f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ruang tunggu

Opsi di Ruang Tunggu

Senyum lebarku mungkin menular kepadanya. Perempuan dengan perut  menggembung yang kutaksir mungkin baru lewat trimester pertama dibanding  perkiraan lahir bayiku yang makin dekat.

Sayangnya durasi pertukaran ekspresi bahagia kami hanya di momen itu saja. Setelahnya dia kembali murung, memilih menundukkan kepalanya yang sekilas kulihat tersembul earphone di sela-sela rambut hitamnya yang terurai sebahu.

“Stop, Mae. Gerak-gerik itu pertanda dia tak berniat membuka jalur komunikasi. Sudahlah fokus kembali ke majalah yang tengah kau baca.”

Aku menunduk lagi. Ketika mataku menatap selarik kalimat, “Kehamilan Berisiko Tinggi di usia 40” pada halaman ke sekian majalah itu, benakku perlahan meninggalkan ruang tunggu klinik.

***

“Prin, kamu enggak apa-apa ‘kan dengan kehamilan kedua ini?”

Lelaki ekstra sabar yang kusyukuri sebagai suamiku itu seketika mengulurkan tangannya menepuk ubun-ubunku.

“We should be grateful, Mae. Mungkin ini jawaban atas keinginan kuat Lekha untuk punya adik lagi!”

“Kamu enggak khawatir dengan risiko kehamilan di usiaku, apalagi dengan kondisi Lekha yang asperger?”

Prin tersenyum, kini sosoknya beranjak untuk duduk di sebelahku. Lengannya yang selalu memberi kenyamanan segera merangkulku.

“Kalau aku khawatir dan enggak percaya, Lekha enggak berkembang seperti sekarang ini.”

Hatiku seketika meleleh, berterima kasih atas kebesaran jiwanya memahami perasaan dan semangatku yang dalam keseharian seringkali turun naik dalam mengasuh didik Lekha.

***

Masih teringat jelas fase keterpurukanku ketika bersikeras membuat surat wasiat yang tentu saja ditentangnya.

Ketika itu, kondisi Lekha sedang mengalami kemunduran. Bermalam-malam dia sulit tidur, sepanjang hari meracau terus, seringkali tantrum, dan tidak mau patuh ketika menjalani sesi terapi. Sikapnya pun selalu hendak berbantahan dengan kami.

Aku patah hati dan merasa itu semua salahku. Pasti dietnya ada yang salah, pasti aku tidak konsisten menerapkan terapi di rumah, pasti aku …

Baca Juga  Rona Bahagia dan Raut Khawatir di Balik Sebuah Pesta

“Mae … mengapa sampai berpikir seperti itu?”

Sambil memeluknya, aku terisak.

“Aku takut kalau-kalau aku, kamu atau kita berdua tiada, tak ada yang mau merawat dan membesarkan Lekha. Ada hal-hal dalam proses pengasuhan yang belum tentu dipahami dan disetujui orang lain. Aku saja masih banyak belajar, masih banyak salah dan gagalnya. Gimana bisa aku percaya Lekha dirawat orang lain?”

Dia mempererat pelukannya.

***

“Mae … justru kita perlu lebih kerja keras mendidik Lekha dan mengedukasi sekitarnya.”

Bahuku masih berguncang beberapa saat. Kekhawatiranku akan kematian, ketakutan akan masa depan Lekha saat itu benar-benar tak bisa kututupi.

“Cemas untuk sesuatu yang belum terjadi bisa bikin kita enggak optimal dukung Lekha untuk ngembangin ketrampilannya serta didik dia agar makin mandiri. Ada aku … kamu enggak sendiri jalani ini semua.”

Ketika itu aku merasa betapa teguh hati Prin. Meski di malam yang lain aku malah melihatnya menangis saat bersimpuh di ruang doa. Lamat-lamat kudengar bagaimana ia mendoakanku, Lekha dan terakhir baru dirinya sendiri.

Air mataku meleleh. Menyadari dia pun berusaha keras untuk tegar agar mampu menguatkan diriku juga.

***

“Maaf, Mbak. Boleh saya pinjam majalahnya?”

Tiba-tiba ibu yang tadi bertukar senyum mendekati lalu duduk di hadapanku

Kuangsurkan majalah itu ke tangannya.

“Terima kasih. Mbak hamil anak keberapa?”

Rupanya ia hendak membuka percakapan denganku, bukan hendak membaca majalah yang kulihat malah diletakkannya di kursi di sebelahnya.

Kedua jariku menunjuk menjawab pertanyaannya. “Berkah ini, Mbak. Enggak nyangka juga diberi anugerah lagi.”

Wajahnya terkesiap mendengar jawabanku, “Wah, kok kita samaan? Saya juga enggak rencana. Malahan sungguh enggak mengharapkan kehamilan kedua ini.”

Baca Juga  30 Menit Berharga
***

Kini aku yang terbelalak.

“Eh, kenapa ngomong begitu?”

Mulutnya seperti menggumamkan sesuatu, sebelum ia menutup wajahnya.

“Saya tak ingin anak ini. Saya tak ingin nasibnya seperti kakaknya yang mengidap penyakit langka. Perawatannya menguras segalanya. Harta, waktu, tenaga saya dan suami. Sungguh tak sanggup bila diberi satu lagi.”

Aku hanya bisa menatapnya, tak berkedip. Perempuan itu terus menutup wajahnya, tak mau melihat ke arahku.

“Cukup sudah saya dan suami mengurusi satu anak dengan susah payah, Mbak. Tak mampu, bila tambah satu lagi. Bisa gila saya nanti!”

Nafas yang tadi kutahan, kini terembus dengan kerasnya. Emosiku berkecamuk. Bukankah aku juga punya Lekha dengan masa-masa pengasuhan yang penuh kesulitan, tetapi akhirnya mulai menunjukkan hasilnya.

***

“Mbak,  maaf, kalau boleh saya beri saran. Kalau Mbak cemas terus, malah enggak bisa berbuat apa-apa untuk anaknya. Sulung saya juga special needs, tetapi  saya dan suami optimis, akan selalu ada kemungkinan bahwa calon bayi kami akan berbeda dengan kakaknya.”

Tiba-tiba dia menurunkan tangannya. Matanya menatapku tajam, pipinya mulai memerah.

“Heiii, Mbak enggak tahu gimana perasaan saya hadapi hari-hari si sulung antara hidup dan mati. Enggak usah sok tau dan kasi nasihat kalau enggak pernah ngalamin!”

Suaranya yang lantang dan bergetar menahan amarah seketika membisukanku dan seisi ruangan itu. Lalu ia menutup wajahnya lagi, dengan badan yang berguncang seperti menahan luapan emosi.

Keheningan yang menyergap ruang tunggu klinik yang terisi separuhnya itu sungguh tak mengenakkan. Hanya bisik-bisik terdengar dari pasien yang datang bersama pasangannya dan bunyi intercom panggilan giliran periksa dari ruang dokter.

***

“Saya mau aborsi saja. Dia akan menderita punya ibu yang hatinya sudah mati, bahkan sebelum dipertemukan dengan dunia.”

Ucapan spontan ‘Wah’ serentak bergema di seluruh ruangan. Dari mulutku tentu yang paling keras karena tak kuasa menyembunyikan kekagetanku akan ucapannya barusan.

Baca Juga  Di Bawah Naungan Payung-payung Nabawi

“Stop! Enggak usah sok kaget, enggak usah bereaksi berlebihan. Kalian-kalian itu cuma bisa ngomong, enggak masalah ‘kan kalau hamil, toh sudah bersuami. Enggak masalah? Ka-kalian enggak tahu gimana saya ketakutan melihat kondisi anak saya setiap hari, berapa lama lagi dia bisa bertahan, apakah jantungnya masih berdetak?”

Dia berhenti sejenak.  Menarik napas sebelum, “Kalian enggak tahu berapa tinggi risiko indikasi kelainan genetik berat pada kandungan saya ‘kan? Mau menyuruh saya bersyukur sudah dianugerahi kehamilan? Sakit tahu kalau berpikir bayi ini akan sama tak berdayanya dengan ka ….”

“Nomor 36, silakan masuk!”

Tanpa ku sadari terembus napas tanda lega karena cerocosannya terhenti. Telingaku menangkap penunggu yang lain demikian juga.

Perempuan itu bangkit dan melenggang masuk ruangan dokter. Tepat di depan pintu masuk dia berbalik. Tangannya menunjuk semua yang hadir, yang ku duga masih berupaya mencerna perkataannya. Kulihat bibirnya seolah membentuk kata ‘Semoga kalian beruntung’, tanpa suara.

Aku bergidik. Seketika tersadarkan kata-katanya sungguh ambigu sebagai doa.

Bagikan
Post a Comment