f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan dalam media

Potret Perempuan dalam Media Massa Indonesia

Dewasa kini, kehadiran perempuan di tengah pusaran media menjadi problematika yang paling banyak disorot dan dikaji. Di mana pada satu sisi media diibaratkan seperti halnya fungsi pisau, yang digunakan untuk memotong atau membunuh. Akan tetapi jika kita melihat realita yang ada, fungsi media lebih terkesan membunuh citra prempuan di media; seringkali perempuan hanya dilihat sebelah mata oleh laki-laki dan dijadikan objek bagi produksi media.

Di dalam  media,  gambaran atau representasi citra perempuan sebagai objek seksual merupakan hal yang tidak mudah untuk dirubah. Tak dapat dipungkiri, di era industri sekarang ini media tentunya menjadi ladang bisnis yang bisa membawa keuntungan bagi mereka, jika menampilkan sesuatu yang dapat meningkatkan nilai jual mereka di kalangan masyarakat. Mirisnya, media tidak akan peduli jika prempuan yang mereka dijadikan objek selama hal itu bisa membawa keuntungan bagi mereka.

Tanpa kita sadari seksisme yang melekat dalam kultur masyarakat pun sering kita jumpai, seperti “Perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki nggak ada yang deketin”; “Perempuan jangan jadi pemimpin karena lebih mendahulukan emosi, laki-lakilah yang cocok jadi pemimpin karena lebih rasional”. Pernyataan-pernyataan tersebut seolah-olah menyudutkan prempuan dan cenderung mendoktrin bahwa perempuan tidak berhak mendapat posisi tertentu di masyarakat. Dalam Jurnal Paradigma oleh Billah Nurlaili dan Refti Handini menyebutkan bahwa terdapat pembagian gender yang kaku seperti, “Ibu memasak, ayah membaca koran, dan ibu mencuci baju, ayah berangkat kerja.

Luviana (2010) menyebutkan bahwa perempuan tak lepas dalam penilaian dan konstruksi yang menjadi seni dan kebudayaan sehari-hari. Stereotipe yang melekat pada perempuan inilah yang mengakibatkan diskriminasi terhadap perempuan, dan industri media lah yang mengkampanyekan streotipe tersebut.

Baca Juga  Muhadjir Effendy dan Pernyataan Keluarga Miskin

Jika pemahaman gender yang kaku dan terkesan ekstrem ini sudah melekat dan tertanam kuat dalam kultur masyarakat; bagaimana citra perempuan dalam media sendiri?

Media yang Tidak Ramah Gender

Kita pasti pernah melihat atau menemukan beberapa judul-judul berita yang seksis seperti,  “Potret Atlet terseksi di Indonesia”; “Gadis berparas ayu ini adalah Atlet dari Jateng”; “Polwan Cantik Goda Buruh lewat Poster” yang menggunakan embel-embel kalimat, cantik, seksi, body goals dan lain sebagainya. Padahal daripada membicarakan soal fisiknya saja, alangkah lebih baiknya media melirik dari segi potensi atau prestasinya.

Dari judul-judul pemberitaan seperti yang disebutkan di atas menunjukan bahwa betapa seksisnya media massa di Indonesia. Media banyak mengeksploitasi perempuan hanya sebagai objek seks yang pada akhirnya melahirkan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Itu artinya secara tidak langsung media juga turut ikut andil dalam mendukung diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Dalam media, perempuan seperti halnya dijadikan produk dan komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi. Bagaimana tidak? Para pengelola media massa melihat seolah-olah prempuan hanya dianggap seperti barang dagangan, dan obyek seksual semata. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada realitasnya media kini memiliki rendahnya kesadaran gender serta terbatasnya visi dan misi mereka tentang kesetaraan gender.

Posisi Perempuan dalam Media yang Terpinggirkan

Media dalam perannya sangat menentukan sikap dan pandangan masyarakat terhadap perempuan, seperti halnya cermin; media memandang perempuan sebagai realitas dari bingkai budaya masyarakat itu sendiri. Bahkan media jarang sekali menampilkan perempuan dalam hal pekerjaan, prestasi ataupun dalam kehidupan publik lainnya. Media kini lebih menjadikan perempuan sebagai objek dalam penyajiannya.

Hal demikian terjadi karena pihak yang mendominasi media seperti: pemilik, penulis, editor dan sebagainya itu adalah laki-laki. Seperti yang disebutkan dalam hasil penelitian dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) menyebutkan laki-laki lebih mendominasi jurnalisme di Indonesia sebanyak 81,4% dari total keseluruhan anggota AJI se-Indonesia.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Optimisme Terhadapnya dalam Dunia Digital

Bias gender yang terjadi dalam media massa  antara lain disebabkan juga oleh belum berimbangnya jumlah perempuan di organisasi media dalam hal pengambilan keputusan. Jumlah wartawan perempuan hanya 10%-12% dari seluruh jumlah wartawan di Indonesia. Sedangkan dari jumlah yang tergolong minim tersebut tidak selebihnya perempuan menduduki jabatan yang ikut andil dalam pengambilan keputusan di meja redaksi. Kalaupun ada  perempuan yang menempati posisi dalam pengambil keputusan, belum tentu dalam konten medianya  bisa mengarusutamakan keadilan gender. Karena bagaimanapun juga mereka akan mengikuti pemimpin dalam industri medianya yang tujuan akhirnya adalah keuntungan dan popularitas.

Kurangnya kehadiran perempuan dalam media inilah yang menyebabkan adanya diksriminasi dan ketimpangan gender terhadap perempuan. Jika citra perempuan yang dikemas dalam media sangat buruk maka akan mempengaruhi persepsi atau pandangan publik terhadap perempuan. Maka yang menjadi PR besar dalam media adalah menghadirkan prempuan dalam keputusan di meja redaksi dan mengawal kultur keadilan gender dalam pengemasan konten media massanya, agar tidak terkesan bias gender dan layak untuk dikonsumsi publik. 

Bagikan
Post a Comment