psikis kita. Sebagai contoh, kita berdoa agar mendapatkan anak perempuan, lalu Tuhan berikan kita anak perempuan. Apakah ketetapan Tuhan berubah akibat doa yang kita munajatkan? Tentu tidak, karena Tuhan menetapkan takdir jauh lebih dulu dari apa yang kita harapkan.

Kesimpulan yang dapat kita pelajari dari penjelasan di atas adalah hakikat doa yang kita munajatkan kepada Tuhan menurut perspektif hikam, doa bukanlah sesuatu yang dapat mengubah ketetapan Tuhan. Sebab, permintaan yang datang tidaklah mungkin dapat mengubah ketetapan terdahulu yang telah Tuhan tetapkan, melainkan sebagai bentuk pernyataan penghambaan dan pemenuhan atas hak-hak Ke-Tuhanan.

Editor : Akbar Mawlana

Bagikan
Post a Comment