Bahasa Indonesia, Orang Jepang dan Akulturasi Budaya
Saya adalah pengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing. Murid pertama saya adalah dua orang Korea usia 20 tahun. Saya mulai mengajar Bahasa tercinta ini sejak tahun 2006 ke expatriate.
Banyak suka duka yang saya peroleh. Kendati demikian, saya bisa bilang banyak sukanya ketimbang dukanya. Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya mengajar orang asing ini, mengingat selama hampir 16 tahun saya belajar bersama mereka.
Menurut saya, mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing itu menyenangkan. Pasalnya, saya bisa membantu mereka berkomunikasi dengan bangsa sendiri via bahasa ibu pertiwi ini. Selain itu, saya merasa ini merupakan salah satu cara saya mencintai bangsa yang sudah merdeka selama 76 tahun ini. Usia yang cukup tua untuk menerima banyak cinta dari rakyatnya.
Tak hanya itu, mengajar bahasa kepada orang lain juga berarti memperkenalkan budaya dan kebiasaan hidup orang Indonesia. Bangsa kita memiliki nilai budaya timur yang sangat berharga. Tentu saja ini perlu diperkenalkan dan perlu diajarkan kepada orang asing agar mereka bisa berhubungan secara baik dengan pribumi.
Oke, saya mulai. Ini tentang orang Jepang.
Karakter Orang Jepang
Orang Jepang yang pertama yang saya ajar adalah seorang manajer di sebuah perusahaan logistik. Itu terjadi tahun 2010. Saya masih mengajar beliau hingga dua minggu sebelum lahiran. Betapa antusiasnya saya mengajar murid ini karena dia sangat ingin bisa menggunakan Bahasa Indonesia pada percakapan sehari-hari.
Pertemuan mengajar adalah waktu dimana ia bisa menceritakan pengalamannya mempraktekkan Bahasa Indonesia kepada orang Indonesia. Entah itu supir, pramuniaga, staf di kantor bahkan satpam kantor.
Si manajer ini sangat gembira bila bisa berbahasa Indonesia meski simple kepada orang Indonesia. Saya bisa melihat semangat yang meluap-luap saat ia menceritakan pengalaman berbahasanya kepada saya di kelas kami.
Kebetulan kelas kami adalah private, hanya ada satu murid yang saya pegang. Kondisi ini membuat murid nyaman dan tidak merasa malu. Biasanya, murid saya akan segera melaporkan apa saja yang ia lakukan ketika kelas berlangsung. Sebagai guru tentu saja saya senang sekali. Melakukan komunikasi dengan kata-kata yang kami pelajari saat belajar merupakan sesuatu yang mewah bagi saya.
Selain kesan dalam belajar saya juga memiliki penilaian tentang karakter mengenai orang Jepang. Salah satunya adalah orang Jepang sangat menghargai waktu. Muridku yang manajer ini, dia tidak pernah sekalipun terlambat. Dia selalu sudah ada di kantor saat saya datang. Dia selalu sudah datang, sedang mengerjakan tugas kantor saat saya tiba.
Saat itu kami belajat pukul 6.30 dan kantor akan mulai pukul 8. Entah dia datang jam berapa, mungkin jam 6. Rajin sekali, batin saya. Padahal, dia sering cerita kalau dia pulang larut saat bekerja. Jam 9 atau jam 11 malam. Mungkin tidak tiap hari, tapi berada pagi-pagi setelah pulang telat hari sebelumnya, wah itu luar biasa. Kadang saya berfikir, dia pakai baterai apa hingga sangat tangguh seperti itu, hehe.
Kesan yang sama terjadi tahun 2006, saat saya mengajar di sebuah lembaga kursus Bahasa Jepang. Banyak sekali orang Jepang yang belajar bahasa Indonesia. Mereka tidak pernah telat. Saat itu saya tidak mengajar orang Jepangnya, melainkan orang Korea yang belajar Bahasa Indonesia.
Tiga Poin Berkesan
Pada tahun 2016, saya ketemu lagi dengan expat Jepang setelah ketemu banyak expat dari Eropa dan Asia selain Jepang, seperti India. Saya harus mengajar bahasa Indonesia dengan jumlah jam yang sangat banyak. Singkat cerita, karna satu dan lain hal, saya harus berhubungan dengan salah satu bos murid saya yang kantornya berada di Jepang via surat elektronik.
Bosnya yang notabene orang Jepang juga ini, memberikan kesan yang bagus. Beberapa hal yang tampak bagus di mata saya adalah :
Poin pertama, cepat tanggap. Mereka cepat dalam menanggapi persoalan. Meskipun mungkin pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan kita. Tidak perlu buang waktu untuk menunggu lama sebuah keputusan.
Poin kedua, sangat menghargai. Meskipun tidak kenal dan tidak bertatap muka, mereka sangat menghargai apa yang sudah dilakukan orang lain. Ini beda banget dengan budaya kita yang saya rasakan makin hari budaya menghargai makin menipis. Tentu saja saya tidak bisa menjeneralisir semua pihak.
Poin ketiga, tidak berbelit-belit. Mereka to the point. Langsung pada sasaran. Tidak basa-basi. Iya-iya, tidak-tidak. Tak peduli saya suka atau tidak, mereka akan menyampaikan dengan tegas. Persoalannya menjadi jelas. Mereka juga menyampaikan alasan yang dapat diterima. Meski mungkin kita akan kecewa tapi yang penting kita tidak dibiarkan berharap dan persoalannya menjadi berlarut-larut.
Ketiga poin di atas bagi saya sangat penting, mengingat dalam berhubungan dengan orang lain, mungkin juga kerjaan, dalam hal ini mengajar dan mempunyai klien yang beda negara, saya harus menyelesaikan tugas saya secara kumplit dan tidak setengah-setengah. Saya tidak suka melakukan sesuatu yang tidak tuntas. Untuk itu ketiga poin tadi, bagi saya sangat berkesan dan menjadi ilmu tersendiri bagi saya selanjutnya.
Meski demikian, mungkin kesan saya boleh jadi tidak serupa dengan orang lain. Ini hanya pengalaman yang kebetulan saya rasakan secara langsung.
Akulturasi Budaya menjadi Lebih Baik
Bagi saya mengajar bahasa Indonesia selalu mempunyai arti tersendiri dan punya andil banyak dalam membangun mental saya untuk memiliki budaya kerja yang harusnya semakin maju dengan pertukaran budaya yang saya dapat setelah mengajar. Selain itu tentang pelajaran bagaimana memperlakukan orang lain dan membina hubungan baik dengan orang lain.
Ini bukan melulu tentang mengajar bahasa Indonesia bagaimana berdialog sehari-hari atau bahkan tentang awalan me, ber yang kadang bikin expat puyeng. Bukan. Ini tentang bagaimana sebetulnya akulturasi budaya itu harusnya menjadikan kita lebih baik, dari hari ke hari.
Akhir kata, terima kasih banyak untuk murid-murid expat Jepang juga expat dari negara lain yang sudah mengajarkan saya banyak hal untuk menjadi lebih baik dalam bekerja, dalam hidup bahkan dalam berkehidupan juga dalam berbudaya.
Founder Excellent in House Training, penyedia guru bahasa Inggris untuk karyawan kantor.
Instagram @ratu_masrana
