f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perdamaian

Perempuan Sebagai Penjaga Perdamaian, Pantaskah?

Konflik dan peperangan hampir terjadi di setiap negara maupun kehidupan masyarakat yang menyebabkan penderitaan dalam berbagai aspek kehidupan manusia terutama pada kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak (Ocktaviana & Kamaruzzaman, 2021). Lalu, pantaskah perempuan menjadi ikon perdamaian sedangkan perempuan menjadi kelompok yang rentan?

Setiap lapisan masyarakat pastinya menginginkan damai dalam kehidupannya. Ketentraman, keinginan akan rasa aman dan damai. Abraham Moslow merepresentasikan keinginan akan rasa aman merupkan kebutuhan dasar manusia dan harus terpenuhi. Sebagai umat manusia, perdamaian adalah tanggung jawab yang harus dijaga, dengan membangun harmonisasi di antara manusia-manusia di sekelilingnya. Perdamaian adalah wujud dari rasa kemanusiaan dan rasa empati setiap orang, kesejahteraan sosial mutlak atas kesadaran diri membangun sikap perdamaian itu sendiri.

Wanita dalam Permasalahan Gender

Berbicara soal wanita, sebetulnya kesetaraan telah terbuka lebar di semua kalangan. Setiap orang berhak ikut serta dalam menyuarakan sebuah isu perdamaian, bahkan ikut dalam aksi konflik. Namun, perempuan menjadi kelompok yang terkena dampak paling parah, sebab perempuan mengalami suatu kekerasan dan ketidakadilan akibat diskriminasi gender dan ketidaksetaraan dalam sebuah struktur sosial yang hadir sebelum konflik (Davies & True, 2015).

Sebenarnya, tidak ada gap yang memisahkan bahwa harus laki-laki yang menyuarakan isu dalam perdamaian. Ketika ia mampu menjadi agen perdamaian maka tindakannya itu akan memberi perubahan besar kepada perempuan-perempuan yang lain, sebab perempuan sering kali diidentikkan dengan sikap lemah dan tertutup; ketika ada seorang perempuan yang berani untuk bersuara dan merentas kekisruhan tindakannya akan menginspirasi puluhan ribu perempuan lainnya yang bungkam terhadap isu perdamaian. Sebagai “agent of change” perempuan tidak perlu mengkhawatirkan gagal untuk meredam konflik melalui suaranya.

Baca Juga  Mendidik Anak Itu Bukan Warisan: Proses Panjang yang Penuh Kesabaran

Tindakan wanita dalam hal perdamaian sangat penting, mengingat wanita dinilai lebih peka dan solutif dalam mengambil sebuah keputusan. Selain memiliki sifat peka dan perasa, seorang wanita juga mampu untuk menjadi juru kunci dalam mengambil solusi dalam suatu masalah. Sebab wanita cenderung melihat dari banyak sudut pandang dengan banyak pertimbangan sehingga wanita bisa menjadi penengah yang proporsional.

Ada banyak cara seorang wanita untuk turun dalam aksinya menyuarakan perdamaian. Namun yang menjadi permasalahan adalah, wanita cenderung masih dalam paradigma “lemah” dan tidak diberikan ruang dalam penyuaraan aspirasi. Sejatinya mereka tersesat dalam paradigma masyarakat yang seolah-olah wanita tidak bisa melakukan perdamaian dan harus menjalankan kodrat alamiahnya. Dalam konteks budaya jawa, ada suatu peribahasa bahwa perempuan hanya bisa “masak, manak, macak”, yang direpresentasikan bahwa kemampuan perempuan hanya memasak, melahirkan dan merias diri.

Peran Wanita, dan Perdamaian di Indonesia

Dewasa ini, tidak perlu meragukan bahwa perempuan dibungkam untuk bersuara. Pemerintah telah memberikan ruang bagi setiap perempuan untuk bisa terjun dalam sebuah aksi perdamaian. Dikutip dari laman situs Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Indonesia telah berkomitmen terhadap pelibatan perempuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik. Tak lebih dari itu, Indonesia telah memberi wadah kepada mereka dengan instrumen RAN P3AKS (Rencana Aksi Nasional Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial), dengan ini pemerintah mengharapkan perempuan dapat menjadi kunci dalam penyelesaian konflik, dan wadah ini tercatat telah menyumbang women peacekeepers atau agen penjaga perdamaian perempuan ke-7 terbedar di dunia, dan terbesar pertama di Asia Tenggara (Anonim, 2022).

Banyak perempuan-perempuan yang masih menanyakan kesetaraan, lantas sebenarnya kesetaraan itu sudah berjalan sejak lama. Namun, stigma masyarakat yang mempersempit persepsi ini. Wanita Indonesia sudah banyak berperan penting dalam menjadi agen perdamaian nasional maupun Internasioanl. Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) misalnya, menjadi garda terdepat untuk Indonesia yang menjaga kedaulatan dan perdamaian. Jadi, sama halnya polisi wanita yang menjaga keamanan. Tentara wanita juga memiliki peran dalam mempertahankan perdamaian di Indonesia, seperti memberantas konflik di daerah-daerah rawan konlfik; serta mengabdikan dirinya untuk menjaga pertahanan negara.

Baca Juga  Peran Female Influencer dalam Menjaga Kesejukan Bermedia Sosial
*

Kowad sebagai tentara wanita Indonesia mampu menjawab tantangan zaman bahwa wanita juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi agen perdamaian, dan hal ini sejatinya kewajiban bagi umat manusia baik laki-laki maupun perempuan, serta tertuang dalam pembukaan udang-undang dasar 1945, yang berbunyi dalam paragraf pertama dan ke empat; “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan….., Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Lalu apa yang perlu ditakutkan ketika wanita menjadi agen perdamaian? Penulis mengajak kaum wanita untuk tidak takut dalam menyuarakan aksi menyuarakan isu perdamaian. Semua memiliki cara dan porsi yang berbeda untuk terlibat dalam aksi perdamaian, ada yang langsung turun sebagai perajurit tempur, ada juga yang hanya memberikan aspirasi melalui tulisan dan argumentatif. Namun, paling tidak wanita mampu membekali anak untuk tidak ikut dalam perpecahan yang membuat kesengsaraan, menjadi contoh baik dalam keluarga, dan membekali sikap tolerasi supaya dapat menerima segala pro kontra dari beberapa sudut pandang manusia. Karena sejatinya, pendidikan yang paling mendasari kehidupan manusia adalah peranan perempuan.

Reference

Anonim. (2022). PEREMPUAN SEBAGAI AGEN PERDAMAIAN MAMPU TERLIBAT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK. https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2930/perempuan-sebagai-agen-perdamaian-mampu-terlibat-dalam-penyelesaian-konflik

Davies, S. E., & True, J. (2015). Reframing conflict-related sexual and gender-based violence: Bringing gender analysis back in. Security Dialogue, 46(6), 495–512. https://doi.org/10.1177/0967010615601389

Ocktaviana, S., & Kamaruzzaman, S. (2021). WOMEN , PEACE , AND SECURITY AGENDA IN ACEH , INDONESIA MENELAAH AGENDA PEREMPUAN , DAMAI DAN KEAMANAN. 23(2), 127–140. https://doi.org/10.14203/jmb.v23i2.1403

Bagikan
Comments
  • Bintaria

    Alhamdulillah, perempuan bisa juga turut melakukan berbagai aksi seperti yang dilakukan para pria dalam hal yang menjunjang kehidupannya

    April 11, 2022
Post a Comment