Tarawih Ramadan dan Praktik Moderasi
Memasuki bulan puasa, menjadi hal yang umum bagi muslim berlomba-lomba meningkatkan ibadahnya. Salah satunya adalah melakukan amalan khusus yang hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadan saja, yaitu salat sunah tarawih. Dalam melakukan salat ini, ada kelompok yang mengamalkan 8 rakaat dan sebagian yang lainnya 20 rakaat. Perbedaan yang lumrah ini mewarnai hari-hari umat muslim di bulan suci.
Saya, sebagai orang yang tumbuh dan besar di tengah tradisi Nahdliyyin yang kental, mengikuti tarawih 20 rakaat. Namun semenjak merantau di Yogyakarta, saya memiliki keresahan, khususnya pada bulan puasa. Saya kesulitan menemukan masjid atau musola yang mengadakan tarawih 20 rakaat.
Memang ada beberapa tempat di Yogyakarta mengadakan tarawih 20 rakaat. Tapi biasanya ini ada di lingkungan-lingkungan khusus seperti di pondok pesantren. Sedangkan di area kampus jarang. Jujur, awalnya hal ini di luar ekspektasi saya. Saya menganggap kampus, terutama kampus negeri, adalah area “netral”.
Universitas negeri yang ada di kota Yogyakarta bisa diibaratkan sebagai melting pot. Tempat bertemunya berbagai manusia dengan bermacam latar belakang, budaya, hingga kepercayaan. Ya, memang ada kampus-kampus yang mahasiswa cenderung homogen, tetapi di kampus yang saya maksud tidak. Meskipun demikian, fakta ini ternyata tidak selaras dengan bayangan saya mengenai masjid kampus yang akan mengakomodasi tarawih kedua belah pihak. Pada umumnya masjid atau musala kampus mengakomodasi jamaah tarawih 8 rakaat saja.
Terlepas dari perdebatan mengenai perbedaan jumlah rakaat salat tarawih, pilihan saya untuk tarawih 20 rakaat juga berakar dari kebiasaan. Jadi, tidak lengkap rasanya jika saya hanya tarawih 8 rakaat saja. Maka, usai berjamaah Isya dan 8 rakaat tarawih di masjid kampus atau musala di sekitar tempat tinggal, saya akan melengkapi 12 rakaat tarawih lainnya ditambah 3 rakaat witir di rumah. Namun, rutinitas seperti ini ternyata tidak memberi kepuasan untuk saya.
Sampai beberapa tahun yang lalu, teman saya yang mengetahui keresahan saya menyarankan saya untuk pergi ke masjid UIN Sunan Kalijaga. Kampus yang notabenenya adalah universitas Islam ini mengakomodasi para jamaah, baik 8 maupun 20 rakaat.
Di masjid UIN Sunan Kalijaga, setiap malam selama bulan Ramadan para jamaah bersama-sama melakukan 8 rakaat salat tarawih di aula utama masjid. Lalu, jamaah yang mau menutup salat tarawihnya dengan salat witir diperkenankan mundur ke area selasar untuk mengikuti salat witir berjamaah (bisa juga sendiri-sendiri). Sementara itu, jamaah lain bisa melanjutkan tarawih hingga rakaat ke-20 dan ditutup dengan salat witir.
Pola seperti ini menjadi hal baru untuk saya. Tidak hanya perasaan puas saja yang saya dapatkan, tetapi juga rasa hangat. Saya juga belajar dari situasi ini bahwa ternyata dua kepentingan itu bisa diakomodasi dengan cara yang solutif dan menyenangkan. Hal ini tentu memberi kemaslahatan bagi banyak orang. Saya benar-benar mengapresiasi pengurus masjid karena telah berupaya sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan jamaahnya. Mereka telah mempertimbangkan kepentingan-kepentingan kedua kelompok sehingga semua orang merasa nyaman beribadah. Ini adalah win-win solution.
Sayangnya, tidak banyak yang memiliki pola yang seperti ini. Saya masih mencari-cari alternatif masjid atau musola lain yang menerapkan pola ini. Hingga sekitar satu tahun yang lalu, saya mendengar tentang Mardliyah Islamic Center. Masjid Mardliyyah ini juga mengadakan salat tarawih 20 rakaat.
Saya baru mencoba pergi ke masjid ini Ramadan tahun ini. Setelah tersentuh dengan masjid UIN, sekarang saya juga tersentuh dengan masjid Mardliyah. Masjid ini tidak hanya secara khusus mengakomodasi jamaah 20 rakaat, tetapi juga melayani jamaah 8 rakaat dengan spesial.
Moderasi
Seperti halnya di masjid UIN, seluruh jamaah melakukan 8 rakaat awal bersama-sama di ruang utama. Selanjutnya, jamaah yang mencukupkan salatnya akan menutup salat tarawihnya dengan salat witir bersama imam. Pada saat itu, jamaah 20 rakaat bisa beristirahat dan menunggu jamaah salat witir selesai. Usai jamaah salat witir selesai, jamaah 20 rakaat melanjutkan lagi salat tarawih hingga selesai dan menutupnya dengan witir.
Di kedua masjid ini, kita bisa melihat bahwa kedua kelompok mendapat ruang dengan setara. Kedua-duanya sama-sama diuntungkan dan diakomodasi kebutuhannya. Dengan adanya contoh-contoh masjid yang menerapkan pola seperti ini, saya berharap semoga semakin banyak masjid atau musala di area “netral” yang mengakomodasi kebutuhan semua jamaahnya.
Hal ini mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian yang lain adalah hal besar. Apalagi, keterbukaan ruang seperti ini mencerminkan moderasi beragama. Ini bisa menjadi langkah yang nyata untuk membangun moderasi ke tingkat yang lebih luas lagi.
Oleh karena itu, amat baik kiranya jika masjid-masjid yang bukan hanya menjadi pusat peribadatan tapi juga pendidikan perlu mengakomodasi alternatif-alternatif pemikiran. Saya membayangkan pengajian, ceramah, atau kelas-kelas keagamaan dari banyak pemikiran tetap diberi tempat di sana. Khususnya masjid-masjid di area kampus yang mana jamaahnya sudah dewasa. Idealnya, mahasiswa-mahasiswa ini sudah bisa memilih ingin menimba dan mengamalkan menu ilmu yang mana.
Penulis : Atika Silma Nabila
ig: @as.na.bila, Guru BIPA dan penulis

“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
