f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Rohana Kudus

Rohana Kudus Sang Pelopor Renaisans Kaum Perempuan di Minangkabau (Part 2)

Untuk merealisasikan ambisi dan cita-cita perjuangannya, Rohana Kudus melakukan beberapa langkah strategis, di antaranya sebagai berikut (Ema Pratama, 2019: 269-272). Pertama,Rohana Kudus mendirikan media pers, yakni Koran Sunting Melayu. Pada tanggal 10 Juli 1912 terbitlah surat Kabar Sunting Melayu yang pertama, terbitk tiga kali seminggu. Pemimpin redaksinya adalah Rohana Kudus, hingga tahun 1920.

Sunting Melayu merupakan pusat kegiatan yang tidak hanya bagi kaum pemudi, namun juga diikuti oleh yang telah bersuami. Kebalikan dari sekolah formal kolonial yang pada masa itu memberi batasan umur kepada murid-muridnya. Tujuan kegiatan ini berupaya mewujudkan kebangkitan kaum perempuan Indonesia dengan cara  menyatakan pikiran para penulisnya dalam bentuk prosa dan puisi.

Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia. Rohana pun ikut andil dalam melawan penjajah dalam perang Gerilya dan membantu dapur umum saat terjadinya perang. Serta, melalui tulisan-tulisannya ia juga memainkan peran dalam mengusir penjajah. Sebagai pendiri media yang anti Belanda, kehadiran Rohana Kudus adalah ancaman.

****

Tulisan-tulisan yang diterbitkan Rohana dinilai sangat keras dalam menentang Belanda, sehingga Pemerintahan Belanda saat itu enggan memberikan dukungan kepadanya. Kedua, Rohana Kudus mendorong perempuan mandiri secara ekonomi. Tanggal 11 Februari 1911, Rohana Kudus bersama-sama dengan 60 orang perempuan termasuk istri para tokoh adat dan agama Koto Gadang menggagas pembentukan Vereeniging “Karajinan Amai Setia” di Koto Gedang.

Rohana Kudus terpilih sebagai pemimpinnya. Perkumpulan ini bertujuan untuk “Memajukan perempuan di Koto Gadang dalam berbagai aspek kehidupan dalam rangka mencapai kemuliaan seluruh bangsa” (Silfia Hanani, 2011: 5). Karajinan Amai Setia tercatat sebagai institusi pendidikan perempuan pertama di Minangkabau yang telah berhasil merubah pola pikir perempuan dan sekaligus merubah pandangan masyarakat, khususnya di Koto Gadang tentang perempuan terdidik.

Baca Juga  Ringan dan Mahalnya Mahar, Mana yang Lebih Baik?

Yang mana, jika terdidiknya perempuan akan berakibat pada sebuah persaingan bagi kaum laki-laki dan akan membuat anak perempuan bisa bekerja di luar rumah serta akan mengabaikan pekerjaan rumahnya. Mata pelajaran yang diberikan di sekolah ini berupa membaca, menulis huruf Arab, Arab Melayu dan huruf Latin tingkat dasar, berhitung, pendidikan rohani dan akhlak menurut ajaran Islam, menyulam, menganyam, menjahit, dan keterampilan lainnya yang sangat dibutuhkan perempuan saat itu (Fitriyanti, 2013: 91).

Karajinan Amai Setia selanjutnya berkembang pula menjadi usaha dagang hasil produksi perempuan. Hasil-hasil kerampilan perempuan dipasarkan oleh Karajinan Amai Setia, untuk kepentingan kesejahteraan para perempuan yang bergerak dalam Karajinan Amai Setia. Kemudian, berkembang lagi menjadi unit usaha ekonomi perempuan pertama di Minangkabau dan pusat produksi kerajinan masyarakat di Koto Gadang.

****

Materi pendidikan yang diajarkan oleh Rohana di Karajinan Amai Setia, terlihat sekali hendak memenuhi tiga aspek pendidikan perempuan, yaitu mencerdaskan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; sehingga tidak berlebihan jika Rohana merupakan disebut juga sebagai pelopor pendidikan perempuan yang modern. Di samping itu, dalam keterampilan yang diajarkan Rohana terlihat ‘makna” kultural lokal. Di mana Rohana, ingin mengembangkan aset lokal menjadi berdaya guna, untuk pemberdayaan ekonomi mandiri perempuan.

Ketiga, pentingnya pemberdayaan perempuan melalui pendidikan. Dalam meningkatkan keefektifan perjuangannya, Rohana juga mendirikan sekolah keterampilan perempuan bernama “Rohana School” di Bukittinggi pada tahun 1916. Sekolah ini berdiri dalam rangka untuk melawan orang-orang yang tidak menginginkan Kerajinan Amai Setia berkembang. Hal tersebut ditandai dengan adanya perlawanan dari berbagai pihak, karena tidak menginginkan perempuan maju dan mandiri ketika itu.

Sehingga pada tanggal 6 Mei 1942, Rohana Kudus melakukan gerakan perlawanan terhadap dewan adat kampung bersama delapan orang perempuan Koto Gadang, di mana kebijakan dewan adat itu mempersempit ruang gerak perempuan (Nurfarida Deliani, 2019: 173). Di sekolah ini selain pelajaran membaca, menulis dan berhitung, juga ada pembelajaran keterampilan membordir berbasis modern, salah satunya melalui penggunaan mesin jahit Singer.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Perjuangan Rohana Kudus telah mampu menyadarkan dan memberi inspirasi bagi banyak orang. Rohana menerima berbagai penghargaan; di antaranya yaitu: (1) “Wartawati Pertama Indonesia”  penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah Sumatera Barat pada tanggal 17 Agustus 1974. (2) “Perintis Pers Indonesia” penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah RI dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari 1987 atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.

****

(3) “Bintang Jasa Utama” penghargaan dari Pemerintah RI pada tahun 2008, dan (4) “Gelar Pahlawan Nasional” penghargaan dari Pemerintah RI pada tanggal 8 November 2019 (Ema Pratama, 2019: 273). Inilah bentuk aktualisasi pendidikan dan agama yang dilakukan oleh Rohana. Rohana meyakini betul bahwa agama tidak pernah mengekang perempuan untuk terdidik.

Malahan agama mendorong manusia untuk mempotensikan akalnya, salah satu jalan yang harus ditempuh untuk mempotensikan akal itu adalah melalui pendidikan. Landasan inilah, yang membuat Rohana tidak gentar menghadapi lawan-lawan yang tidak setuju dengan adanya pendidikan terhadap perempuan. Rohana yakin sekali, tidak ada ajaran agama yang melarang perempuan berpikir dan berpendidikan maju.

Rohana Kudus salah satu perempuan Nasionalis dari Minangkabau bukan hanya dalam bidang pendidikan, tetapi terlihat dari kiprahnya dalam mendirikan Kerajinan Amai Satia (KAS), membuat tulisan-tulisan tentang perlawanan perempuan melalui Koran Sunting Melayu, melawan penjajah dengan membantu dapur umum saat terjadinya perang gerilya. Ia juga merupakan Jurnalis dan wartawan perempuan pertama di Indonesia.

Pada zamannya, Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

****

Perjuangan yang dilakukan oleh Rohana Kudus bukanlah untuk menentang kodarat sebagai seorang perempuan, namun dengan bijak Rohana menjelaskan: “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya, yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik.

Baca Juga  Menunjukkan Eksistensi Tak Harus dari Kontes Kecantikan

Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

Jadi, dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Rohana Kudus merupakan “Sang Pelopor Renaisans Kaum Perempuan di Minangkabau Abad 20”, dengan cara memperluas akses bagi kaum perempuan, yaitu melalui pendidikan, jurnalisme dan pemberdayaan perempuan.

Daftar Bacaan:

Agustiningsih, Ema Pratama. ‘Pergerakan Perempuan di Minangkabau: Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionalisme Tahun 1912-1972’. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora. 3.2 (2019).

Conkey, Margaret W. and Janet D. Spector. ‘Archaeology and the Study of Gender’. JSTOR Archival Journal & Primary Source Collection. 7.2 (1984).

Deliani, Nurfarida, Dkk. 2019. ‘Gerakan Emansipasi Rohana Kudus dalam Memperjuangkan Kesetaraan Pendidikan Perempuan di Minangkabau’. HUMANISMA: Journal of Gender Studies. 3.2 (Juli-Desember 2019).

Fitriyanti. 2013. Roehana Koeddoes: Perempuan Menguak Dunia. Jakarta: Yayasan d’Nanti.

Hanani, Silfia. ‘Roehana Koeddoes: Perempuan Menguak Dunia’. Marwah; Jurnal Perempuan, Agama dan Jender. 10.1 (2011).

Shaleh, Isnaniah. 1978. Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Yanti, Risa Marta. ‘Lahirnya Pergerakan Perempuan Minangkabau pada Awal Abad XX’. Kafaah Jurnal. 7.2 (2017).

Bagikan
Post a Comment