Adab Seorang Guru dalam Mengajar
Guru merupakan seorang yang mendidik, membimbing, melatih dan memberikan evaluasi terhadap muridnya, agar murid memahami ilmu yang telah ia pelajari. Ia memiliki peran penting dalam proses belajar, seperti pernyataan ulama, “Bawasannya kesuksesan dalam menuntut ilmu mencangkup tiga hal, yaitu kesungguhan murid dalam belajar, kesungguhan guru dalam mengajar, dan kesungguhan orang tua dalam mencukupi kebutuhan anaknya”. Adapun guru dianggap sebagai orang tua yang kedua setelah orang tua yang melahirkan dan merawat anak atau murid. Guru tidak dituntut untuk mentransfer ilmu yang ia miliki, namun ia membantu membimbing proses belajar untuk membentuk pengetahuan muridnya.
Siapapun bisa menjadi guru, guru tidak hanya seseorang yang mengajar di sekolah formal saja. Orang tua bisa menjadi guru sebab orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang temanpun juga bisa menjadi guru bagi teman yang lainnya. Seorang guru harus memiliki adab saat mengajari muridnya; karena adab sebagai inti dari proses pendidikan tujuan adab dalam pendidikan untuk menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan individu. Para ulama menyatakan bawasannya untuk mendahulukan adab dari pada ilmu, apalagi dalam masalah pendidikan.
Adab yang perlu diperhatikan oleh guru dalam mengajar menurut Imam Nawawi di antaranya :
1. Niat mengajar dengan ikhlas untuk memperoleh rida Allah.
Seorang guru tidak menjadikan imbalan maupu kedudukan sebagai tujuan utama dalam mengajari muridnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw. yang artinya : “Sesunggunhya amal-amal itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya sertiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya.” (H.R. Bukhari), “Barangsiapa yang keridhaan Allah swt dari ilmu yang dipunyainya, sedangkan ia tidak mengajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka diapun tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat” (H.R Abu Dawud)
2. Memiliki akhlak yang baik.
Guru seyogyanya memiliki sifat terpuji, seperti: zuhud, pemurah, dermawan, satun, sabar, warak, khusyu’, berwibawa, rendah hati, tunduk, tidak banyak bergurau; menjauhkan dirinya dari sifat dengki, riya’, sombong, dan suka meremehkan orang lain, meskipun tingkatan yang ia ajari berada di bawahnya (usia/strata sosial).
3. Jangan menolak untuk mengajari murid karena niatnya salah.
Guru memiliki kewajiban untuk meluruskan niat muridnya, jika didapati sang murid memiliki niat yang salah.
4. Saat mengajar diharapkan guru dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.
Hal ini sebagaimana ungkapan Imam Nawawi yang artinya, “Apabila tempat mengajarnya berupa Masjid atau tempat yang suci maka disarankan untuk sholat dua rokaat dahulu sebelum mengajar karena hukumnya makruh jika duduk dimasjid sebelum sholat dua rokaat.”
5. Bersikap lemah lembut saat mengajar muridnya dan menyambutnya.
Guru berbuat baik kepada murid sesuai dengan keadaannya. Sabar ketika murid melakukan kesalahan dan memaafkannya. Nabi Muhammad Saw. bersabda yang artinya, “Bersikaplah lemah-lembut kepada orang yang kamu ajari dan guru yang mengajari kamu.”
6. Mengajarinya dengan kasih sayang,
Ia menyayangi muridnya seperti halnya ia menyayangi anaknya sendiri. Guru menyukai kebaikan pada murid seperti halnya ia menyukai kebaikan untuk dirinya sendiri; begitupun ia membenci keburukan yang ada pada murid sama halnya ia membenci keburukan untuk dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw. yang artinya “Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari Muslim)
7. Fokus terhadap materi yang sedang diajarkan.
Imam Nawawi mengatakan yang artinya, “Termasuk adab seorang guru yang mestinya menjaga kedua tangannya ketika mengajar dari bermain-main dan menjaga kedua matanya dari memandang kemana-mana tanpa keperluan.” Yang dimaksud di sini guru benar-benar fokus dalam mengajar agar para murid bisa memahami materi yang dipelajari.
8. Mengetahui seberapa jauh kemampuan muridnya.
Dalam mengajar, guru perlu memperhatikan daya tangkap dan daya ingat murid hal ini perlu diperhatikan agar murid tidak kesulitan dalam memahami karena materi terlalu berat atau materi yang tidak dibutuhkan oleh murid.
9. Memeriksa siapa saja murid yang tidak hadir.
Hal ini termasuk salah satu bentuk perhatian guru kepada muridnya, Imam Nawawi mengatakan yang artinya: “ Hendaknya memeriksa dan bertanya siapa saja yang tidak hadir diantara para murid.”
10. Mendahulukan yang datang dahulu.
Hal ini bisa ditoleransi jika yang datang dahulu membolehkan, contohnya seperti jika ada tugas untuk menghafalkan hadis di depan guru (biasanya disebut dengan setoran) maka yang didahulukan adalah murid yang datang paling awal dan dilanjutkan setelahnya.
Demikianlah beberapa adab dan etika yang perlu diperhatikan oleh guru dalam mengajar. Ada tantangan tersendiri bagi seorang guru dalam melakukan pekerjaannya karena setiap manusia mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda jadi perlu kesabaran dan kesungguhan dalam mendidik, dan bentuk persoalan lainnya. Namun, menjadi seorang guru sangat diutamakan dalam Islam, Nabi Muhammad Saw. bersabda yang artinya : “Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.”
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
