f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
huda

Huda Sya’rawi: Feminis yang Mengguncang Mesir di Akhir Abad 19 (2)

Kiprah Dalam Pemberdayaan Dan Pembebasan Perempuan

Menyaksikan realitas ketimpangan dan rupa-rupa diskriminasi di sekitarnya semakin menambah semangat Huda Sya’rawi untuk segera membuat titik balik pembebasan perempuan dari penjara budaya patriarki. Ia telah mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk mengupayakan terwujudnya hal itu. Ia mempelopori gerakan-gerakan feminis yang begitu masif di Mesir dan dunia Arab umumnya. Ada pendapat mengatakan bahwa ia berhasil mengawinkan feminisme barat yang terkesan liberal dengan corak feminisme pendahulunya Malak Hifni Nassef yang dipandang  masih dalam koridor aman.

Keduanya  sama-sama mendesak agar perempuan memperoleh kesempatan belajar. Hanya saja Malak Hifni Nassef menolak ide “melepas kerudung” yang Huda Sya’rawi suarakan sebagai simbol kebebasan.  Namun demikian oleh kelompok tradisionalis-konservatif Huda tetap saja dinilai sebagai feminis liberal yang telah jauh meninggalkan koridornya sebagai “wanita muslim”. 

Tidak dapat ternafikkan, interaksi yang terbilang intens dengan perempuan-perempuan dari barat juga aroma kebarat-baratan dari kolonial Inggris yang telah lama mengerami Mesir sangatlah mempengaruhi corak pemikiran feminisnya. Namun apapun yang ia terima sebagai tanggapan masyarakat atas gerakannya itu tidak sedikitpun menyurutkan langkah dan semangat Huda dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.  

***

Huda Sya’rawi begitu konsisten dengan upaya mendobrak norma sosial dunia arab yang mendiskriminasi ”sisi lemah” perempuan . Ia aktif dalam berbagai aksi sosial kemanusiaan terutama kepada kelompok rentan, perempuan dan anak. Pada tahun 1907 Huda mendirikan sebuah asosiasi untuk kesejahteraan anak. Bersama rekannya para pembela hak asasi manusia juga mendirikan sebuah klinik pelayanan kesehatan untuk perempuan dan anak-anak di tahun 1909.

Upaya tersebut berlangsung dalam rangka merespon tingginya angka kematian bayi di Mesir saat itu dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi mereka di bidang kesehatan. Satu tahun sebelumnya, yakni pada 1908 Huda berhasil meyakinkan Universitas Mesir agar mau menghibahkan aula/ruang kuliah  untuk kegiatan pendidikan bagi  perempuan. Kuliah pertama pada tahun 1909 dengan membahas tema yang sangat berani yakni terkait jilbab. Dalam forum tersebut mereka juga membandingkan kehidupan wanita Mesir dengan wanita Eropa yang terlihat sangat kontras. Perempuan-perempuan yang mengikuti perkuliahan itu sangatlah merindukan kebebasan sebagaimana saudara sesama perempuannya di Eropa.

Baca Juga  Kecia Ali; dan Seksualitas dalam Islam  

Pada 1919, partai Wafd di bawah koordinasi Ali Sya’rawi menginisiasi gerakan revolusi 1919 untuk menuntut kemerdekaan atas kolonialisme Inggris. Huda Sya’rawi juga tergabung dalam gerakan tersebut, ia memimpin pasukan asosiasi perempuan berdemonstrasi menuntut kemerdekaan. Untuk pertama kalinya perempuan-perempuan turun ke jalan berunjuk rasa mengecam kekerasan dan penindasan oleh pemerintahan Inggris terhadap rakyat Mesir.

Aksi tersebut juga untuk memprotes penangkapan para pemimpin nasional mereka yang kemudian dideportasi dan diasingkan. Saad Zagloul termasuk salah satunya. Pada kesempatan itu Huda dan suaminya, Ali Sya’rawi, terlihat begitu kompak dalam satu barisan. Di lain kesempatan, Ali Sya’rawi juga terlihat mendukung istrinya untuk mengajar di salah satu universitas di Mesir. Bagian ini juga menandai perubahan sosial yang signifikan terhadap budaya yang memandang tabu seorang perempuan bekerja di luar rumah.

***

Pada 1920, Huda dan rekan-rekan perempuan yang tergabung dalam aksi demostrasi 1919 membentuk komite sentral perempuan Wafd yang diketuai langsung olehnya. Pada Perang dunia kedua komite sentral perempuan Wafd berhasil mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat dan semakin melebarkan sayap dengan mejaring asosiasi perempuan lain. Ketika Saad Zogloul kembali ke Mesir (1921) dari pengasingan, selaku pemimpin delegasi Huda langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menemui Saad dalam rangka meyuarakan aspirasi terkait fenomena pernikahan dini (usia 13 tahun) yang marak terjadi di Mesir. Ia berharap agar batas usia minimal menikah sampai 16 tahun bagi perempuan dan 18 tahun bagi laki-laki. Tak lama setelah itu (1922) suaminya, Ali Sya’rawi, menghembuskan nafas terakhir sehingga tak bisa lagi membersamainya dalam kiprah perjuangan.

Peringatan keempat atas aksi heroik demonstrasi perempuan pertama menjadi titik balik gerakan perempuan yang lebih terorganisir. Dalam kesempatan tersebut Huda Sya’rawi meminta komite delegasi perempuan pusat membentuk asosiasi feminis independen untuk memperkuat status perempuan Mesir dan menuntut hak-hak mereka. Tercatat pada 16 Maret 1923 terbentuklah Asosiasi Wanita Mesir independen atau Egytian Feminist Union (EFU), Huda Sya’rawi pun terpilih sebagai presiden dan di antara anggotanya yaitu Saiza Nabarawi dan Nabawiyya Musa.

Baca Juga  Louise Gluck: Peraih Nobel Bidang Sastra

Di tengah jalan Asosiasi Perempuan Mesir tersebut berhadapan dengan dinamika penghianatan dari partai Wafd setelah Mesir berhasil meraih kemerdekaannya. Partai Wafd mengabaikan peran perempuan dalam perjuangan membebaskan Mesir dari belenggu kolonialisme dan membatasi hak politik hanya untuk laki-laki saja. Pengabaian atas perjuangan berdarah-darah perempuan ini menjadi tahap baru kebangkitan Asosiasi Perempuan Mesir dalam memperjuangkan hak-hak politik perempuan. Dari sisi lain konstitusi Mesir menargetkan Pendidikan, berikut pendidikan perempuan sebagai prioritas  utama pembangunan nasional. Namun hal itu belum cukup di mata Huda dan rekan-rekannya.

***

Huda Sya’rawi juga aktif menghadiri berbagai konferensi perempuan internasional seperti di Roma (1923), konferensi Paris tahun 1926, Amsterdam dan Berlin tahun 1927, di Istanbul tahun 1935. serta mendukung pembuatan buletin “Perempuan Arab”, yang berbicara atas nama Serikat Wanita Arab, dan mendirikan majalah l’Egyptienne pada tahun 1925 dan majalah Mesir pada tahun 1937. Huda juga menjadi anggota pendiri Asosiasi wanita Arab pada tahun 1935 sekaligus menjadi pemimpinnya.

Di tahun yang sama ia juga menjadi wakil ketua Komite Persatuan Wanita Internasional. Sedangkan Konferensi pertama Asosiasi/Persatuan Wanita Arab baru terlaksana pada tahun 1944 yang dihadiri oleh berbagai delegasi wanita Arab. Hasil daripada konferensi tersebut terumuskan beberapa tuntutan yang di antaranya:

  • Menuntut persamaan hak berpolitik dengan laki-laki khususnya keterlibatan dalam pemilihan umum.
  • Pembatasan hak untuk bercerai
  • Mengurangi kekuasaan wali atas perempuan
  • Membatasi poligami kecuali dengan izin pengadilan dalam kasus infertilitas atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
  • Kesempatan untuk bergabung tanpa membedakan jenis kelamin di tingkat kanak-kanak dan pendidikan dasar.

Semua perjuangan Huda Sya’rawi dalam dunia feminis harus terhenti di tahun 1947. Ia menghembuskan napas terakhirnya karena mengalami serangan jantung. Perjuangan dalam memimpin asosiasi akhirnya tergantikan oleh sosok perempuan yang bernama Ibtihâj Qaddûs asal Lebanon.

Bagikan
Post a Comment